
Pukul tiga sore Ren baru saja kembali dari kantor, dirinya sengaja tidak menghubungi Alexa karena ingin memberitahunya langsung jika Ia berhasil memenangkan tender.
Ren berjalan cepat dengan diikuti Juno di belakang untuk masuk ke dalam lift petinggi kantor.
"Juno, tolong panggilkan Alexa untuk datang keruangnku." Ucap Ren pada asisten nya itu.
"Oke." Juno keluar setelah lift terbuka berhenti di lantai tujuh, lantai divisi Alexa bekerja, sedangkan Ren tetap tinggal untuk menuju ke ruangannya di lantai sepuluh.
Drt..Drt..Drt..
Ponselnya bergetar, panggilan masuk dari sang kakak.
"Halo kak.." Jawab Ren ketika panggilannya sudah di angkat.
"Ren, terima kasih untuk kadonya dan sampaikan pada Alexa, kakak menguhungi nomornya tidak bisa." Ucap Sena diseberang sana sambil menatap hadiah-hadiah yang Alexa kirim.
"Mungkin Alexa sedang sibuk kak, jadi tidak tahu kalau kakak telepon, nanti akan Ren sampaikan." Ren keluar dari lift ketika pintu terbuka di lantai sepuluh, dan dirinya segera masuk keruanganya.
"Baiklah kalau begitu, sekali lagi kakak berterima kasih, twins suka kado dari aunty nya." Ucap Sena lagi sambil menyentuh stroller yang Alexa kirim.
__ADS_1
"*Iya kak, sama-sama." Mereka pun sedikit berbincang dan tak lama Sena menyudahi panggilann*ya karena twins menangis.
Ceklek
Juno masuk ke dalam ruangan bosnya. "Maaf bos, mbak Alexa tidak ada di ruanganya, sepertinya mbak Alexa belum kembali, karena temannya juga belum ada." Ucap Juno memberi laporan.
Ren yang mendengar ucapan Juno, mengernyitkan keningnya.
"Belum datang? yang benar saja, bahkan kado yang dia beli sudah sampai di tempatnya." Ucap Ren menatap Juno selidik.
"Kata teman kerja mereka juga tidak tahu, karena mbak Alexa maupun Gesya tidak memberi tahu."
Perasaan Ren tiba-tiba tidak enak, dirinya segera meraih ponselnya untuk menghubungi Alexa.
"Sayang ayo dong angkat." Telepon tersambung tapi tidak di angkat oleh Alexa. Ren terus mencoba hingga beberapa kali tapi hasilnya tetap sama.
Di lain tempat, Gesya yang membawa tas Alexa, merasakan ponsel milik Alexa bergetar karena penasaran Gesya mengambilnya.
"Bos kaku." Ucap Gesya yang melihat kontak nama di ponsel Alexa. Gesya tahu jika yang menelpon adalah bosnya juga yaitu Ren, tapi Gesya ingat pesan Alexa, jika dirinya tidak boleh memberi tahu bos-nya.
__ADS_1
Gesya yang masih kalut tidak menghiraukan ponsel Alexa yang terus berbunyi, dirinya tidak akan memberi tahu bos-nya karena itulah permintaan Alexa. Sudah dua jam Gesya menunggu dengan perasaan takut, Alexa harus di operasi karena tusukan pisau di perut Alexa terlalu dalam, dan Gesya tidak tahu harus menghubungi siapa, karena Alexa juga tidak memiliki siapa-siapa kecuali kekasihnya, bos-nya sendiri.
Ceklek
Pintu ruang operasi terbuka, dokter pun keluar dengan menghela napas lega.
"Dokter, bagaimana keadaan teman saya." Gesya langsung menghampiri dokter yang baru saja keluar menangani Alexa.
"Operasinya berjalan lancar, dan pasien sudah melewati masa kritisnya." Ucap dokter itu pada Gesya, membuat Gesya mengucap syukur.
"Tapi maaf, kami tidak bisa menyelamatkan janin teman anda yang baru berusia satu bulan, karena pisau itu mengenai organ fital rahim beliau." Ucap dokter lagi membuat Gesya berdiri mematung.
"Ham-hamil, teman saya hamil dok?" Tanya Gesya dengan terbata tidak percaya.
"Ya, teman anda sedang hamil muda." Dokter itu menjelaskan dan pergi setelah Gesya mengucap terima kasih.
"Alexa hamil." Gumam Gesya yang tidak percaya. Dirinya buru-buru mengambil ponsel Alexa menguhungi orang yang pasti akan bertanggung jawab pada sahabatnya.
"Halo.."
__ADS_1