
Alexa menatap dua kotak yang berbeda di atas ranjang tidurnya, dua-duanya dengan warna yang sama yaitu hitam. Dua hadiah yang ternyata berisikan gaun dengan warna sama tapi orang berbeda orang yang memberinya.
"Ck, kenapa harus memberi hadiah seperti ini." Ucap Alexa yang kembali menutup dua kotak itu dan menaruhnya diatas meja.
Alexa segera bersiap karena acaranya akan di mulai pukul tujuh lima belas menit, dan sekarang sudah pukul enam lewat.
Memoles wajahnya dengan sedikit make up yang Alexa miliki, gadis itu memang tidak suka mengoleksi alat kecantikan tapi kalau hanya sekedar merias wajah Alexa masih bisa melakukannya.
Gaun yang dirinya beli dengan Diaz yang memilih cocok untuk tubuhnya, Alexa berdiri didepan cermin. Mematut dirinya yang memakai gaun malam.
Dirasa sudah cukup Alexa segera meraih tas dan ponselnya, dirinya melihat ada chat masuk dari Keke dan Gilang rekan kerjanya di kantor dulu.
"Lexa aku sudah di depan kos-an kamu.." Isi pesan Keke yang memang mereka janjian.
Alexa tidak berangkat dengan Diaz, karena dirinya sudah bilang jika ingin bersama temanya. Dan Diaz mengiyakan ketika tahu teman Alexa seorang wanita.
"Maaf menunggu lama." Ucap Alexa ketika masuk kedalam mobil Keke, disana juga ada Gilang sebagai supir, sedangkan Keke berada di kursi depan samping Gilang, dan dibelakang ada Tia bersama Alexa yang baru datang.
"Lexa, kamu cantik sekali sumpah." Keke sejak tadi sudah gatal untuk memuji penampilan Alexa.
Gilang yang melihat Alexa, matanya tak berkedip.
"Duh, emak-emak kayak kita memang kalah dengan yang masih gadis." Ucap Tia dengan tertawa. "Tapi memang Alexa malam ini cantik banget." Tia juga memuji penampilan Alexa.
"Ish, mbak ini bikin aku salting tau ngak, kasian noh si Gilang." Sindir Alexa, karena sejak tadi dirinya risih ditatap seperti itu oleh Gilang.
"Eh..kok aku sih." Ucap Gilang yang segera sadar dan gugup.
"Dia terpesona kali Lex, sama kamu." Ucap Keke dengan wajah jahil.
"Tapi sayangnya saya belum beruntung mbak." Ucap Gilang santai dan segera menjalankan mobilnya untuk menuju Bagaskara Grub.
Beberapa kali Alexa melihat ponselnya, karena sejak tadi bergetar dan Alexa mensilent ponselnya karena terganggu.
"Duh anak gadis ponselnya sibuk melulu banyak yang nyariin." Ledek Tia yang tadi sempat melirik ponsel Alexa.
"Mbak Tia rese deh." Wajah Alexa di buat cemberut.
Mereka sampai di parkiran gedung Bagaskara Grub tepat pada pukul tujuh, dan disana sudah banyak mobil yang terparkir.
"Kok aku jadi gugup gini ya." Ucap Keke dengan menyentuh lengan Alexa.
__ADS_1
"Kayaknya kita sendiri deh yang belum pernah menghadiri pesta kantor sebesar ini." Ucap Tia yang menatap gedung besar di depannya dengan perasaan takjub.
"Beruntung banget kamu Lex, bisa pindah ke sini." Keke juga menatap takjub bangun tinggi itu.
Acara memang di adakan di dalam gedung kantor yang mampu menampung ribuan orang dengan kapasitas yang tentu saja memadai. Dan untuk pertama kali mereka di undang resmi hadir di acara itu, meskipun Alexa sudah menjadi bagian di perusahaan itu, tapi mereka tetap menjadi tim yang pernah berhasil mengembangkan program baru di kantor BGS.
Keempat orang itu masuk ke dalam lift setelah mengakses kartu undangan yang mereka bawa kepada penjaga yang bertugas.
"Exa..!" Seruan seseorang yang membuat ke-empat orang itu menoleh.
Diaz berjalan menghampiri keempat orang itu sambil tersenyum melihat penampilan Alexa yang begitu cantik dan anggun.
"Kak Diaz." Alexa mengembangkan senyum.
"Kalian baru datang?" Diaz mengulurkan tangannya pada Gilang dan disambutnya.
"Iya kak, kenalin mereka semua rekan satu tim ku dulu." Jawab Alexa yang juga memperkenalkan rekannya.
Malam ini Diaz menggunakan setelah jas rapi, meskipun biasanya juga menggunakan jas, tapi malam ini penampilan Diaz berbeda dengan biasanya.
"Ayo, kita masuk sama-sama." Ucap Diaz yang mengulurkan tangannya pada Alexa, dan si sambut dengan baik oleh Alexa. Kedua orang wanita yang sudah berkeluarga itu hanya menatap kagum oleh sosok Diaz. Sedangkan Gilang tidak suka melihat Alexa bisa sedekat itu dengan pria lain.
Suasana di dalam gedung sudah ramai, gedung yang sangat besar dan megah, apalagi dekorasi yang begitu cantik dan indah membuat orang yang belum melihatnya merasa kagum.
"Iya mbak, aku juga baru melihat tempat pesta semegah ini." Timpal Gilang yang juga merasa takjub.
Diaz yang mendengar hanya tersenyum. "Kita kesana." Diaz menunjuk meja yang di sudut ruangan, meja untuk para undangan bersantai.
Tak lama acara dimulai, sambutan dari MC dan disusul dengan pemilik perusahaan yaitu Bimo Bagaskara, dan di belakangnya juga hadir Birendra bersama Sena serta Aaron sebagai menantu dan calon papa itu selalu posesif dengan sang istri.
Mereka semua yang hadir merasa iri dengan kelaurga itu, kelaurga yang harmonis dan bahagia meskipun sang pemilik tidak memiliki pasangan dan membesarkan kedua anaknya sendiri.
"Jadi selama ini pak Birendra, tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu dong." Celetuk Keke membuat Alexa menoleh.
Ya, Keke benar. Alexa baru mengetahui fakta ini, jika Ren adalah anak yang di tinggalkan oleh ibunya saat lahir, dan wanita cantik didepan sana ternayata adalah kakak pria itu yang sudah membantunya.
Deg
Mata Alexa terpaku ketika ketika bertabrakan dengan mata Ren di atas sana. Bisa Alexa rasakan jika pria itu menatap dirinya tajam di atas sana.
Alexa lebih dulu memutuskan tatapannya ketika Diaz menawarinya makanan.
__ADS_1
"Makan lah ini dulu." Diaz menyodorkan sendok berisikan cake didepan bibir Alexa.
Acara sudah setengah jalan berlangsung, setelah sambutan-sambutan pemilik perusahaan mereka semua diijinkan untuk menikmati hidangan yang ada.
Alexa membuka mulutnya ketika Diaz menyuapinya, "Terima kasih kak." Ucap Alexa tersenyum, mereka hanya berdua karena ketiga temannya tadi sudah membubarkan diri untuk menikmati acara.
Kegiatan keduanya tak luput sari kedua bola mata tajam yang sejak tadi memantau mereka, dadanya bergemuruh melihat keromantisan yang mereka lakukan seperti sepasang kekasih.
"Ikutlah dengan ku, ada yang ingin aku tunjukan." Diaz berdiri dan mengajak Alexa untuk ke suatu tempat.
"Kemana kak?" Alexa bertanya ketika Diaz mengajaknya masuk ke dalam lift, dan angka yang Diaz tekan menuju rooftop.
"Kenapa kesini?" Alexa menatap wajah Diaz yang hanya tersenyum.
Tanpa menjawab Diaz mengajak Alexa ke pinggir pembatas yang terdapat pagar sebatas dada, dari sana mereka bisa melihat lampu yang kerlap-kerlip dari rooftop gedung terbuka.
"Kamu suka." Diaz berdiri tepat dibelakang tubuh Alexa yang menikmati pemandangan indah malam hari di atas gedung.
Dirinya baru tahu jika malam hari berdiri di rooftop bisa melihat pemandangan indah seperti ini.
"Kak apa ini." Alexa ingin berbalik tapi Diaz menahannya, agar Diam.
Tangan Alexa meraih bandul liontin kalung yang Diaz sematkan di lehernya.
"Bukan apa-apa hanya kado kecil untuk wanita cantik sepertimu." Ucap Diaz yang membantu Alexa merapikan rambutnya kembali.
Alexa berbalik dan menatap Diaz yang sedang menatapnya. "Alexa mau kah kamu menjadi kekasih ku." Ucap Diaz dengan menggenggam tangan kedua tangan Alexa. "Mungkin kita baru mengenal, tapi aku menyukaimu sejak sekolah dulu, dan rasa itu bertambah besar ketika kita di pertemukan di kantor yang sama." Kata Diaz dengan jujur dan tulus.
Alexa terpaku, dirinya merasa haru mendengar Diaz menyukainya sejak remaja, padahal Alexa pikir Diaz tidak mengenalinya semasa sekolah.
"Aku mau kedekatan kita menjadi status, dan ijinkan aku untuk menjaga dan menemani mu."
Alexa masih diam, dirinya tidak menyangka akan ungkapan perasaan Diaz malam ini. "Alexa aku mencintaimu dan ingin menjadikanmu kekasihku."
"Iya kak aku mau." Jawaban Alexa membuat Diaz mengembangkan senyumnya lebar.
Dadanya berdebar mendapat jawaban dari bibir Alexa. "Terima kasih Exa." Diaz langsung memeluk Alexa dan mencium kepala Alexa untuk pertama kali.
Alexa menyambutnya dengan suka cita, dirinya juga menyukai Diaz dan mungkin Alexa juga mencintai pria baik dan hangat itu.
Mereka larut dalam kebahagiaan karena baru saja jadian. Tapi tidak dengan pria yang dengan sengaja mengikuti mereka, bahkan mendengar semua yang mereka katakan.
__ADS_1
Tangannya terkepal kuat, hingga membuat dadanya semakin sesak melihat senyum Alexa yang begitu bahagia.
'Tidak akan aku biarkan.'