
Ren keluar dari kantor pukul tiga sore, setelah menyelesaikan pekerjaannya dia langsung pergi ke bandara, karena Juno sudah menyiapkan keperluannya termasuk pakaian dan juga tiket pesawat yang akan terbang jam setengah Empat sore.
Dan Ren tidak menemui Alexa untuk berpamitan, dirinya tidak ingin melihat wajah Alexa yang kemabli masam seperti siang tadi.
Biarlan Alexa melakukan apa yang ingin dia lakukan, dan Ren akan mengirim art dari rumah papanya untuk menemani istrinya selama dia pergi. Mungkin dengan begitu Alexa tidak akan stress memikirkan dirinya.
Kaki Alexa lemas, hatinya terasa nyeri mendengar ucapan Angel ternyata dirinya telat untuk mendatangi suaminya. Apakah Ren marah karena ucapannya tadi, oleh karena itu Ren tidak berpamitan padanya atau menemuinya hanya sebentar untuk mengucap pamit.
Alexa meneteskan air mata sungguh dirinya tidak bermaksud untuk membuat Ren kecewa dan berakhir seperti ini.
"Nyonya.." Angel segera berlari dan menahan tubuh istri bosnya yang tiba-tiba lemas.
"Nyonya tidak apa-apa." Angel yang cemas segera meminta tolong berteriak memanggil siapa saja yang berada di ruangan itu.
"Angel ada apa?" Juno yang baru keluar dari lift melihat Angel meminta tolong langsung berlari ternyata ada Alexa dengan tubuh yang lemas.
"Tolong bawa Nyonya masuk." Ucap Angel yang merasa khawatir. Juno langsung membopong istri bos-nya dan merebahkannya di sofa ruangan Ren.
"Dia kenapa?" tanya Juno pada Angel yang memberikan Alexa minum.
"Tadi Nyonya menanyakan pak Ren, sepertinya bapak tidak pamit membuat Nyonya syok seperti ini." Jelas Angel membuat Juno menatap kasihan pada Alexa.
"Kamu tahu Alexa, Ren sendiri sama seperti mu, dia melamun dan tidak berbicara apapun selain menitipkan mu padaku." Ucap Juno dalam hati.
Juno juga tidak melihat wajah Ren yang seperti biasa pria itu terlihat lesu dan kusut, bahkan selalu melamun entah apa yang dia pikirkan. Ternayata masalah dengan istrinya.
"Saya antar ke apartemen, kamu panggil rekan kerjanya, yang bisa menemani nyonya di apartemen untuk beberapa waktu. Karena itu pesan dari pak Ren." Ucap Juno menyuruh Angel, sebelum para karyawan membubarkan diri.
__ADS_1
Angel pun segera keluar menjalankan perintah asisten bos-nya.
Alexa hanya diam dengan air mata yang mengalir. "Maaf mas." Ucapnya lirih.
Seperti yang dikatakan Juno, mengantarkan Alexa ke apartemen bersama dengan Gesya, yang bersedia menemani Alexa. Gesya merasa kasihan dan juga sedih, kepala Alexa bersandar di bahu Gesya.
Keduanya sedang berada di kamar Alexa dan juga Ren, Gesya duduk disamping Alexa bersandar pada dinding ranjang. "Apa dia marah, dan tidak pamit padaku." Alexa sejak tadi mengang ponselnya, jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam, dan dia belum bisa menghubungi suaminya.
Alexa bertambah sedih dan memikirkan suaminya yang jauh darinya.
Gesya hanya diam, dengan tangan mengelus lengan Alexa. Dia tidak tahu harus bicara apa, "Jangan terlalu dipikirkan, mungkin suami kamu sedang sibuk, setelah sampi disana. Kamu tahukan dia sedang mengalami masalah yang berat, pikirkanlah dirimu dan bayimu, jika kamu seperti ini kasihan mereka dan pak Ren yang mengkhawatirkan mu." Gesya mencoba untuk membuat Alexa mengerti, agar tidak berlarut memikirkan suaminya dan menaylahkan dirinya sendiri.
.
.
Karena buru-buru Ren lupa jika ponselnya belum di charge dan hanya tergeletak di meja kecil kamar hotel. Dirinya tidak tahu jika sang Istri begitu mengkhawatirkan dirinya.
Hanya karena masalah sepele dan ingin saling dimengerti keduanya langsung hilang komunikasi, bukan disengaja melainkan keadaan yang seperti mendukung mereka untuk memperbaiki diri masing-masing.
Ren pulang ke hotel dalam keadaan lelah, ternayata permasalahanya lebih rumit dari yang dia duga. Proyek pembangunan resort miliknya mengalami kerugian yang begitu besar, ketika bahan bangunan yang mereka gunakan tidaklah sesuai standar keamanan. Dan orang yang seharusnya bertanggung jawab malah sudah melarikan diri dan itu seminggu setelah bangunan yang mereka kerjakan mengalami roboh. Beruntung tidak ada korban jiwa yang meninggal. Karena bangunan itu roboh ketika malam hari, dan Ren masih bersyukur untuk itu.
Ren merebahkan tubuhnya sebentar yang merasa lelah. Jam menunjukan hampir pukul dua belas malam dirinya baru saja tiba di hotel.
Ren dengan staf yang bekerja dibawah pimpinan mulai menyusun strategi untuk mencari investor yang mau menginvestasikan dana di proyek yang merugi itu. Dan Ren harus menanggung kerugian ratusan juta untuk para investor yang pertama. Dan mereka tidak mau tahu kesulitan apa yang Ren hadapi, yang terpenting uang mereka kembali.
Ren juga sudah melaporkan beberapa orang yang sudah kabur membawa uang untuk pembangunan proyek itu. Dan mereka berjumlah tiga orang dalam pencarian polisi.
__ADS_1
Mengingat itu Ren tiba-tiba ingat istrinya, dia mencari ponsel miliknya, yang tergeletak di meja.
"Ya tuhan, ternyata aku lupa mengisi batrenya." Ren pun bergegas mencharge ponselnya, dia tinggal sebentar untuk mencuci wajannya.
Karena lelah dan juga mengatuk Ren langsung merebahkan tubuhnya di kasur, tak lama matanya terlelap ke alam mimpi.
Pagi hari Alexa sudah bangun lebih dulu, untuk menunaikan kewajibannya, tidak lupa mendoakan suaminya agar urusannya berjalan lancar. Setelah selesai Alexa kembali melihat ponselnya, dan pesan yang dia kirim sudah centang biru, itu berarti sudah masuk dan dibaca oleh suaminya. Alexa mencoba menghubungi lagi tersambung tapi tidak diangkat.
Melihat jam, mungkin saja suaminya masih tidur karena masih jam setengah enam pagi.
Alexa keluar kamar untuk membuat sarapan, Gesya masih di dalam kamar mandi.
Ren yang baru saja keluar dari kamar mandi segera memakai pakaian kerja. Dia tidak sempat melihat ponselnya yang baru saja ada panggilan masuk, karena harus buru-buru datang ke kantor, semakin cepat dia kerjakan semakin cepat selesai segera pulang dan bertemu istrinya.
Alexa yang memasak sambil sesekali melihat ponselnya, siapa tahu suaminya menguhungi dan Alexa kembali sedih karena Ren belum memberi kabar.
Gesya keluar kamar pukul tujuh, gadis itu menghampiri Alexa yang sudah duduk tapi di meja makan, dan Gesya masih melihat wajah Alexa yang muram.
"Belum mendapat kabar." Tanya Gesya yang duduk didepan Alexa.
Alexa hanya menggeleng sebagai jawaban, tangannya mengaduk-aduk makanan yang ada dipiring tanpa disentuh.
Gesya menatap prihati. "Do'akan saja semoga urusannya cepat selesai, pasti pak Ren juga memikirkan kamu. Tapi mungkin pekerjaan yang membuatnya sibuk dan tidak sempat untuk memberi kabar." Gesya mencoba membuat Alexa berpikiran positif. Gesya tidak tega melihat Alexa apalagi dalam keadaan hamil.
Alexa terseyum, yang dikatakan Gesya benar, dirinya tidak boleh berburuk sangka, dan berpikiran negatif.
"Semoga kamu selalu dalam lindungan-Nya mas." Ucap Alexa dalam hati.
__ADS_1