Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part154


__ADS_3

Menantu dan mertua itu asik berbincang, hingga Rendy sama sekali tidak mereka hiraukan keberadaanya, bahkan Rendy yang mengambilkan mereka minum dan cemilan dari dapur.


Melihat dua Wanita yang sudah berbaikan membuat Rendy enggan untuk menggnggu keduanya yang saling bertukar cerita.


"Jadi kamu selama ini berada di Sukabumi." Ucap Leina tak percaya, Alena sampai di Sukabumi padahal tidak ada keluarga atau kerabat di sana.


"Iya Mah, beruntung Lena bertemu dengan Bu Weni wanita baik yang mau menolong Lena disana." Alena sedikit bercerita tentang kebaikan Weni tang tidak pernah Ia akan lupakan.


Hati Leina merasa tersentil, ternyata Alena juga sangat menderita berpisah dengan Bimo, apalagi Alena bercerita jika di hamil mudanya dirinya ingin makan martabak manis di tengah malam, tapi karena keadaanya hanya sendiri membuat nya menahan rasa ngidamnya itu.


"Nanti kita akan kesana ya jika ada waktu, Mama ingin juga ketemu dengan ibu yang sudah menolong mu itu."


"Iya Mah."


.


.


Setelah puas bercerita semua yang Alena jalani selama di Sukabumi, dan menikmati makan siang hanya bertiga saja. Karena Bimo sedang ada pertemuan dengan klien maka dirinya tidak bisa pulang untuk makan bersama.


Untuk pertama kalinya Leina merasakan masakan Alena dirinya begitu menyukai nya bahkan Leina tidak malu untuk menghabiskan satu menu yang memang menjadi makanan favorit nya.

__ADS_1


"Jadi Mas Bimo menyukai rendang karena Mama juga menyukainya." Tanya Alena yang baru tau, jika makanan favorit suaminya menurun dari sang ibu.


"Iya, sejak kecil Bimo menyukai makanan itu, kalau adik Mama menyukai sambal ati ampela, kamu tau adik Mama kan, yang menikahi gadis usianya terpaut jauh." Ucap Leina mengingat adiknya Allanaro.


"Iya mah, karena Om Allan yang menjadi saksi saat kami menikah." Ucap Alena menunduk.


Leina dan Rendy saking tatap, Rendy hanya mengangguk.


"Tidak apa sayang, Mama sudah melupakan hal itu." Leina menyentuh tangan Alena yang berada di atas meja. "Mama sekarang bahagia, melihat anak Mama juga bahagia." Leina tersenyum tulus. Alena pun ikut tersenyum.


"Sayang, apa kamu sudah berbelanja keperluan twins lahir?" Ucap Leina yang baru saja membantu Alena membereskan meja makan.


"Baguslah kalau begitu, jadi sekarang ayo kita pergi untuk membeli keperluan twins." Leina begitu bersemangat mengajak Alena berbelanja keperluan twins.


"Nah cucu-cucu Oma, ayo kita kuras isi kartu opa." Leina bicara di depan Rendy yang sedang duduk di kursi teras, dirinya mengamati supir baru Bimo, yang sepertinya belum pernah dirinya lihat.


"Memangnya kalian mau kemana?" Tanya Rendy pada kedua wanita yang berdiri di depannya.


"Twins mau minta hadiah dari opa." Leina merangkul lengan suaminya. "Mereka belum sempat belanja, jadi kesempatan opa untuk membelikan semua kebutuhan twins." Leina kembali di samping Alena mengelus perut menantunya itu.


"Dengan senang hati opa akan berikan semua kebutuhan kalian." Leina tersenyum lebar, Alena tersenyum dan mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


Mereka berjalan menuju mobil Rendy, karena Rendy yang akan mengantar keduanya.


"Nona, apa perlu saya antar?" Tanya supir batu itu yang bernama Andi.


"Tidak perlu pak, mereka kedua orang tua ku, dan kami akan pergi bersama." Ucap Alena sopan.


"Baiklah kalau begitu." Andi pun memberi hormat dan kembali lagi ke pos bersama Fandi.


"Dia supir baru?" Tanya Rendy yang sudah duduk di balik kursi kemudi.


"Iya pah, baru hari ini."


Rendy hanya mengangguk saja.


"Sayang kamu sudah ijin dengan suamimu."


"Em..ini Alena sedang mau kirim pesan mah." Alena tersenyum menatap Leina yang sekarang terlihat begitu perhatian dengan dirinya, bahkan sejak tadi Leina menempel padanya.


"Bilang kalau sudah selesai pekerjaannya suruh datang." Ucap Leina lagi, meminta Alena untuk menyuruh Bimo datang ke Mall yang sudah Ia sebutkan.


"Iya Mah.."

__ADS_1


__ADS_2