
Rendy yang melihat wajah bahagia istrinya tidak tega untuk mencegah, meski kemungkinan besar putranya itu pasti tidak ingin bicara padanya.
Leina dengan cepat menuju meja dimana Bimo dan mereka semua sedang makan.
"Bimo.." Sapa Leina ketika sampai di samping meja putranya.
Bimo yang mendengar suara familiar di telinganya tidak menggubris dirinya masih tetap santai memakan makanannya.
Mirna dan suami hanya diam dengan saling pandang. Berbeda dengan Leina yang sudah merasa sedih.
Rendy merangkul bahu istrinya. "Bimo, papa tidak menyangka bertemu kalian di sini." Rendy tersenyum ramah pada mereka semua.
"Opa, Oma...sini ikut makan, Alisa sedang ulang tahun dan Alisa pesan semua makanan nya." Ucap Alisa dengan gembira, dirinya tersenyum dan berdiri menghampiri Leina yang sudah berkaca-kaca.
"Oma ayo duduk, kita makan bersama ya." Alisa menarik Leina untuk duduk di dekatnya.
Bimo hanya diam tidak perduli dengan sekitar, dirinya terlalu malas untuk membuka mulut, apalagi ada Mamanya yang membuat hidupnya sekarang menderita.
"Kakak, Oma bolehkan makan bersama kita." Tanya Alisa menatap Bimo.
Bimo yang mendengar ucapan Alisa, langsung menyudahi makanannya. "Terserah sayang, hari ini Alis yang sedang berulang tahun, jadi Alis bebas melakukan apapun." Dengan seutas senyum.
__ADS_1
Senyum yang sudah lama mereka tidak lihat, Leina terpaku dengan perhatian putranya pada Alisa, bahkan Bimo bisa tersenyum hanya dengan bicara pada Alisa.
"Sayang selamat ulang tahun ya, maaf opa dan Oma tidak tahu jika gadis kecil ini sedang ulang tahun, jadi opa dan Oma tidak membawa kado untuk Alisa." Ucap Rendy dengan mengusap kepala Alisa.
"Iya sayang, tapi besok Oma janji akan bawa Alisa belanja hadiah yang banyak agar Alisa senang..oke..!!" Ucap Leina dengan senyum yang begitu tulus.
Dirinya sadar jika dulu pernah kasar bicara kepada Alisa hingga membuat putranya marah.
"Yeah, asikk.. Alis sayang Oma." Alisa langsung mencium pipi Leina.
Mereka semua tertawa melihat tingkah Alisa, tapi tidak dengan Bimo yang hanya diam dengan wajah datar.
"Bim, maafin Mama." Ucapnya, "Mama memang salah dan Mama minta maaf." Mata Leina kembali meneteskan air mata. "Mama tahu Mama sudah keterlaluan dan Mama malah membuat kamu semakin menjauh dari mama." Leina ingin menyentuh tangan Bimo, dan Bimo langsung menarik tangannya dan berdiri.
"Mama sudah puas, melihat aku seperti ini hah..!" Bimo menatap Leina dengan tatapan penuh luka. "Mama tidak tahu betapa aku menderita karena ditinggal Alena, dan itu semua ulah Mama.." Suara nya terdengar pilu.
Leina sudah menangis tergugu di kursinya, mereka semua hanya diam merasakan kesedihan yang juga Bimo rasakan, ditinggalkan orang yang disayangi begitu terasa sangat kehilangan.
"Maafin Mama Nak, Mama memang egois.." Leina berdiri mendekati Bimo. "Apapun akan Mama lakukan asal kamu mau memaafkan Mama, dan mama akan merestui kalian." Leina berderai air mata.
Mirna merangkul tubuh Alisa dan menutup telinganya, agar tidak mendengar pertengkaran mereka.
__ADS_1
"Anda minta maaf setelah semua sudah terjadi, dan anda sekarang menyesal dengan perbuatan anda sendiri, anda egois." Bimo menatap Mamanya datar dan dingin.
"Maaf Nak." Suara Leina terdengar pilu, dirinya benar-benar menyesal.
Bimo tersenyum getir. "Bahkan anda tidak pernah berfikir sudah menyakiti Alena yang tidak punya salah, Asal anda tahu.. Anakmu lah yang memaksa dia untuk aku nikahi, anakmu yang telah merebutnya dari pria yang akan menjadi suaminya, seharusnya anda menyalahkan saya bukan dia." Bimo berkata dengan suara bergetar, menahan amarah yang menyesakkan dadanya.
Bukan hanya mereka yang mendengar keributan itu, tapi beberapa pengunjung juga menyaksikan langsung, melihat betapa hancurnya seorang pria yang telah kehilangan istrinya.
Rendy mengusap lengan istri nya yang sudah menangis tersedu-sedu, dirinya tidak bisa menyalahkan Bimo, karena memang kesalahan istrinya sangat fatal.
"Jika maaf anda bisa mengembalikan istri saya maka akan saya maafkan." Menarik napas Bimo berkata lagi. "Seharusnya anda bahagia dengan apa yang sudah anda lakukan berhasil." Menatap kedua orang tuanya dengan tatapan penuh luka matanya mulai memanas dan meneteskan air mata. "Anda berhasil memisahkan suami dengan istrinya, dan anda juga berhasil memisahkan ayah dengan calon anaknya." Suara Bimo begitu lirih, dirinya tak kuasa menahan tangis yang sejak tadi Ia tahan, wajah nya mendongak agar bisa menghalau air matanya.
Leina menatap Bimo tak percaya. "Anak.."
"Selamat anda berhasil memisahkan saya dengan istri dan calon anak saya."
Setelah mengatakan itu Bimo berlalu pergi meninggalkan mereka semua yang terkejut dengan ucapanya.
Karena mereka semua tidak ada yang tahu jika Alena pergi ketika sedang hamil.
"Pah.." Leina hampir saja limbung jika Rendy tidak sigap menangkap tubuhnya.
__ADS_1