Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part105


__ADS_3

"Engh.." Suara leguhan kecil keluar dari bibir Alena.


"Mas.." Alena bergumam dengan mata setengah terbuka. Kepalanya begitu berat dan pusing.


"Sayang hei.." Bimo yang memeluk tubuh Alena dalam dekapannya terbangun ketika merasakan pergerakan.


"Astaga, badan kamu panas banget." Bimo segera bangun dan menggendong tubuh Alena untuk di bawanya kerumah sakit.


"Sabar sayang." Wajah Bimo begitu panik apalagi melihat Alena yang sudah lemas.


"Mas..!! tolong siapkan mobil." Bimo berteriak ketika sampai di ruang tamu, dan kebetulan Fandy baru bangun berada di dapur.


Jam masih menunjukan pukul setengah lima pagi.


"I-iya Mas." Fandi segera mengambil kunci mobil segera mengeluarkan mobil dari garasi.


"Mbak Alena kenapa mas?" Tanya Fandi yang membantu membuka pintu mobil untuk Bimo.


"Badannya panas Mas, tolong bilang sama mbak Mirna nanti suruh menyusul." Ucap Bimo sambil masuk ke mobil duduk di balik kemudi.


"Baik Mas, hati-hati."


Mobilnya melesat dengan kecepatan di atas rata-rata karena masih sangat pagi jalanan masih sangat sepi.


"Emm.."

__ADS_1


"Sabar sayang, sebentar lagi sampai." Bimo menambah kecepatan laju mobilnya agar segera sampai.


Lima belas menit mobilnya sudah terparkir di rumah sakit.


"Sus tolong istri saya." Bimo berteriak ketika sampai lobby rumah sakit, dan langsung mendapat penanganan di bawa keruang UGD.


Menunggu di luar ruangan dengan gelisah Bimo mondar-mandir dengan wajah khawatir.


Ceklek


Pintu UGD terbuka. "Keluarga pasien."


"Saya dok, saya suaminya.. bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Bimo dengan wajah panik.


"Istri anda hanya kelelahan dan banyak pikiran dan imun tubuhnya yang menurun sehingga membuat istri Anda mengalami demam tinggi." Ucap sang dokter.


"Setelah saya periksa tidak ada tuan, dan pasien akan segera dipindahkan keruang rawat."


Dokter pun pergi setelah memberi keterangan pada Bimo.


"Maaf sudah membuatmu sakit begini." Bimo menggenggam tangan Alena dan mengecupnya.


Kini Alena sudah berada diruang rawat dengan selang infus yang menancap ditangannya.


Pagi ini sebenarnya Bimo ada mitting penting dengan klien, namun melihat kondisi istrinya yang sakit dirinya tidak tega untuk meninggalkannya, meskipun ada Mirna yang menjaga.

__ADS_1


"Engh..shh." Alena mendesis lirih dan membuka matanya perlahan.


Melihat kesekeliling ruangan asing.


"Sayang, kamu sudah bangun." Bimo yang baru keluar dari kamar mandi melihat Alena yang sudah membuka mata.


"Aku dimana Bim?" Tanya Alena dengan suara lirih.


"Di rumah sakit sayang, kamu demam." Bimo mengelus kepala Alena pelan.


"Maaf sudah merepotkan mu." Alena menatap suaminya.


"Tidak apa sayang, justru aku yang harus minta maaf karena sudah membuatmu sakit begini."


Alena tersenyum, dirinya merasa sangat beruntung mendapat suami seperti Bimo yang ternyata penyanyang dan paling mengerti dirinya, meskipun memiliki sifat dingin dan cuek.


"Kamu tidak ke kantor?" Tanya Alena yang melihat Bimo masih menggunakan pakaian rumah.


"Mana bisa aku bekerja sedangkan istriku sakit begini." Tangannya mengelus pipi Alena.


"Aku sudah mendingan, lagi pula pasti kamu banyak kerjaan."


"Hm..tapi kamu lebih penting sayang." Bimo menatap wajah istrinya yang sedikit pucat ada rasa nyeri di hatinya.


"Tidak apa, nanti ada mbak Mirna yang temani aku."

__ADS_1


Karena Alena memaksa akhirnya Bimo meninggalkan Alena dengan Mirna setelah Mirna datang, dan Bimo pun pulang untuk bersiap pergi ke kantor karena pagi ini metting nya begitu penting untuk membahas proyek di kota S.


__ADS_2