
Sena keluar dan lift, tepatnya di lantai dua, di mana keluarganya besar nya sudah menunggu untuk sarapan pagi. Padahal masih pukul setengah tujuh pagi tapi Sena sudah rapi dengan penampilannya, biasanya jika pengantin baru pasti keluar kamar akan lama dan bisa saja mereka menunggu hingga jamuran.
"Pagi semua.." Sena menatap semua anggota barunya di sana ada kedua mertua dan kakek mertua, dan keluarga Bagaskara juga sudah hadir, tapi Ren dan Aaron yang belum hadir.
"Pagi sayang.." Arin berdiri dan menyambut menantunya hangat, mencium pipi Sena setelah Sena mencium punggung tangannya.
"Di mana Ar?" Tanya Kakek Lewis yang melihat cucu menantunya datang sendiri.
"Em.. Tadi Ar baru bangun kek, aku keluar lebih dulu dan harus menemui pelayan hotel karena peralatan mandi kamar kami habis semua." Ucap Sena jujur. Di mana malah membuat semua orang mengernyitkan keningnya.
Tidak mungkin kan pelayan hotel lupa menyiapkan segala sesuatunya di kamar pengantin VVIP itu.
"Mana mungkin sayang mereka lupa menyiapkan nya." Tanya Bimo dengan heran, karena hotel ini adalah hotel bintang lima miliknya, pasti para keryawan sudah menyiapkan dengan sangat baik.
"Sena juga tidak tahu Pah, kenapa semua bobot sabun dan shampo di kamar mandi habis." Sena mengangkat kedua bahunya.
Bimo saling pandang dengan besan dan kakek Lewis.
"Apa Aaron sudah melakukan sesuatu sama kamu tadi malam?" Tanya kakek Lewis berbisik, karena Sena duduk di samping kakak Lewis.
Sena hanya diam dan mencerna ucapan kakek. " Tidak, Sena langsung tidur tadi malam karena capek." Ucap Sena tanpa tahu maksud sang kakek.
Semua orang saling pandang dan detik berikutnya mereka semua tertawa.
__ADS_1
"Jadi pria tengil itu semalaman begadang di dalam kamar mandi." Arthur tertawa terbahak-bahak di mana membayangkan tangan Aaron yang bekerja keras semalaman sampai bisa menghabiskan peralatan mandi.
Bimo hanya geleng kepala, dirinya merasa heran bisa-bisa nya bermain solo karir di malam pertama, padahal dulu dirinya juga pernah.
Kalau sekarang jangan tanya ya, karena otor juga tidak tahu..??
Sena menatap papa mertuanya heran, dirinya tidak tahu apa yang di maksud ucapan papa mertuanya.
"Biarkan saja, mungkin dia masih melanjutkan aktifitas nya seperti tadi malam." Kakek Lewis yang masih sedikit menyisakan tawa, memberikan piring nya kepada menantunya yaitu Arin, agar mengisi piring makannya.
"Biar Sena saja mah." Sena berdiri dan mengambil alih piring dari tangan Arin.
"Anak Mama memang baik." Arin mengelus kepala Sena, semua orang terharu melihat kasih sayang Arin kepada Sena terutama Bimo.
Tring
Pintu lift terbuka, di sana keluar dua orang pria yang tidak sengaja bertemu di lantai yang sama, siapa lagi jika bukan pengantin baru dengan adik iparnya.
Aaron lebih dulu berjalan dengan Ren mengekori di belakangnya.
Ketika membuka pintu kaca, semua anggota keluarga menatap ke arahnya dengan tatapan aneh.
"Kenapa kalian melihatku begitu." Aaron menatap orang-orang yang menurutnya aneh.
__ADS_1
Apalagi wajah istrinya terlihat biasa saja.
"Sayang, sepertinya mereka tidak menyukaiku." Aaron langsung memeluk pinggang sena posesif ketika melihat tatapan kakek dan papanya yang menyebalkan.
"Ar, lepas malu." Sena menepis tangan Aaron yang berada di pinggangnya.
Padahal Aaron melakukan itu hanya untuk mengurangi rasa malunya, dirinya yakin jika Sena sudah menceritakan masalah sabun di dalam kamar mandi, melihat wajah Kakek dan papanya saja pasti sudah ketebak.
"Aku lebih malu sayang, disini ada papa, Opa dan nenek kamu." Bisik Aaron dengan wajah tersenyum kikuk. "Apa kamu bicara masalah sabun mandi tadi disini." Bisik Aaron lagi, yang masih memeluk tubuh Sena dari belakang, pria itu sama sekali tidak risih ataupun malu, karena mereka sudah halal dan sah, jadi Aaron sah-sah saja jika beradegan mesra dengan sang istri.
"Ar, apa kamu tidak malu pada kami." Arin menatap tajam putranya, dirinya saja merasa malu melihat kelakuan putranya di depan besan.
"Biarkan saja, mungkin tadi malam dia tidak dapat jatah." Ucap Rendy yang hanya tersenyum melihat keposesifan Aaron tidak tahu tempat.
Aaron hanya menatap mereka sekilas, lalu arah matanya kembali menatap wajah Sena dari samping untuk meminta jawaban.
"Memangnya kenapa, ini hotel bintang lima paling mewah milik papa, jadi aku harus komplain pada karyawan disini, karena mereka melupakan hal penting di kamar VVIP kita." Sena bicara panjang lebar.
Aaron menaruh keningnya di bahu Sena, dirinya menarik napas dalam dan harus mempersiapkan muka tebal di depan para orang tua.
"Apa?" Tanya Arthur yang melihat senyum aneh Aaron.
"Tidak aku lapar dan ingin makan." Aaron langsung mengambil piring yang Sena pegang dan segera memakan nya untuk menutupi rasa malunya, karena aib nya dimalam pertama di bongkar oleh sang istri.
__ADS_1
'Malam pertama yang apes.' Aaron menangis dalam batin.