Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Tamu tak diundang


__ADS_3

Weekend telah berlalu semua sudah kembali pada aktivitas masing-masing di mana Yuda yang sudah kembali ke Sukabumi. Dan kini rumah Bimo hanya tinggal kedua cucunya yang selalu membuat lelahnya hilang setelah beraktivitas seharian.


Ren dan Alexa juga melakukan aktifitas biasa masuk kantor bersama.


Sebenarnya Ren sudah tidak mengijinkan Alexa untuk bekerja, namun Istrinya itu tetap kekeh ingin bekerja karena jika tidak dia akan bosan dirumah.


Meskipun begitu Ren sebagai pemilik perusahaan badan suami Alexa tidak memperlakukan Alexa sebagai karyawan spesial, yang jelas Ren hanya selalu berpesan agar Istrinya tidak terlalu lelah dan banyak pikiran yang akan membuat kandungannya terganggu.


"Ingat jangan banyak pikiran dan lelah, jika tidak maka aku_"


"Akan memecatmu meskipun kamu istriku." Potong Alexa membuat Ren tersenyum. "Kau sudah kenyang mendengar perkataan mu pagi ini." Alexa mengerucutkan bibirnya.


"Meskipun kamu kenyang, tapi aku tidak bosan mengatakannya." Ren menarik hidung kecil Alexa.


"Ish, udah ahh..aku mau kerja." Pintu lift terbuka di lantai tujuh dan Alexa keluar setelah mencium punggung tangan suaminya.

__ADS_1


"Bye..bye.." Alexa tersenyum melambaikannya tanyanya dengan pintu lift yang akan tertutup, membawa suaminya menuju lantai sepuluh.


Ren hanya tersenyum dan juga membalas lambaian tangan Alexa.


Sesampainya di lantai sepuluh Ren bertemu dengan Juno yang akan masuk keruanganya.


"Bos sebaiknya anda jangan masuk dulu." Jono berbicara dengan nada pelan.


"Kenapa?" Ren mengernyitkan keningnya.


"Ada tamu yang tak di undang, saya yakin kalau bos tidak ingin bertemu."


Karena pintu tidak tertutup rapat, tamu yang berada di dalam ruangan Ren pun mendengar suara berisik, dan orang itu pun keluar.


"Ren.." Tamu yang Juno maksud adalah ibu johan, dan Ren terlambat untuk mengerti maksud Juno.

__ADS_1


Ren diam menatap ibu Jihan dengan datar, meskipun wanita didepanya semakin kurus tapi Ren tidak bersimpati mengingat apa yang sudah Jihan lakukan.


"Ibu mau bicara tapi tidak di sini." Ucap Jenar.


Ren mengehela napas. "Sebaiknya ibu pergi, karena saya sedang sibuk." Ren berjalan melewati Jenar tapi wanita itu malah bersimpuh.


"Tolong Ren, jangan buat nasib Jihan seperti itu dia putri ibu satu-satunya dia hanya khilaf dan kecewa sama yang kamu lakukan." Jenar menangis dengan bersimpuh, membuat beberapa karyawan menontonnya.


"Ibu berdirilah." Juno ingin membantu Jenar berdiri, tapi wanita itu tidak mau.


"Tidak, aku tidak akan berdiri sebelum Ren mau mengabulkan permintaanku." Jenar masih dengan keras kepalanya, dia merasa jika Ren akan mengabulkan permintaannya dengan melakukan cara seperti ini.


"Biarkan saja dia Juno, lebih baik kau kembali bekerja." Ren tidak perduli jika Jenar akan tetap seperti itu, Ren sudah tidak lagi respek terhadap Jihan maupun Jenar ibu Jihan yang menurut Ren sama saja, sama-sama penipu.


"Ren kamu tega..!! kamu berubah." Jenar berteriak melihat Ren yang sama sekali tidak perduli, bahkan menengok kebelakang pun tidak.

__ADS_1


Sungguh Ren yang sekarang berbeda jauh dengan Ren yang dulu, dimana putrinya masih menjalin kasih dengan Birendra, kehidupan mereka terjamin dan kini Jenar harus benting tukang sendiri setelah Jihan mendekam di penjara karena kesalahannya.


Tapi Jenar masih belum menerima jika putrinya benar-benar melakunya dan pasti Jihan menjadi seperti ini karena tidak ingin miliknya menjadi milik orang lain.


__ADS_2