Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Pelajaran


__ADS_3

Vidio pertengkaran dikantin pun viral karena seseorang telah mengunggah digrup. Meskipun grup kantor tapi ribuan orang yang bekerja di kantor Bagaskara.


Ren yang sedang bertemu dengan kliennya, entah mengapa perasaanya tiba-tiba gusar. Dan dia dengan segera menyelesaikan pertemuan dengan kliennya agar bisa langsung menemui Alexa.


Bukan hal sepele, setiap dirinya merasa gusar pikiran Ren hanya tertuju pada Alexa.


Drt..Drt..Drt..


Ren yang ingin beranjak keluar restoran setelah menyelesaikan metting diruang privat berhenti mendengar bunyi ponselnya.


"Halo.."


.


.


Alexa segera di larikan masuk ke ruang UGD ketika baru sampai dirumah sakit. Gesya dan Mita nampak cemas dan khawatir dengan kondisi Alexa, apalagi wanita itu terus saja mengeluh sakit sambil menangis.


"Mbak gimana ini." Wajah Gesya nampak pucat dirinya takut jika terjadi sesuatu pada sahabat dan kedua janin Alexa.


"Kita berdoa, semoga Alexa dan bayinya tidak apa-apa." Mita dan Gesya saling berpegangan untuk mencoba tetap tenang.


Diaz mengurus administrasi Alexa, dia juga sudah menghubungi nomor Birendra tapi tidak di angkat.


"Angkat dong pak." Diaz yang tidak bisa menguhungi, segera menyusul Gesya dan Mita.


"Gimana kak, bisa dihubungi." Tanya Gesya tanpa sadar dengan memanggil Diaz kak, dan Mita yang mendengar memincingkan matanya.


Diaz menggeleng. "Mungkin masih sibuk." Diaz melihat wajah Gesya yang panik langsung memeluk memenangkan kekasihnya, tanpa mereka sadari ada orang yang sedang menyilangkan tangannya menatap Diaz dan Gesya yang berpelukan. "Tenanglah, tidak akan terjadi sesuatu pada Alexa dan bayinya." Diaz mengusap lengan Gesya lembut.


Ehem


Mita berdehem keras, membuat dua orang yang sedang pelukan tersadar dan langsung menjauh satu sama lain.


"Aku kira cupu, ternayata kalian suhu yang pintar bersandiwara." Ucap Mita dengan ketus, wajahnya dibuat sesinis mungkin.


Gesya melirik Diaz yang hanya diam dan terlihat santai, berbeda dengan Gesya yang kepergok.


"Mbak, tadi tidak_"

__ADS_1


"Seperti yang aku lihat." Mita menaikkan satu alisnya. "Sudah biasa alasan seperti itu." Mita duduk di kursi tunggu, tanpa menoleh pada Gesya, dirinya pura-pura marah.


Gesya ikut duduk di samping Mita, berniat menjelaskan."Bu-bukan begitu mbak, tapi_"


"Untuk apa kamu memberi penjelasan, menangnya aku istri Diaz yang sedang menangkap basah sedang bersama selingkuhan." Ucap Mita ketus, tapi menahan tawa melihat wajah Gesya yang tegang.


Diaz hanya geleng kepala, dirinya duduk sedikit menjauh dari kedua wanita itu, dan mencoba kembali menghubungi nomor Birendra.


"Mbak.." Wajah Gesya pias.


"Kenapa? kamu takut jika hubungan kalian aku ketahui." Mita menatap Gesya intens, membuat Gesya hanya menunduk.


"Kalau begitu, keluarkan pajak jadian kalian pada kami." Mita tersenyum sinis. Namun malah membuat Gesya menatap Mita tak percaya.


"Aku tunggu, PJ-nya. kalau tidak aku sebarkan hub_"


"Iya mbak, tapi janji jangan di sabar." Potong Gesya dengan cepat, membuat Mita tersenyum lebar.


"Nah gitu batu asik."


.


.


.


"Bos." Juno langsung menghampiri bosnya yang terlihat jelas menahan amarah.


Waktu selesai metting, Juno menghubungi Ren, dan mengirimkan video yang tersebar di grub kantor. Dan Ren pun segera menuju kantor meskipun sangat menghawatirkan Alexa, tapi dia percaya jika orang yang membawa Alexa akan melakukan hal yang terbaik. Dan Ren memutuskan untuk memberi pelajaran pada ketiga wanita yang sudah menghina istrinya, apalagi sampai membuat istrinya di larikan ke rumah sakit baginya tidak ada kata maaf lagi.


"Semua sudah berkumpul di Aula gedung." Ucap dengan menunduk, dirinya juga merasa takut melihat wajah dingin bos-nya yang begitu menusuk.


"Bagus." Hanya satu kata, membuat Juno mengaguk.


Ren menyuruh Juno untuk mengumpulkan semua keryawan Bagaskara tanpa terkecuali, dan itu pun di lakukan ketika masih jam makan siang, membuat semua orang yang masih menikamati aktifitas istirahatnya menjadi kalang kabut karena mendegar pengumuman urgent.


Bahkan banyak yang meninggalkan makan mereka, dan lebih memilih ikut berkumpul di aula gedung.


Brak

__ADS_1


Tanpa rasa hormat Ren membuka pintu aula dengan kasar, dan menimbulkan suara bising, membuat mereka semua seketika menutup mulut rapat yang sebelumnya ramai seperti pasar.


"Sepertinya pak Ren marah besar? kira-kira ada apa ya." ucap salah satu karyawan yang melihat wajah Ren begitu dingin.


Semua yang melihat wajah Ren hanya menerka-nerka. Apa yang sebenarnya terjadi. Mereka tidak tahu jika yang membuat murka bos mereka adalah Vidio Istrinya yang di aniaya.


"Selamat siang, dan tanpa basa basi saya hanya ingin kalian semua tahu, jika di sini banyak yang menghina dan menghujat saudara Alexa bahkan diantara kalian melakukan kekerasan kepada saudara Alexa." Ren menatap tajam tiga Wanita yang berdiri di barisan paling depan dan di sebelah pojok. Membuat Vita dan kedua temannya saling tatap bingung.


Ren menatap Juno dengan isyarat dan Juno segera melakukan sesuatu yang sudah dia siapkan atas perintah atasnya.


Sebuah lampu proyektor menyorot layar besar di belakang Ren berdiri, sebuah Vidio diputar di layar besar itu, membuat semua mata terbelalak tak percaya, bahkan ketiga wanita yang menjadi tersangka melotot tak percaya dengan menutup mulutnya.


Jono memutar video pernikahan Ren dengan Alexa beberapa bulan ke belakang, di layar itu terlihat keluarga Bagaskara semua berkumpul, meskipun acara sederhana namun suara yang Ren ucapkan ketika ijab kabul begitu jelas.


"Itu_" Tenggorokan Vita tercekat melihat cuplikan pernikahan di layar besar itu, apalagi setelah itu diputar vidio ketika dirinya menghina Alexa bahkan melakukan kekerasan.


"Vit, ini semua gara-gara loe, gue gak mau ikut menjadi tersangka." Ucap rekan Vita yang sangat sudah ketakutan, rasanya mereka ingin sekali mengihilang dari tempatnya saat ini juga, apalagi tatapan bosnya sejak tadi sangat tajam kepada mereka.


Karyawan yang berada di dalam aula hanya diam menunduk, mereka yang awalnya ikut menggosip kini hanya bisa menutup mulut rapat-rapat dan merasa bersalah.


"Sekarang katakan apa yang akan kalian katakan pada istri saya? wanita jal*ng, hamil di luar nikah, wanita pemuas napsuu?" Suara Ren begitu dingin membuat mereka semua tidak ada yang berani mengangkat kepala, kecuali karyawan di lantai tujuh dan sepuluh yang memang sudah tahu siapa Alexa.


"Saya berikan kalian kesempatan untuk menghujat istri saya, sebelum saya yang akan membuat kalian diam untuk selamanya." Ren menatap mereka satu persatu, yang hanya bisa menundukkan kepalanya.


Vita dan dua rekannya sudah tidak bisa lagi berpijak tulang kaki mereka tiba-tiba lemas.


"Maaf pak."Mereka bertiga menunduk dengan perasaan bersalah yang mendalam, dan pasti karir mereka akan hancur setelah ini, karena kesalahan fatal yang mereka lakukan.


"Juno pecat mereka secara tidak hormat, dan backlis nama mereka di perusahaan mana pun." Ren menatap tajam ketiga wanita yang sudah bersimpuh di lantai, mereka menjadi tontonan semua karyawan.


"Ini pelajaran untuk kalian jika hal ini terulang lagi, maka saya yang akan memecat kalian tanpa rasa hormat." Setelah mengatakan itu, Ren keluar dari aula dengan langkah lebarnya, wajahnya yang dingin tak tersentuh lebih mendominasi.


'Sayang, bertahanlah.' Ren meneteskan air mata setelah sampai di luar. Melihat video Alexa yang jatuh dan meringis kesakitan membuat jantungnya seperti diremas, sejak tadi dirinya memendam rasa yang begitu membuatnya sesak dan sulit untuk bernapas karena Alexa.


.


.


Huhuhu..aku sedih mas Ren 😭

__ADS_1


__ADS_2