Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Hidup bersama


__ADS_3

Ren menatap Alexa sendu, wanita yang biasanya selalu bicara ketus dan suka membuatnya marah kini hanya diam dengan pandangan kosong.


Ren memutuskan membawa Alexa ke apartemen pribadinya, dirinya tidak mungkin membiarkan Alexa sendiri di tempat kosnya, melihat keadaan Alexa seperti ini sungguh membuat dunianya seakan runtuh.


"Dia mengalami syok berat dan depresi, atau disebut bipolar." Ucap dokter yang Ren panggil ke apartemen nya untuk memeriksa keadaan Alexa.


"Gangguan bipolar atau mania depresif adalah gangguan mental yang menyebabkan perubahan suasana hati, energi, tingkat aktivitas, konsentrasi, serta kemampuan untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Pengidap bipolar yang sebelumnya merasa sangat gembira bisa tiba-tiba berubah menjadi sangat sedih dan putus asa." Jelas sang dokter pada Ren. "Mulai sekarang seringlah ajak dia berkomunikasi dan lakukan hal-hal yang bisa merespon dan membuatnya bahagia meskipun itu hal kecil, karena terapi seperti itu akan lebih cepat untuk penyembuhannya, selain medis lingkungan sekitar juga bisa sangat membantu."


Ren hanya diam dengan mata menatap Alexa yang sedang menyuapkan nasi ke dalam mulutnya tanpa ekspresi, hatinya mencolos ini semua salahnya yang terlalu memaksa kehendak sendiri tanpa memikirkan bagaimana keadaan Alexa.


"Baik dok, saya akan melakukannya." Ren tersenyum dan mengantar dokter itu keluar dari apartemen nya setelah mengucapkan terimakasih.


Prang


Suara piring jatuh membuat Ren segera berlari menuju ke kamarnya, dimana dirinya melihat Alexa yang berteriak ketakutan di pojok ruangan.


"Tidak, jangan.!!" Alexa terus histeris dengan menutup kedua telinganya. Wajahnya sangat ketakutan membuat nya pucat.


"Jangan, jangan sentuh saya..!!" Ucapnya terus meronta.


"Lexa.." Ren menyentuh Alexa dan langsung disentak olehnya membuat Ren terjungkal kebelakang.


"Pergi..!! jangan sentuh saya, pergi..!!" Mata tajamnya penuh kebencian, Alexa menatap Ren dengan amarah yang berapi-api.


"Sayang, maaf kan kau.." Ren mencoba berbicara lembut, matanya berkaca-kaca melihat keadaan Alexa seperti ini.


Ini bukan Alexa yang dia kenal, Alexa yang dia kenal adalah wanita menyebalkan dan suka membuatnya marah-marah. Dan sekarang Alexa didepanya mampu membuat hatinya merasakan sakit.


Ren meraih obat yang dokter berikan, dan meminumkan nya pada Alexa agar gadis itu tenang.


Setelah lima menit Alexa sudah nampak tenang, terlihat gadis itu sudah tidak mengamuk atau merancau.


"Istirahat ya, jangan takut ada aku disini." Ren memapah Alexa untuk ke ranjang miliknya, Alexa hanya menurut dengan diam.


"Tidurlah." Ren duduk disisi Alexa berbaring, tangan kirinya menyentuh tangan Alexa, sedangkan tangan kanan nya berada di atas kepala Alexa untuk mengelusnya agar tertidur.


Hari ini sebenarnya Ren ada pertemuan penting dengan klien, tapi melihat kondisi Alexa seperti ini membuat Ren tidak tega meninggalkan nya sendiri apalagi semua ini terjadi karena dirinya, dan Ren merasa dan harus bertanggung jawab.


Tangannya senantiasa mengelus kepala Alexa, membuat gadis itu perlahan memejamkan matanya hingga terlelap.


Ren mengecup kening Alexa, menatap wajah gadis itu sebentar dengan perasaan kacau. Dirinya tidak mungkin membiarkan Alexa menderita seperti ini, apalagi ini adalah salahnya.


Setelah memastikan Alexa tidur dan membenarkan selimut dengan benar. Ren keluar dari kamar dengan membawa ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Halo Pah.."


Setelah bicara serius dengan papanya, Ren kembali ke kamar dengan Alexa yang berbaring lelap.


"Maaf sudah membuat mu seperti ini, percayalah jika aku sangat mencintaimu." Ren kembali mengecup kening Alexa, dan ikut berbaring di samping gadis itu.


Biarlah dirinya melakukan hal yang tidak tahu Alexa akan terima atau tidak, yang jelas dirinya ingin bertanggung jawab dan melakukan hal terbaik untuk Alexa.


Tidak peduli jika orang akan bicara apa, pada kenyataannya mereka tidak tahu apa yang dirinya rasakan.


Bimo yang mendengar ucapan Ren dari balik ponsel, menggeram marah. Dirinya tidak percaya dengan apa yang putranya ceritakan. Ini bukan lah seperti putra yang dia kenal, Ren sudah sangat keterlaluan dan berani.


Tidak di pungkiri jika dirinya merasa marah dan kecewa, tapi mau bagaimanapun semua sudah terlanjur kejadian, dan dirinya hanya bisa mensuport dan memberi nasihat jika itu di pakai.


"Niel, siapakan penghulu nanti malam." Ucap Bimo pada Daniel diseberang telepon.

__ADS_1


Bimo menghela napas, dirinya beranjak dari sofa dan pergi ingin menemui seseorang.


.


.


.


Ren tersenyum menatap Alexa yang sedang duduk didepan cermin, setelah membersihkan diri. Wanita itu memang cantik.


Mendekati Alexa, Ren memeluk tubuhnya dari belakang dengan posisi masih duduk, dan Ren sedikit membungkuk.


"Bersiaplah, malam ini kita akan melewati semua ini bersama-sama." Ucapnya dengan memejamkan mata, menempelkan pipinya dengan pipi Alexa.


Alexa hanya diam, tidak merespon ataupun melakukan gerakan apapun. Dirinya hanya diam seperti patung.


Ting..tong...ting..tong..


Suara bel berbunyi, membuat Ren melepaskan pelukannya. "Tunggu disini mungkin papa yang datang." Ucapnya dengan mengecup pipi Alexa.


Ren keluar untuk membukakan pintu yang sejak tadi bel sudah berbunyi terus, dirinya tahu siapa yang datang karena apartemen miliknya tidak ada yang tahu kecuali keluarganya.


Klik


Bugh


Ren membuka pintu tapi sudah disambut dengan pukulan di wajahnya.


"Pah."


Bugh


Bugh


Bugh


"Pah sudah pah, kasian Ren." Sena yang ikut datang bersama melerai perkelahian papanya, meskipun Ren tak membalas tapi adiknya itu sudah babak belur dengan wajah memar dan sudut bibirnya berdarah.


"Kamu keterlaluan Ren, kenapa kamu lakukan itu pada gadis seperti Alexa? kenapa!!" Bimo berteriak keras dengan napas memburu tatapannya tajam membuat Ren tidak berani menatap sang papa.


Aaron membantu Ren berdiri, ketika tubuhnya babak belur oleh papanya sendiri.


Sena hanya mengelus bahu sang papa untuk menenangkan, papanya terbawa emosi. Bagaimana tidak emosi jika putranya sudah membuat hidup anak orang hancur dan sampai depresi apalagi Alexa adalah gadis yatim piatu, yang seharusnya di lindungi.


"Maafin Ren Pah, Ren memang salah." Jawabnya dengan wajah penuh penyesalan. Ren memang salah dan dirinya pantas untuk di hukum.


"Ya Tuhan, kenapa kau berikan sifat keterlaluan pada putraku." Bimo mengusap wajahnya kasar, sebagai orang tua dirinya merasa gagal mendidik. Dirinya yang dulu tidak pernah mempermainkan wanita ataupun melecehkan wanita kini harus menerima jika putranya membuat ulah dengan melecehkan wanita, apalagi wanita itu sampai depresi.


Ren hanya diam menunduk, dirinya tidak berani menjawab ataupun berkata, ketika melihat papanya sudah marah. Dari kecil keduanya memang tidak pernah melihat sang papa marah seperti ini. Bimo adalah sosok orang tua yang baik, dan ibu yang pengertian. Dan baru sekarang mereka melihat kemarahan sang papa dengan Ren yang melakukan kesalahan.


Sena membuka pintu kamar yang Alexa tempati, bisa Sena lihat jika Alexa berdiri di depan kaca jendela besar, yang menghadap langit sore, pemandangannya dengan langit berwarna jingga yang begitu bagus membuatnya betah berdiri mematung di sana.


"Langitnya indah ya." Ucap Sena yang berdiri di samping Alexa, wanita yang sedang hamil besar itu tersenyum menatap indahnya langit sore.


Mendengar suara asing Alexa menoleh, dan Sena pun ikut menoleh tersenyum.


"Hay, kita bertemu lagi." Sena mengulurkan tangannya. "Kita belum pernah kenal setelah kamu menolongku waktu itu." Ucap Sena dengan masih tersenyum. Bisa Sena lihat jika kedua mata Alexa menggambarkan kesedihan yang mendalam, wanita itu putus asa dan tidak ada tujuan hidup.


Alexa yang mendengarnya tersenyum tipis, dan mengulurkan tangannya membalas Sena. "Kak Sen-a." Ucapnya dengan terputus di akhir.

__ADS_1


"Kamu masih mengingat mamaku." Sena tersenyum senang. Alexa hanya mengangguk.


"Baguslah kalau begitu, karena kita akan menjadi teman, maka kamu harus mau berbicara padaku." Sena dengan senang hati menyambut Alexa untuk menjadi keluarganya, terlepas kondisi Alexa yang sekarang. Meskipun begitu mereka akan tetap memperlakukan Alexa dengan baik agar cepat sembuh dan Ren tidak terus menerus menyalahkan dirinya.


"Ayo ikut aku, aku akan merias wajahmu agar terlihat cantik." Sena menarik tangan Alexa untuk mengikutinya, mereka memang akan mengadakan pernikahan sederhana dan hanya ada keluarga saja, karena kondisi Alexa yang tidak memungkinkan jadi mereka melakukannya dengan tertutup.


Ren yang melihat Alexa merespon ucapan sang kakak, hatinya berdenyut nyeri, apalagi Alexa bisa tersenyum meskipun itu samar dan malah membuat dada Ren begitu sesak.


'Sedalam apa kamu membenciku Lexa.' Gumamnya dalam hati, Ren mengusap sudut matanya yang basah.


"Lihatlah, gadis baik dan ceria dulu kini menjadi gadis yang sama sekali tidak ada tujuan hidup." Ucap Bimo yang sejak tadi juga menyaksikan interaksi putrinya dengan Alexa. "Hidupnya hancur, setelah kamu menghancurkannya. Dan bahkan dia tidak bisa menerima keadaan nya sendiri." Bimo menatap putranya ketika Ren menyeka sudut matanya. Meskipun melihat wajah putranya lebam dan babak belur tidak membuatnya merasa kasihan, justru dirinya merasa kasihan kepada Alexa.


"Beruntung dia tidak memiliki keluarga, jika tidak mungkin kamu sudah habis dan hidup di balik jeruji besi, itupun tidak bisa menghilangkan rasa trauma yang Alexa rasakan." Setelah mengatakan itu Bimo pergi ketika mendapat pesan dari Daniel jika dia sudah membawa penghulu dan saksi untuk Alexa.


Ren yang masih melihat Alexa di rias oleh kakaknya hanya menghela napas. "Aku akan berusaha untuk membuatmu kembali seperti dulu." Ucapnya sebelum pergi untuk menyiapkan diri.


Acara ijab kabul berjalan lancar, ketika Birendra Seno Bagaskara mengucapkan nya dengan lancar tanpa hambatan. Acara hanya di hadiri papa dan kakak ipar Ren, beserta dua saksi dan pak penghulu.


Alexa memang tidak di ajak keluar, sengaja karena tidak mau membuat Alexa semakin tertekan melihat dan mendengar Ren mengucapkan ijab kabul.


"Papa serahkan semua pada mu, jadilah imam dan suami yang baik untuk istrimu, apapun keadaanya Alexa sudah menjadi tanggung jawab-mu." Ucap Bimo memberi petuah kepada Ren, sebenarnya dirinya tidak tega melihat putranya menikahi Alexa dengan keadaan seperti itu, Bimo menawarkannya pengobatan untuk Alexa keluar negeri dan setelah sembuh mereka bisa menikah. Tapi justru Ren sendiri yang tidak setuju karena ini adalah kesalahannya, dan dirinyalah yang harus menanggung nya dan bertanggung jawab untuk kesembuhan Alexa sendiri.


"Terima kasih lah, Ren janji akan selalu berada di samping Alexa, apapun itu keadaannya Ren tidak akan melakukan kesalahan untuk kedua kali." Ucapnya dengan memeluk sang papa.


Sebenarnya hati Ren merasa sesak, dirinya mencoba kuat dengan keadaan yang dia pilih, Ren menerima takdirnya jika harus seperti ini, karena dirinya yakin dengan ketulusannya merawat Alexa pasti lambat laun Alexa akan menerima kehadirannya.


Sena yang melihat adiknya seperti itu meneteskan air mata, dirinya juga tidak tega, namun inilah konsekuensi yang adiknya terima hasil perbuatanya.


"Sayang jangan sedih, nanti beby kita ikut sedih." Aaron mengusap-usap lengan sang istri yang sejak tadi menangis.


"Semoga tuhan mempermudahkan Ren untuk membuat Alexa kembali seperti dulu." Sena mengusap air matanya dan tangannya mengusap perut nya yang bulat dan buncit.


"Yakinlah jika adik mu itu pasti mampu melewati semua ini." Aaron mengecup kepala Sena dengan penuh kasih sayang.


Aaron yang sudah tahu seluk beluk keluarga isterinya ikut merasakan kesedihan, dari ibu yang melahirkan istri tercintanya telah berjuang demi melahirkan kedua anaknya dan berakhir dengan Tuhan yang mengambilnya.


Melihat papa mertuanya adalah tipe pria setia hingga akhir hayat membuat Aaron bangga dan juga bahagia, karena papanya bisa menjaga kedua anak-anak hingga tubuh dewasa dan menemukan pasangan hidup masing-masing, tanpa melibatkan orang lain untuk melengkapi kehidupan keluarga mereka.


Dan sekarang Ren yang di hadapkan dengan keadaan hidup yang seperti ini membuatnya ikut merasa sesak.


Tuhan memang adil, dengan cara menghukum seseorang dengan kesalahan yang mereka perbuat, dan tuhan tidak akan tidur jika hambanya terzalimi. Dan semua itu Tuhan sudah merencanakan sesuatu untuk mereka yang berbuat dzalim.


Apartemen Ren kembali sepi, setelah papa dan kakaknya pulang, mereka sempat mengobrol dan memberikan selamat.


Ren kembali masuk ke kamar, dirinya tidak peduli jika ruang tamu nya berantakan sisa acara nya barusan, karena esok pagi ada petugas kebersihan yang akan datang membersihkan.


Mungkin mulai sekarang Ren akan mencari orang yang bisa seharian tinggal di apartemen nya setelah dirinya pergi kekantor seharian, karena meninggalkan Alexa sendiri tidak membuatnya tenang dan Ren akan mencarikan Alexa teman untuk di apartemen agar bisa mengawasi istrinya itu.


Melihat Alexa yang sudah berbaring di kasur membuat bibir Ren melengkung tersenyum.


Waktu menunjukan pukul sepuluh malam dan keluarganya pamit pulang dijam sembilan malam, karena dirinya masih ingin menghabiskan waktu sendiri, Ren duduk di kursi bar mini dengan di temani win, hanya untuk menenangkan pikirannya.


"Mulai sekarang kita sudah menjadi pasangan suami istri." Ren duduk berjongkok di depan Alexa yang berbaring miring menghadap Ren.


Tangannya mengelus kepala Alexa lembut. Ren menatap wajah Alexa yang terlelap, wajah damai dan tenang membuat hati Ren berdesir. Lain jika Alexa sudah membuka mata, wajah dan tatapan mata Alexa membuat hatinya selalu berdenyut nyeri.


"Tidurlah yang nyenyak my wife." Ren tersenyum dan mengecup kening Alexa, dirinya beranjak untuk membersihkan diri, karena Ren masih menggunakan kemeja putih lengan panjang yang sudah ia gulung, kemeja yang Ia gunakan untuk acara ijab kabulnya tadi.


Ketika Ren sudah masuk dan menutup pintu, mata Alexa terbuka, menatap punggung seorang sebelum hilang di balik pintu kamar mandi.

__ADS_1


Air matanya menetes, entah mengapa hatinya begitu sedih mendapati dirinya yang sudah menikah. Walaupun pria itu bertanggung jawab, tapi hatinya masih tidak terima dengan apa yang pria itu lakukan padanya.


__ADS_2