Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Season_2


__ADS_3

Seperti yang Yuda katakan kini mereka melihat tempat tinggal Sena, apartemen yang dekat dengan pabrik yang akan Sena pimpin, dimana hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai di pabrik itu.


Apartment mewah yang sudah Yuda siapkan, ada dua kamar di apartemen itu, kalau-kalau keluarga mereka datang berkunjung.


"Kamu suka tempatnya?" Bimo berdiri di samping putrinya yang masih mengamati ruangan sekitar, dan berjalan menuju kamar yang akan dia tempati.


Keluar Sena mengangguk. "Suka Pah."


"Dari rumah Om tidak jauh dari sini, jadi kalau berangkat Om atau Kemal bisa sekalian menghampiri kamu." Ucap Yuda.


Apartemen Sena lebih dekat jaraknya dari pabrik, sedangkan rumah Yuda melewati apartemen Sena lebih dulu jika akan ke pabrik.


"Papa percaya sama kamu, papa akan dukung apapun yang kamu lakukan jika itu memang terbaik, jangan sungkan minta bantuan papa atau Om Yuda jika kamu mengalami kesulitan.."


Bimo menguatkan hatinya untuk sementara jauh dari sang putri, meskipun hanya untuk bekerja hatinya merasa tidak rela, apalagi esok yang akan datang jika putrinya menemukan jodohnya dan menikah, huh rasanya dirinya tidak sanggup walau hanya membayangkan hal itu.


Sena mendekati Bimo, dan memeluk papa yang begitu sangat dia sayangi dan cintai.


"Papa tidak usah khawatir, Sena pasti baik-baik saja." Seolah mengerti perasaan papanya Sena berusaha menyakinkan Bimo.


"Papa pasti kesepian dan merindukanmu." Bimo menciumi kepala putrinya, sebisa mungkin dirinya tetap tegar meskipun dadanya sudah bergetar merasa sesak.


"Hm..pasti pah, Sena juga pasti merindukan papa."


Setelah melihat-lihat tempat tinggal Sena, dan memastikan jika lingkungan sekitar aman, Bimo pamit untuk pulang, karena hari sudah siang, dan besok dirinya harus menyiapkan keperluan untuk pergi ke LN menemani Ren yang akan mengajukan kerja sama dengan klien di Luar negeri.


"Dah papa.." Sena melambaikan tangannya ketika mobil yang di kendarai papa dan adiknya itu berjalan menjauh, membawa mereka pulang ke Jakarta.


"Sen, jika kamu butuh sesuatu jangan sungkan hubungi Om, ataupun orang rumah, kamu disini menjadi tanggung jawab om." Yuda bicara kepada Sena ketika mobil Bimo sudah tak terlihat lagi.


"Iya Om, Sena pasti tidak akan sungkan." Ucapnya dnegan wajah biasa saja.


"Baiklah Om akan ke pabrik, kebetulan ada yang harus om urus, kamu istirahat dulu. Besok baru akan om ajak kamu ke sana." Yuda sudah ingin pergi tapi Sena mencegahnya.


"Apa aku boleh ikut Om sekarang, hanya ingin melihat-lihat saja." Ucap Sena pada Yuda.

__ADS_1


"Apa kamu yakin?"


"Hem, Lagian lebih cepat lebih baik Om." Ucap Sena semangat.


"Baiklah." Yuda pun tersenyum dan membawa Sena ikut dengannya menuju pabrik.


Sebelum sampai pabrik Yuda memberi tahu jika ada kedai restoran dekat dengan pabrik yang dulu mama mereka pernah bekerja.


Sena juga tahu hal itu, karena ditempat itu persembunyian Mama nya yang kabur.


Sena dan Ren mengetahui semua kisah mama mereka sewaktu masih ada, sampai dimana mereka terlahir sebagai anak piatu ketika melahirkan mereka mamanya berjuang dan berakhir meninggal.


Sena juga tahu siapa yang tega mencelakakan kedua orang tuanya, dan orang itu sudah mendapat balasan yang setimpal dengan apa yang sudah di perbuat.


"Kedai nya masih buka Om?" Tanya Sena yang melihat kedai restoran itu masih buka.


"Ya, meskipun pemiliknya sudah berumur seperti Oma mu, tapi dia tetap membuka kedai itu karena masih sangat ramai semenjak Mama mu membantu di sana dan meninggalkan resep makanan yang enak." Yuda tersenyum sendiri mengingat hal itu.


Sena hanya menatap sendu kedai itu, dirinya ingin sekali berkunjung jika esok ada waktu. Karena dirinya memang belum pernah di kenalkan dengan wanita yang sudah menolong Mamanya itu.


.


.


Karena semua karyawan tahu pemilik itu adalah Bimo Bagaskara, dan di percayakan kepada orang yang berkuasa mengantikan pemilik itu sendiri yaitu Yuda.


"Sayang jangan lupa sarapan ya,, semangat dan jaga diri baik-baik.."


Sena tersenyum membaca pesan sang papa.


"Kakak hari ini Ren dan papa akan ke LN, doa in Ren agar bisa menjalin kerja sama yang sangat papa inginkan."


Sena lagi-lagi geleng kepala, Ren yang akan menjadi CEO utama masih saja seperti ABG labil jika dengan orang terdekat dan saudaranya, tapi jika di luar Ren terlihat berwibawa.


Jari Sena dengan lincah, membalas pesan dari papa dan adiknya.

__ADS_1


"Bii kenapa kamu tidak bilang jika sudah pergi, kamu menghindari ku.."


Sena mengerutkan keningnya membaca pesan yang sama sekali tidak dia harapkan.


"Ck. pria aneh." Sena pun membiarkan pesan Aldrick, dan tidak berniat untuk membalas.


.


.


.


"Pagi semua...minta waktunya sebentar." Yuda mengintrupsi para pegawai yang sedang aktif bekerja. "Pagi ini kita kedatanganya pegawai baru yang akan masuk ke bagian pengemasan, dia disini mengantikan pak Danu yang beberapa hari pensiun, jadi dia adalah atasan kalian yang baru." Ucap Yuda memperkenalkan Sena sebagai kepala atasan bagian pengemasan.


Awalnya Yuda akan langsung menempatkan Sena sebagai direktur, tapi Sena sendiri yang meminta untuk berada di bagian ini, dimana bagaian terakhir, yaitu pengemasan minuman yang semua sudah di uji kualitas dan standar kesehatan, jadi Sena ingin melihat bagaimana minuman itu aman dan selamat sampai di bagian pengiriman.


Karena belakangan ini banyak yang Ia dengar minuman dan makanan marak di sabotase hingga mengakibatkan kerugian besar, belum lagi mengganti rugi bagi korban yang keracunan mengkonsumsi minuman atau makanan tersebut.


"Perkenalkan nama saya Biana Sena, panggil saja Sena, semoga kita bisa kerja sama dengan baik, dan menjadi tim yang solid." Ucap Sena tersenyum tipis memperkenalkan diri.


Para pekerja menyambut Sena dengan ramah, sepertinya pekerja yang terdiri lebih dari 50 orang itu menyukai gadis cantik yang sedap di pandang, ketimbang pak Danu yang sudah tua dan botak.


"Mulai hari ini beliau sudah bekerja, saya harap kerja sama kalian untuk tetap menjaga kualitas produk pabrik kita ini." Ucap Yuda.


"Baik pak.." Mereka semua menjawab secara serentak.


"Sen, selamat bekerja, jika perlu apa-apa hubungi kemal atau Om, oke."


"Baik pak." Sena menunduk hormat, dirinya memanggil Yuda formal karena posisi nya berada di pabrik.


Yuda terkekeh, "Maaf saya lupa kamu anak buah saya." Yuda pun pergi setelah menunjukan ruang kerja Sena.


Sena pun mulai dengan pekerjaan nya hari ini, mengecek laporan kemarin dan hari ini, pekerjaan yang sudah dia kuasai di bidangnya.


Semua berjalan dengan normal seperti biasa, Sena tidak terlalu sibuk, bahkan dia sering bertukar pesan dengan papa dan juga adiknya, yang akan lepas landas keluar negeri.

__ADS_1


"Ck. Akhirnya." Seorang pria bernapas lega, menjatuhkan dirinya di kamar nya yang empuk. "Bakalan kena SP gue udah gak masuk kerja dua hari, males banget ngadep pria tua botak itu." Ucap pria itu mengingat dirinya sudah tiga hari bolos kerja, pasti kena peringatan lagi oleh atasannya yang galak dan botak.


__ADS_2