
"Bii aku mau bicara." Aldrick mencekal tangan Sena ketika gadis itu akan melintas di depannya.
"Bicara saja, tidak perlu menyentuh tangan ku." Sena menatap tangan Aldrick yang mencekal tangannya.
"Oh..maaf.." Aldrick segera melepaskan nya. "Kita bicara di belakang." Ucap Aldrick meminta Sena untuk pergi ke taman belakang.
Tanpa menjawab Sena berjalan lebih dulu, dirinya selalu kesal setiap kali dekat dengan Aldrick yang notabennya adalah Om nya sendiri, tapi pria itu sejak kecil tidak mau di panggil Om, melainkan Abang, Sena yang masih kecil itu pun hanya menurut.
"Apa?" Tanya Sena ketus, ketika dirinya sudah duduk di kursi panjang di taman belakang rumahnya.
Aldrick menatap wajah Sena lekat, jantungnya berdebar dan perasaanya pun tak menentu.
"Ck. sebaiknya pikirkan dulu sebelum mengajakku." Sena kembali berdiri dan ingin pergi, tapi dengan cepat Aldrick memeluk tubuh Sena dari belakang.
"Bang, lepas..!!" Sena mengeliat, memberontak untuk dilepaskan. "Kamu gila..!!" Sena memekik ketika tangan Aldrick semakin erat memeluknya.
"Ya aku gila, Bii..aku gila karena menyukai keponakanku sendiri." Suara Aldrick terdengar parau. Anggap saja dirinya memang gila, seperti sudah tidak ada wanita lain saja yang bisa dirinya sukai.
"Gila kamu..!! lepas Bang.." Sena masih terus berteriak dan memberontak, hingga ketiga orang yang berada di dalam rumah pun mendengar dan melihat kejadian di taman itu dari balik pintu kaca.
"No..jujur aku menyukaimu, aku mencintaimu Bii." Wajah Aldrick tengelam di ceruk leher Sena, menghirup aroma wangi dari tubuh Sena.
"Lepas Bang..!! Kamu sudah gila, kita saudara tidak mungkin memiliki hubungan." Sena terus saja berontak hingga membuat tenaganya habis, karena tubuh kekar Aldrick tak sebanding dengan tubuh mungilnya.
"Kenapa tidak jika kita saling mencintai." Aldrick masih saja mencoba untuk meluluhkan hati Sena.
"Sayang nya aku tidak mencintaimu."
Deg
Hati Aldrick mencolos terasa nyeri.
"Seharusnya kamu tau itu, hal mustahil yang akan kamu dapatkan." Sena berucap pelan namun penuh ketegasan.
Bukan hanya bualan di bibir, tapi kenyataanya dirinya memang tidak memiliki perasaan apapun untuk saudaranya itu.
"Belum, kamu belum mencobanya Bii, pasti lambat laun kamu akan menerima dan mencintaiku."
"Ck. jangan mengharapkan hal yang tidak mungkin bang, karena itu tidak akan merubah apapun dan tidak akan pernah terjadi."
__ADS_1
Aldrick langsung membalikkan tubuh Sena, Keduanya kini saling tatap.
Mata tajam berwarna abu-abu itu menatap lekat bola mata coklat Sena.
"Kamu pasti bohong Bii, kamu hanya menutupi perasaan kamu untuk tidak membuat keluarga kecewa." Aldrick bicara dengan wajah tak percaya. "Kamu tidak usah khawatir, orang tua kita pasti setuju." Ucapnya yang begitu yakin.
"Heh.." Sena menatap wajah tampan Aldrick dengan remeh. "Sebaiknya Abang jangan berharap kata lain dari bibirku, selain kata 'Aku tidak mencintai mu, dan tidak akan pernah menjadikan mu milik ku'." Sena pergi dari hadapan Aldrick dengan membawa perasaan kecewa, kecewa jika pria yang sudah Ia anggap seperti Abang sendiri justru memiliki perasaan kepadanya. Sungguh untuk memikirkan saja Sena tidak pernah.
Aldrick menatap punggung Sena dengan nanar, hatinya terasa sakit mendengar perkataan Sena yang jelas-jelas sudah menolaknya.
"Jika hati bisa memilih, aku lebih baik tidak memiliki perasaan ini." Gumanaya dengan dada yang begitu sesak.
Di saat dirinya menyukai seorang wanita, kenapa harus Sena keponakan nya, dan kenapa juga harus Sena yang menjadi keponakanya dan bukan orang lain saja.
Sejak dirinya memasuki sekolah menengah atas, Aldrick sudah mengagumi kecantikan Sena, apalagi gadis itu terlihat cuek dan tidak suka di dekati oleh pria, Aldrick yang jahil pun selalu menggoda dan meledek Sena.
Suatu kejadian yang tak mungkin Aldrick lupa, kejadian yang membekas hingga sekarang, dan menumbuhkan rasa cinta di hatinya.
Dimana ketika siang hari dirinya yang tak sengaja melihat Sena duduk gelisah di halte dan tidak ada orang lain di sekitar sana.
Sena yang duduk gelisah mencoba untuk memikirkan bagaimana dirinya pulang dengan keadaanya yang sekarang.
..."Bii kamu kenapa?" Tanya seorang pria berpakaian putih abu-abu dengan jaket yang menutupi atasnya....
"Ayo aku antar pulang." Aldrick mengulurkan tangannya, tapi Sena tak segera meraihnya.
"Aku.." Sena menatap wajah Aldrick yang menunggu Jawabnya. "Abang aku lagi dapet." Ucapnya dengan wajah menahan malu.
Aldrick yang mengerti ucapan Sena pun, langsung melepas jaketnya. "Berdiri, dan pakai ini." Aldrick mengaitkan jaketnya di panggang Sena, agar menutupi rok belakang Sena yang mungkin tembus.
"Lain kali bawa ganti Bii, biar kamu gak seperti ini, untung aja ketemu aku." Ucap Aldrick panjang.
"Ini masa pertama aku bang, jadi Sena gak tau." Ucapnya polos.
Dan dari situlah seorang Aldrick Nathan Adhitama menaruh hati pada gadi cantik yang sayangnya keponakannya sendiri.
.
.
__ADS_1
"Loh..Al, kamu mau kemana?" Tanya Bimo yang melihat Aldrick berjalan keluar dari rumahnya.
"Em..pulang Om, aku permisi." Tanpa mendekat Aldrick segera keluar dari rumah itu.
"Pah, apa dia baik-baik saja." Tanya Ren yang melihat wajah saudaranya itu terlihat sedih.
"Dia seorang pemimpin Aditama Grub pasti akan baik-baik saja." Ucap Bimo yang melihat punggung Aldrick semakin tak terlihat.
Ren hanya kasihan melihat wajah sedih dan putus asa Aldrick, padahal selama ini yang mereka lihat wajah dingin dan berwibawa dari pria itu. Dan kini wajah Aldrick tak bisa di sembunyikan dengan rasa kesedihan yang mungkin juga rasa sakit hatinya karena di tolak oleh wanita yang di cintai nya.
Sena menatap jendela kaca besar di kamarnya yang bisa melihat keadaan di luar dari atas.
Sena melihat Aldrick yang mengusap wajahnya kasar sebelum pria itu masuk ke dalam mobil.
"Abang adalah pria baik, tapi Abang salah menempatkan rasa cinta Abang, seharusnya bukan Sena lah orangnya." Sena menatap sendu mobil hitam yang perlahan keluar dari perkarangan rumahnya.
Kenapa juga harus dirinya yang menjadi cinta pertama Aldrick, dan kenapa juga mereka harus terikat tali persaudaraan.
Dan sekarang dirinyalah yang menjadikan pria itu patah hati untuk pertama kali, Sena juga tidak memiliki perasaan apapun pada Aldrick dan itu semua juga sudah menegaskan bahwa keduanya tidak akan bisa bersama.
Tring
Ponselnya berbunyi tanda pesan masuk.
"Sen-sen sayangnya aku, lagi apa..?"
Pesan dari nomor baru di ikuti tanda hati di belakangan nya, membuat Sena mengerutkan keningnya bingung.
Tring
"Jangan lupa sikat gigi sebelum tidur, semoga mimpi indah, dan jangan lupa mimpikan Aku ya.."
Pesan masuk lagi di ikuti emot cium.
"Ck. pria gila sialan..!" Sena yang baru ingat nama panggilan Sen-sen hanya Aaron sendiri yang memanggilnya membuat nya mengumpat kesal, tapi juga sedikit senyum terbit dari sudut bibirnya.
.
.
__ADS_1
Bang Ar, halalin adek dong 🤧