Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part45


__ADS_3

"Eh..motor aku gimana." Gina menarik tangannya ketika Yuda mengajaknya masuk ke dalam mobil.


"Ck. ribet ntar gue suruh orang bawa motor loe." Ucap Yuda.


"Lho, jangan dong ntar kalau motor aku ilang gimana?" Gina nampak tak terima mendengar ucapan Yuda.


Yuda kembali berdecak dan mengeluarkan ponselnya dari saku celana.


"Bro loe ambil motor di taman kota, plat nya xxx, bawa ke..?" Yuda bertanya pada Gina."ke jalan Xx no 57." Yuda mematikan ponselnya setelah berbicara.


"Beres, ntar ada yang ambil di anter ke alamat loe." Yuda menatap Gina.


"Ck. loe lama amat sih bos, jalan kek siput." Yuda berdecak kesal menunggu sepasang kekasih yang punya tunangan. ehh gimana nyebutnya, entah lah.


"Bawel loe Yud." Bimo membukakan pintu mobil untuk Alena, dan menaruh Alisa di kursi belakang diikuti dirinya masuk.


"Lah, gue jadi supir bos?" Tanya Yuda cengo.


"Masa iya gue yang jadi supir loe." Bimo melihat Yuda malas.


Blep.


Menutup pintu mobil, membaut Yuda melongo. "Ck, difinisi teman lucnut." Yuda menarik Gina masuk di kursi samping, dan dirinya duduk di belakang kemudi.


"Motor aku gimana?" Alena menoleh kebelakang, teringat motor nya di parkiran.


"Udah aku suruh Pak Fandi ambil" Ucap Bimo dengan tangan mengelus kepala Alisa.


Bimo hanya bersikap manis dan hangat jika dekat Alena dan Alisa, Gina saja yang teman Alena masih sama mendapat tatapan datar dan suara dingin. Memang seperti itulah sifat Bimo semenjak remaja.

__ADS_1


"Pak Fandi?" Tanya Alena heran, sejak kapan Bimo punya nomor suami mbak Mirna.


"Hm.." Bimo hanya bergumam untuk menanggapi ucapan Alena.


Mobil yang dikendarai Yuda sampai di restoran yang lengkap menunya karena Bimo yakin jika Alisa suka makan dan mencoba menu baru yang belum pernah dia cicipi.


"Ayo Alis turun." Bimo lebih dulu turun dan mengulurkan tangannya untuk Alisa.


"Terima kasih kakak." Alisa tersenyum manis.


"Cuma kak Bimo aja yang dapet ucapan terima kasih dan senyum manis, kak Yuda tidak." Ucap Yuda dengan wajah semelas mungkin, dirinya juga gemas pertama kali melihat Alisa di rumah sakit.


"Kak Yuda juga, terima kasih." Alisa juga tersenyum manis.


"Oke sekarang gantian ikut kak Yuda, biar kak Bimo ngurusin kak Ale." Yuda mengambil Alisa dari Bimo.


"Ck. udah loe dua-an aja, biar gue jaga Alisa sama Gina." Yuda melirik Gina yang hanya mengangguk.


"Bye..bye..kakak." Alisa melambaikan tangan ketika Yuda membawanya masuk lebih dulu.


Bimo tersenyum menatap wajah Alena yang bingung sendiri. "Kenapa hm..?" Bimo merangkul bahu Alena.


"Emm..canggung aja." Ucap Alena malu.


"Cuma makan aja canggung, tidur berdua anteng." Ucap Bimo menggoda Alena.


"Auwwss...sakit Ale." Bimo meringis dan memegangi pinggang nya yang dicubit Alena


"Dasar Bim-Bim nyebelin." Alena menggerutu tapi dengan wajah memerah malu.

__ADS_1


Ucapan Bimo mengingatkan dirinya yang nyaman tidur dalam pelukan bos menyebalkan itu.


"Tapi suka kan." Bimo tertawa melihat wajah Alena cemberut.


Kini keduanya berada di ruangan yang cukup private dari pengunjung lainnya.


"Mau makan apa?" Bimo bertanya ketika Alena masih melihat menu makanan.


"Kenapa disini harganya mahal semua?" Alena tak sadar bergumam dan di dengar oleh Bimo.


Bimo hanya menggelengkan kepalanya, menutup buku menu yang ada ditangan Alena. "Tidak usah dilihat harganya, kamu ingin makan apa?" Ucapnya lagi.


"Eh..Sama-in aja sama kamu." Alena nampak tak enak, karena ucapanya di dengar Bimo.


"Oke."


Bimo memesan dua stik dan dua jus jeruk, karena kemaren Alena juga memesan itu, dan Bimo menambahkan makanan lainya, agar Alena juga mencobanya.


"Aku ketoilet dulu ya." Alena pamit pada Bimo.


"Mau aku temani." Ucapanya yang hanya mendapat pelototan mata dari Alena.


Ketika berjalan di lorong menuju toilet tak sadar dirinya menabrak bahu seseorang.


Bugh.


"Eh..maaf mbak.." Alena membantu mengambil tas yang jatuh karena dia tabrak.


Wanita itu hanya melirik Alena sinis.

__ADS_1


__ADS_2