
Bibir Aaron terkunci rapat sejak keluar dari restoran itu, dimana ketika Sena bertanya 'Apakah dirinya mencintainya' Dan jawabnya sudah jelas iya, tapi ketika Aaron bertanya dan ingin memperjelas Sena malah menjawab dengan hal lain, membuat Aaron kesal.
Dirinya yang berharap bahwa Sena akan memintanya untuk memperjuangkan cintanya atau berjuang bersama mempertahankan perasaan mereka, tapi ternyata Aaron tidak mendapat jawaban seperti itu.
Jadi untuk apa Sena bertanya, yang jelas-jelas dia sudah tahu jawabannya.' Bikin Kesal.
"Kenapa berhenti di sini Ar?" Tanya Sena melihat kesekeliling di mana Aaron membawanya ke pantai.
"Turunlah.." Hanya itu perkataan yang keluar dari bibir Aaron sejak hampir tiga jam perjalanan mereka.
Sena segera turun, dan pertama yang dia lihat adalah pemandangan pantai yang terlihat indah, apalagi sebentar lagi langit akan menampakan keindahan sunset.
"Ar, kau membawaku ke pantai." Sena tersenyum lebar, dirinya tidak pernah melihat keindahan laut pantai seperti ini. Dan ini adalah pertama kalinya dia akan melihat sunset.
Aaron tidak menjawab, entah mengapa rasa kesalnya yang selama tiga jam tadi kini berubah menjadi rasa bahagia melihat senyum Sena yang begitu indah membuat hatinya ikut menghangat.
Sena berlari kecil untuk mendekati sebuah ayunan yang terbuat dari batang kayu, dan ayunan itu ada sepasang.
"Ar, sini..!!" Sena melambaikan tangan memanggil Aaron yang masih diam berdiri di tempatnya.
Aaron tersenyum dan berjalan di atas pasir dimana Sena sudah menaiki sebuah ayunan kayu.
Wanita itu terus saja melebarkan senyumnya, bahkan mungkin saja Sena melaupakan tujuannya untuk apa datang kesini.
"Ar, kamu bisa pakai ayunan yang itu." Tunjuk Sena pada ayunan di sebelahnya, dan Sena masih bergerak mengayun.
Aaron menggeleng, dirinya berdiri di belakang tubuh Sena, dan menangkap ayunan yang dipakai Sena, lalu mendorongnya dengan kuat.
"Ar..aku takut, hahaha..." Sena berteriak takut tapi tertawa.
"Pegangan Sen, aku akan lebih kuat mendorongnya." Aaron berteriak dengan tawa lebar di wajahnya.
Keduanya saling tertawa, bahkan Sena sampai meminta ampun karena Aaron begitu kuat mengayunkan tubuhnya, membuatnya seperti akan terlepas dan terbang tinggi.
"Ar..sudah hentikan aku takut." Sena yang akhirnya menyerah dan Aaron menangkap kedua tali samping tubuh Sena untuk menghentikan ayunan itu.
"Kamu capek?" Tanya Sena yang mendengar napas Aaron tak beraturan.
Aaron hanya tersenyum, melihat wajah cantik Sena di bawah cahaya jingga sore hari.
"Kamu suka?" Bukan jawaban, melainkan pertanyaan Aaron untuk Sena.
Dengan semangat Sena mengangguk pasti. "Terima kasih sudah mengajak ku kesini." Sena tersenyum manis, senyum yang berhasil membuat jantung Aaron berdebar.
__ADS_1
Aaron berada di depan Sena, di mana pria itu sedikit menunduk untuk melihat wajah Sena.
"Sen.."
"Hm.." Sena menatap mata Aaron dan menyelipkan rambut nya yang terbang terkena angin.
"Apa tidak ada lagi kesempatan untuk bisa memilikimu." Suara Aaron begitu lirih dengan mata menatap Sena intens.
Tersenyum, Sena membalas tatapan mata Aaron. "Jika bisa tanpa kamu minta kesempatan, aku pasti sudah memberikan mu kesempatan Ar." Keduanya saling bertatapan.
"Tapi semua itu mustahil dan tidak akan ada, karena aku sendiri yang tidak akan memberikan kesempatan itu."
"Kenapa?" Tanya Aaron dengan menuntut. "Apa aku tidak cukup baik untuk bersanding dengan mu." Aaron berjongkok di depan Sena, di mana Sena masih duduk di atas ayunan. Aaron berpegangan pada kayu di sisi tubuh Sena.
Sena menggeleng. "Bukan Ar, aku tidak bisa menyakiti perasaan dan hati papa, karena papa adalah segalanya untukku." Sena menarik napas dalam. "Sejak kecil aku dan adik ku di besarkan oleh Papa, sejak kami di tinggalkan Mama di saat kami di lahirkan. Oleh karena itu kami sangat menyayangi papa kami, dan tidak ingin membuat papa sedih. Karena sejak kami kecil hingga sekarang berusia dua puluh dua tahun, papa rela memberikan kasih sayang nya penuh kepada kami, tanpa memikirkan kebahagiaanya sendiri." Sena menatap Aaron sendu, bahkan air matanya sudah jatuh di pipi.
"Mama meninggalkan kami ketika kami dilahirkan, papa bilang mereka mengalami kecelakaan dan Mama masih bertahan demi melahirkan kami ke dunia, dan saat kami lahir Mama pun meninggalkan kami dan papa untuk selama-lamanya."
Aaron menatap wajah Sena dengan dada berkecamuk, inikah kehidupan asli yang Sena jalani di mana dirinya tidak tahu jika Sena dari kecil tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, dan kini wanita di depannya hanya ingin melihat papanya bahagia dan tanpa memikirkan kebahagiaanya sendiri.
"Maaf kan aku Ar, maaf tidak bisa memberikan kamu kesempatan, walaupun aku ingin." Sena menangis di pundak Aaron. "Ar, mungkin sekarang sudah terlambat jika aku mengatakan sesuatu, tapi aku mohon ijinkan aku mengatakannya."
Aaron menarik kepala Sena dari bahunya, kedua ibu jarinya mengusap air mata Sena.
"Katakanlah.." Aaron menatap mata sendu Sena yang masih berlinang air mata.
"Aku mencintaimu Ar." Bibir Sena bergetar menahan tangis. "Maaf aku hanya membuat mu terluka, tapi aku tidak ingin perasaan ku selalu mengganjal di hati karena tidak bisa mengatakannya."
Bibir Aaron tertarik, di mana pria itu tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
Sudah lama dirinya ingin mendegar kata-kata yang baru saja Sena ucapkan, dan sekarang dia mendengarnya.
"Lusa aku akan menikah, dan semua sudah di persiapkan oleh papa, dan aku sudah lega bisa mengutarakan perasaanku, mekipun percuma dan hanya menyisakan luka."
Kepala Aaron menggeleng dimana dirinya tidak bisa menerima jika Sena akan menikah secepat itu.
"Ngak akan aku biarkan itu terjadi."
"Ar, percayalah kamu akan mendapat wanita yang lebih baik dari aku, kamu mengerti bagaimana melihat orang tua kita yang merawat kita dari kecil kita buat kecewa dan sedih." Sena menggeleng. "Aku tidak bisa melihat papaku mengalami hal itu."
Aaron tertawa dalam luka, luka dimana wanita yang membalas perasaanya memilih kebahagiaan sang papa dari pada dirinya sendiri.
Sena adalah wanita baik, dirinya tidak akan mendapatkan wanita sebaik Sena, yang rela menukar kebahagiaan nya demi orang lain.
__ADS_1
Sena mengusap wajahnya yang basah. Bibir nya dipaksa untuk tersenyum, melihat wajah Aaron yang kecewa membuatnya juga merasakan sakit.
"Jangan sedih, kita masih tetap bisa berteman." Sena menyentuh pipi Aaron, membuat Aaron langsung mengecup telapak tangan Sena yang masih berada di pipinya.
"Mulai sekarang kita teman, teman yang akan selalu ada jika di butuhkan, karena sepertinya sekarang aku membutuhkan teman sepertimu untuk bekerja sama."
Aaron yang merasa sedih menjadi bingung. "Kerja sama?"
"Hem.." Sena tersenyum, suaranya pun masih terdengar serak. "Bantu aku mengklarifikasi Vidio itu."
Aaron hanya menyunggingkan senyum mendengar permintaan Sena. "Apa imbalannya..?"
Keduanya mencoba untuk berlapang dada, dan membangun suasana hangat. "Sebagai teman tidak ada kata imbalan atau pamrih."
"Itu mereka, tapi tidak dengan aku." Aaron sedikit menegakkan tubuhnya, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Sena.
"Apa? kamu pamrih Ar." Sena tertawa namun hanya sebentar karena Aaron dengan cepat menarik tengkuknya.
Ciuman di bawah sinar sunset sore hari yang begitu indah membuat dua insan yang saling mencintai memadu kasih, dimana mungkin untuk yang terakhir kali mereka melakukan hal seperti ini.
Aaron mellumat bibir Sena lembut, mengapsen setiap penduduk yang ada di dalamnya, dimana perasaanya menggebu-gebu antara sakit dan harus ikhlas merelakan. Aaron tidak bisa merelakan begitu saja.
Sena membalas pangutan bibir Aaron yang begitu menuntut, dirinya terbuai dalam permainan lidah Aaron, keduanya saling memejamkan mata, hingga hawa panas menjalar di sekujur tubuh keduanya.
"Emph.." Sena menjerit dalam lumattan bibir Aaron, dimana tubuhnya di angkat dan duduk di atas pangkuan pria itu, membaut Aaron leluasa untuk mengeksplor cumbuannya.
"Ar.." Sena meleguh ketika ciuman Aaron menyusuri lehernya dan suara kecupan pria itu terdengar nyaring bersahutan dengan ombak pantai.
"Ar.. hentikan." Sena menarik kepala Aaron yang sudah berada di tulang selaka nya.
"Tidak seperti ini." Sena menggeleng.
"Maaf." Aaron memeluk tubuh Sena yang berada di atas pangkuan nya.
Sena mengangguk, "Andai aku yang mendapatkan mu, pasti aku adalah wanita beruntung itu." Ucap Sena dengan mengelus kepala Aaron, yang masih memeluknya.
"Bukan kamu yang beruntung, tapi aku yang beruntung mendapatkan kamu." Aaron melepaskan pelukannya dan mencium kening Sena.
"Semoga kamu selalu bahagia."
.
.
__ADS_1
.