
Bimo segera membersihkan diri setelah memesan tiket pesawat untuk kembali ke Jakarta.
Beruntung jika hari ini adalah pekerjaan terakhirnya di kota S, niatnya ingin pulang besok setelah beristirahat.
.
.
"Kamu mau kemana Len?" Tanya Mirna yang melihat Alena keluar di jam sembilan malam.
"Titip Alisa mbak, Alena mau cari pinjaman uang."
"Tapi pinjam kemana malam-malam begini Len, bahaya." Ucap Fandi yang juga masih ada disana.
"Di mana pun Om, asal bisa mendapatkan uang untuk biaya Alisa." Alena keluar tanpa mendengar panggilan Mirna, dirinya juga tidak tahu harus kemana, namun tujuannya hanya satu.
"Semoga sudah pulang."
Alena berdiri didepan pintu apartemen Bimo, tangannya menekan bel apartemen. Padahal dirinya tahu password nya, namun karena kejadian waktu itu Alena tidak lagi datang ke apartemen Bimo.
Alena cukup lama menunggu, namun tak kunjung pintu di buka.
"Jadi dia belum pulang." Alena mendesah lelah. Harapan satu-satunya adalah Bimo tapi pria itu sedang berada diluar kota dan belum pulang.
Duduk di lantai bersandar pada dinding Alena lelah hingga tanpa sadar tertidur.
.
__ADS_1
.
Bimo sampai di Jakarta pukul Dua belas malam, dirinya langsung menuju rumah sakit dimana Alisa dirawat. Tidak perduli tubuhnya yang lelah Bimo tetap mendatangi kamar rawat Alisa.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Bimo pada Mirna yang berdiri dibelakangnya.
"Kata dokter harus segera dioperasi jika ingin Alisa kembali berjalan normal." Ucap Mirna dengan sedih. Fandi memeluk istrinya.
Bimo menghela napas dalam, kenapa begitu malang nasib gadis kecil seperti Alisa.
"Alis..ini kak Bimo?" Bimo mengelus kepala Alisa yang terdapat perban. "Kakak bawakan Alisa mainan, Alis tidak mau bangun?" Menatap gadis kecil tidak berdaya membuat Bimo merasa sesak.
"Dimana Alena?" Tanya Bimo yang tidak melihat Alena.
Mirna dan suami saling tatap, mereka juga tidak tahu kemana Alena pergi, bahkan sampai tengah malam begini belum juga kembali dan ponselnya tidak diangkat.
"Tadi dia bilang ingin keluar mencari pinjaman, tapi sampai sekarang belum kembali." Ucap suami Mirna.
"Alena bilang, nomor Diki tidak bisa dihubungi, dan keluarganya juga sedang berada diluar kota."
Bimo mengepalkan tangan nya kuat, sudah dirinya duga pasti pria itu sedang bersama selingkuhannya.
"Kalian jaga Alisa, besok pagi Alisa sudah akan menjalani operasi, semua biaya sudah saya lunasi sampai Alisa sembuh." Ucap Bimo berdiri mencium kening Alisa sebelum pergi. "Kabari saya apapun yang terjadi, soal Alena biar saya yang mencari." Bimo pergi setelah mendapat anggukan dari kedua suami istri itu.
Bimo memang sudah menemui dokter yang menangani Alisa meminta dokter itu untuk segera melalukan operasi, dan semua biaya perawatan Alisa sudah Bimo lunasi.
"Dia pria baik, lebih baik dari Diki." Ucap Mirna yang melihat Bimo lebih bertanggung jawab pada Alena dan Alisa, dari pada Diki yang hanya terkadang saja menunjukkan perhatiannya.
__ADS_1
"Jika sudah mencintai maka apapun akan dia lakukan." Keduanya hanya bisa berdoa yang terbaik untuk Alena dan Alisa.
.
.
Bimo sampai di lobby apartemen nya pukul dua dini hari setelah sempat sebentar mencari Alena namun tak juga ketemu.
Keluar dari pintu lift bisa dirinya lihat jika ada seseorang yang sedang menunggunya hingga tertidur.
"Ck. aku mencari mu tapi kamu malah disini." Bimo berjongkok untuk melihat wajah lelah Alena.
Dirinya membuka pintu apartemen nya sebelum membawa Alena masuk bersamanya.
Merebahkan Alena di ranjang tempat tidurnya, Bimo menuju kamar mandi hanya untuk membersihkan wajah dan mengganti pakaian.
"Kenapa kamu sekarang terlihat kurus." Jari Bimo menyentuh pipi Alena yang nampak sedikit tirus.
Cup
"Tidur yang nyenyak, esok kebahagiaan akan menyambutmu." Bimo mencium kening Alena, tanpa melewatkan memberikan kecupan dibibir yang sudah menjadi candunya.
Memejamkan mata di samping Alena, membawa gadis nya dalam pelukannya, lelah nya sudah hilang berganti rasa bahagia bisa kembali memeluk gadis yang dicintainya. Malam ini tidurnya akan sangat nyenyak.
.
.
__ADS_1
.
Gak jadi libur..🤣 Tinggalkan jejak kalian...