
Alena menarik napas dalam ketika melihat wajah Bimo begitu membuat jantungnya tak berdetak normal.
Bagaimana tidak jika pria tampan nan rupawan itu sedang menatapnya dengan lidah di gigit..ohh Tuhan pemandangan yang begitu sayang untuk diabaikan.
Alena menelan ludah kasar melihat baju bosnya yang sudah basah oleh keringat. Jika melihat pemandangan begini terus bisa syok jantung karenanya.
Ingin sekali mengalihkan perhatiannya dari pesona bosnya itu, namun hatinya rasanya ingin menjerit jika berpaling.
Bimo nampak tertawa melihat wajah Alena yang sedikit terlihat merah, karena memang jarak mereka lumayan sedikit jauh.
Melihat Bimo menyadari tatapannya Alena buru-buru menunduk dan menurunkan topinya untuk menutupi wajahnya.
"Ya ampun Lena, basis banget sih loe sampe malu gitu kepergok." Dumelnya dalam hati.
Bimo kembali melanjutkan permainan nya ditengah lapangan. Setelah menguasai debaran jantung nya Alena kembali melihat Bimo yang sudah bermain lagi.
Alena melihat ponselnya yang sejak tadi bergetar, ternyata panggilan dari Diki. Ingin mengangkat tapi takut ketahuan bohong, tidak di angkat dirinya khawatir jika Diki marah.
"Maaf ya Mas, Lena tidak mau ketahuan bohong." Alena kembali memasukkan ponselnya.
"Telpon dari siapa?" Suara Bimo mengangetkan Alena.
"Kebiasaan deh, kalo Dateng suka ngagetin."
"Kamu nya aja yang jantungan." Bimo duduk disebelah Alena dan menegak air mineral dari botol.
__ADS_1
Perbuatan yang Bimo lakukan membuat Alena menatapnya tak berkedip, jakun nya yang naik turun, di tambah air yang lolos mengalir dari bibir hingga leher pria itu.
Glek
Alena menelan ludah kasar melihat pemandangan yang begitu menyesakkan dada bertubi-tubi. Sungguh indah pemandangan di depan matanya.
"Siapa?" Ucap Bimo yang melirik Alena dari ekor matanya.
"Emm.." Masih belum paham apa yang di tanya.
"Siapa yang menelpon." Tanya lagi dengan nada malas.
"Oh.."Alena menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Mas Diki yang telpon." Ucapnya menatap lurus kedepan, tidak berani menatap bosnya itu terang-terangan.
Tangan Bimo mencekram erat botol yang dia genggam. Hingga membuat bentuknya penyok.
Klontang...suara benda yang di lempar masuk kedalam tong sampah.
"Loh kok, iss nyebelin banget sih." Alena berdiri dan mengikuti langkah bosnya itu.
Alena tidak tahu saja jika Bimo sedang menahan kesal, meskipun dirinya yang memaksa Alena untuk ikut bersamanya, namun mendengar Alena menyebut tunangannya membuatnya kesal.
.
.
"Bisa gak saya di antar pulang?" Tanya Alena setelah beberapa menit keduanya berdiam tanpa kata di dalam mobil sejak keluar dari parkiran.
__ADS_1
Alena menatap wajah Bimo dari samping, tidak ada reaksi apapun di wajah bosnya itu, datar, datar saja.
"Pak.." Tenggorokan Alena tercekat ketika melihat tatapan tajam dari Bimo.
Bimo menambah kecepatan laju mobilnya, dirinya tidak melihat jika Alena sudah memejamkan mata karena takut, tangan nya mencekram erat tali sealtbeat yang Ia kenakan.
Jantung Alena kian berpacu kencang ketika tiba-tiba mobil Bimo mengerem mendadak dan berhenti. Belum berani membuka mata dan melihat apa yang terjadi.
"Turun Alena." Suara Bimo penuh tekanan.
Belum berani membuka mata jika bosnya menurunkannya di tengah jalan. Alena masih menutup matanya rapat-rapat.
"Alena turun atau saya akan_" Ucapan Bimo terhenti ketika pintu mobilnya diketuk dari luar.
Wajah Bimo kian bertambah dingin ketika melihat siapa yang sedang berdiri disamping mobilnya.
Suara ketukan pintu lagi membuat Alena segera membuka matanya lebar. "Mas Diki." Gumam Alena.
Alena segera turun dari mobil Bimo mendapati Diki diluar. "Mas.." Alena nampak cemas dengan jantung berdebar takut.
Bimo mencekram erat setir mobilnya ketika Alena langsung turun begitu melihat tunangannya.
Tanpa menunggu lama, Bimo kembali melajukan mobilnya dan membunyikan klakson mobilnya kencang hingga membuat Alena terlonjak kaget.
.
.
__ADS_1
Neng Cantik yang jadi rebutan😂