
Haikal adalah teman sebangku Ren ketika masih sekolah, hanya Haikal mau duduk dengan Ren. Karena Haikal dulu waktu sekolah terkenal melehoy di sekolah jadi teman Haikal hanya Ren dan Siska.
Ren memang tidak memiliki teman akrab ataupun sahabat dekat. Dan hanya Haikal yang selalu mengajaknya bicara meskipun Haikal tipe pria lemes seperti perempuan, tapi Ren cukup terhibur dengan tingkah laku Haikal yang sering menyebutnya tertawa.
"Lu banyak berubah Kal, mungkin karena lu ketularan Siska." Ucap Ren melirik Siska yang notabennya cewek tapi terkesan tomboi seperti pria.
"Bukan ketularan lagi Ren, gue di permak abis sama dia, makanya dia lengket sama gue karena gue udah glow up." Jawab Haikal melirik Siska yang tersenyum ponggah.
Alexa dan Ren hanya tertawa mendengarnya, mereka sedang berpacaran dan Ren cukup salut melihat beorjuangan keduanya untuk bisa berubah lebih baik, karena duku Siska sudah seperti preman pasar.
Setelah cukup lama mengobrol hingga waktu yang akan menjelang Magrib, mereka memutuskan untuk berpisah setelah saling bertukar nomor telepon lebih dulu, agar mereka bisa kembali janjian untuk bertemu.
Haikal dan Siska yang rencananya akan melangsungkan pertunangan Minggu depan sekalian mengundang Ren berserta Alexa untuk datang, dan Haikal akan kedatangan tamu penting dan terhormat jika Birendra Seno Bagaskara hadir di acara pertunangannya.
Karena membeli somai tidak disangka Ren malah bertemu dengan teman-temannya ketika masih sekolah, dan itu cukup membuatnya senang.
Mobil mewahnya kembali membelah jalan kota, untuk segera sampai di rumah sang papa, seperti biasa sebelum makan malam semua sudah harus berkumpul dirumah.
.
.
.
Jika Ren dan Alexa berhenti untuk membeli somai, maka lain dengan Sena dan Aaron yang berhenti di sebuah toko mainan anak-anak, karena mereka sedang berada di luar jadi Sena berniat untuk membeli pernak-pernik mainan untuk kedua buah hatinya.
Padahal Aaron sudah menyarankan untuk membeli online saja, dan Sena kekeh untuk membeli secara langsung di tokonya, dan Aaron pun menuruti permintaan istri tercintanya itu.
"Mata aku gak bisa kalau seperti ini terus, bisa-bisa satu toko habis aku borong semua." Ucap Sena yang begitu antusias memilihkan banyak mainan untuk putranya, dia mengambil mainan yang belum baby A punya.
Aaron hanya geleng kepala, memang baru kali ini dirinya melihat Sena membelikan dan memilih sesuatu sendiri untuk si kembar. Karena sejak kembar lahir, semua kebutuhan kembar hadiah dari kakek Lewis, papa Bimo dan juga kedua orang tuannya, sedang mereka berdua tidak diberi kesempatan untuk membelikan kebutuhan kedua putranya.
"Sudah." Tanya Aaron yang melihat Sena hanya membawa satu keranjang kecil saja.
"Sudah, hanya ini yang twins belum punya." Jawab Sena sambil menunjukan barang yang dia pilih.
Melihat itu Aaron tertawa. "Kamu seperti ibu yang tidak cukup punya uang sayang, lihatlah berapa biji yang kamu ambil." Ucap Aaron semakin tertawa.
"Ck. ini semua karena mereka selalu memenuhi kebutuhan twins, apalagi mama, setiap tiga hari sekali mengirimkan baju baru yang di kirim langsung oleh brand nya, dan aku hanya bisa melihat saja tanpa bisa ikut membeli." Ucap Sena dengan wajah cemberut.
Aaron merangkul leher Sena, keduanya berjalan menuju kasir. "Itu karena mereka menyayangi baby A." Aaron mengecup pelipis Sena.
__ADS_1
Sena hanya mengangguk membenarkan, karena kenyataannya memang seperti itu, Arin selalu mengirimkan pakaian fashion tebaik untuk kembar, sedangkan Kakek Lewis dan Arthur selalu mengirimkan mainan dari yang kecil hingga yang besar dan membuat Sena hanya pasrah tanpa bisa protes.
Bimo sendiri sudah menyiapkan dua perusahaan yang baru dia buka untuk kedua cucunya kelak, dia ingin memberikan sedikit miliknya utuk sang jagoan.
Aaron keluar dari dalam toko mainan, ketika azan magrib, mereka segera kembali kerumah karena tidak ingin meninggalkan baby A cukup lama.
"Sayang, sepertinya mobil di belakang sedang mengikuti kita." Ucap Sena yang melihat dari kaca spion.
Aaron langsung melihat kaca kecil di atasnya, dan benar mobil itu sejak keluar dari toko mainan mengikuti mobilnya.
"Pegangan sayang." Aaron menambah kecepatan mobilnya, ketika bemper mobil belakanganya sengaja di tabrak dari belakang.
"Ar, hati-hati." Sena bukannya takut, ibu dua anak itu malah heboh menyuruh suaminya untuk menambah kecepatan mobilnya.
Hingga pas di jalan yang sepi tak disangka membuat Sena menjerit takut.
Dor
Suara tembakan tepat mengenai kaca mobil belakang, beruntung tidak sampai mengenai keduanya, karena tertahan oleh kursi dibelakang.
"Ar, aku takut." Jika sudah bermain dengan tembakan Sena tidak bisa menutupi ketakutannya.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Aaron yang melihat Sena menunduk dengan menutup kedua telinganya. "Berjongkok sayang, jangan perlihatkan kepalamu." Ucap Aaron dengan kahawatir melihat Sena yang ketakutan, sedangkan mobil debelakang terus mengejar mobilnya semakin cepat.
Dor
"Sial." Aaron mengumpat ketika mendengar suara tembakan, dirinya tidak takut hanya saja melihat Sena yang ketakutan membuat Aaron tidak bisa bertindak lebih.
"Sayang pejamkan mata kamu, diam disana." Aaron kembali menginjak pedal gasnya, ketika mobil dibelakang bertambah satu, mereka saling berkejaran, hingga mobil musuh hampir sampai untuk menyamai laju mobilnya, Ren waspada jika mereka kembali menembakkan senjata apinya.
Sena hanya mengangguk tanpa suara, dia terlalu takut.
Brak
Mobil dibelakang kembali menabrak bagian belakang mobilnya, membuat Sena menjerit ketika merasakan guncangan. "Ar.." Sena menatap suaminya dari bawah, dan bisa Sena lihat jika Aaron menahan amarahnya.
"Sial, siapa sebenarnya mereka." Ucap Aaron tetap fokus kedepan, di depan sana terdapat tikungan dan posisinya sekarang sedang terjepit. Dalam keadaan seperti ini, Aaron hanya mementingkan keselamatan sang istri.
Brak
Mobil dibelakang kembali melakukan perlawanan, dan sekarang mobil Aaron terdorong dari belakang sengaja mereka melakukan itu untuk menggiring mobil yang di tumpangi Aaron kehilangan kendali.
__ADS_1
Aaron yang tidak bisa mengendalikan mobilnya terus berusaha, dirinya tidak ingin celaka dalam keadaan seperti ini, apalagi bersama sang Istri.
"Sayang aku hitung sampai tiga kamu loncat." Ucap Aaron yang mulai panik karena di depan sana sudah dekat dengan tikungan, dan Aaron tidak tahu bisa mengendalikan mobilnya atau tidak.
"Tidak Ar, aku tidak mau." Sena sudah me jatuhkan air mata, mendengar ucapan Aaron barusan.
"Percayalah aku akan baik-baik saja, maka kamu harus ikuti ucapanku."
Brak
"Ar..!!" Lagi-lagi Sena menjerit ketika mobil dari samping kembali menyerempet.
"Sena, percayalah." Aaron menatap sendu wajah sang istri, dirinya takut tidak bisa menjaga Sena, dan menyuruh Sena untuk melompat keluar mobil.
"Ingat anak-anak kita menunggu di rumah," Ucap Aaron lagi membuat Sena menghapus air matanya.
Sena menatap wajah Aaron. "Percayalah aku akan baik-baik saja." Ucap Aaron seolah mengerti dengan tatapan yang Sena tunjukan.
"Aku mencintaimu." Aaron membukakan pintu sebelah Sena, kecepatan mobil di atas rata-rata membuat Sena takut untuk melompat. "Di depan, aku hitung sampai tiga kamu lompat."
Brak
Brak
Tubuh keduanya terguncang ketika dengan keras mereka kembali menabrak mobil Aaron.
"Ar, janji kamu akan baik-baik saja."
"Pasti sayang."
Aaron mulai menghitung, dan sampai hitungan ketiga Sena melompat dengan dorong Aaron.
"Aaaakkhh.." Aaron menoleh kebelakang, dan mobil yang mengajarnya tidak berhenti, membuat Aaron yakin jika mereka tidak melihat Sena melompat.
"Sekarang urusan kalian bersamaku." gumam Aaron dengan tatapan penuh kemarahan, melihat dua mobil masih terus mengejarnya.
Aaron menambahkan kecepatan tinggi, dirinya tidak perduli keselamatannya, yang jelas Ia akan membuat mereka menyesal berurusan dengannya, dan membuat Istrinya takut.
Sena jatuh di pinggiran semak-semak, beruntung tidak ada paret dipinggir jalan jika ada mungkin Sena malah tidak akan selamat.
Mobil tadi sengaja mengiring mobilnya ke arah jalan sepi, dan karena tidak bisa menghindar Aaron memilih jalan sepi yang jarang di lewati, bahkan jalan ini penuh dengan pepohonan.
__ADS_1
"Ar, auuwss." Sena merintih ketika merasakan perih di tangannya, dia tidak tahu berada dimana dan harus meminta tolong pada siapa. Sedangkan ponselnya tertinggal didalam mobil.
Sena menangis mengingat suaminya, dia perlahan bangun dan naik keatas untuk bisa meminta bantuan. Sungguh malang sekali nasibnya hari ini.