
Bugh
Menghempaskan tubuhnya dikursi kebesarannya, Bimo nampak melonggarkan dasi yang sejak tadi mencekik lehernya. Metting dengan para petinggi membahas mengenai pembangunan proyek di kota S, membuat Bimo sedikit merasa pening.
Dirinya harus turun tangan sendiri untuk menyelesaikan masalah disana.
tok..tok..tok..
"Masuk."
Alena membuka pintu, membawakan pesan Bimo lewat Daniel.
"Pesanan bapak." Alena menaruh minuman dingin dan potongan cake untuk bosnya.
Alena hanya menunduk dan berbalik, dirinya melihat jika Bimo sepertinya sangat lelah tidak berani menyapa.
Grep
Bimo memeluk tubuh Alena dari belakang, membuat Alena diam membeku.
"Pak." Alena bergerak untuk berontak kata-kata Bimo seketika membuatnya diam.
"Diam Ale, aku hanya ingin memelukmu sebentar saja." Bimo mengeratkan rengkuhannya di dada Alena, dan menghirup dalam-dalam aroma wangi dari rambut Alena yang begitu membuatnya merasa nyaman.
Alena hanya diam tanpa berani bergerak dan berbicara, sebelum merasakan deru nafas hangat Bimo terasa di lehernya.
__ADS_1
"Stop pak, anda sudah keterlaluan." Alena menyentak kuat tangan Bimo, agar melepaskannya.
Tatapan Alena tajam, sekuat tenaga dirinya melawan rasa yang menggelitiknya nyaman dalam posisi seperti itu.
Bimo menatap Alena datar. "Maksud kamu apa Alena?"
"Maaf saya bukan wanita yang gampang bapak permainkan, saya sudah memiliki tunangan dan akan menikah." Alena memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manisnya.
Sudut bibir Bimo terangkat mendengar ucapan Alena, kakinya melangkah maju memperpendek jarak keduanya. "Kamu yakin ingin menikah dengan pria itu." Sorot mata Bimo berubah dingin membuat Alena menelan ludah kasar.
"Jawab Alena..!! apa kamu yakin ingin menikah dengan pria itu." Bimo mencekram dagu Alena dengan tangannya agar mata mereka saling bertemu.
Alena mengangguk dengan cepat, meskipun jantungnya berdebar tak karuan.
Cup
Tok..tok..tok..
Suara ketukan pintu membuat Alena mendorong tubuh Bimo dengan kuat, setelah dirinya berusaha namun hanya sia-sia. Bimo mundur beberapa langkah dan menatap Alena dengan senyum menyeringai.
Alena mengusap bibirnya yang terasa kebas dan perih dengan punggung tangannya.
Tok..tok..tok..
Seseorang diluar sedang menunggu jawaban dari dalam, agar bisa masuk.
__ADS_1
Ceklek
Alena membuka pintu dari dalam, dan melihat kedua orang tua bosnya yang datang.
"Selamat siang, tuan, nyonya." Alena menunduk hormat dan pergi setelah mendapat anggukan.
"Kenapa kamu tidak mengangkat telpon dari Mama sih Bim?" Leina langsung menyembur Bimo yang baru saja duduk di kursi kerjanya.
Beberapa hari setelah memperkenalkan Siera kepada Bimo, telpon nya tidak pernah di angkat oleh Bimo. Dan sekarang dirinya datang membawa suaminya.
Bimo hanya menatap malas Mamanya yang mengganggunya.
"Memangnya ada apa sih Mah?" Bimo memutar kursinya untuk menghadap kedua orang tuanya yang sedang duduk di sofa.
"Kita harus bicara penting, iya kan Pah." Leina menepuk paha suaminya yang sejak tadi hanya diam saja.
Tak lama Alena masuk kembali membawakan minuman untuk pemilik perusahaan.
"Mama kamu ingin menjodohkan kamu dengan Siera, dan segera bertunangan." Rendy berbicara dengan menatap Alena yang sejenak berhenti menaruh gelas karena mendengar ucapnya.
Sempat melihat wajah Alena yang tadi keluar dari ruangan Bimo membuat Rendy merasa ada yang aneh, apalagi mereka cukup menunggu lama untuk di persilahkan masuk oleh Bimo.
Alena menaruh minuman di meja, dan pergi setelah pamit, tidak perduli jika dirinya sejak tadi di tatap tajam oleh Bimo. Alena bisa melihat dari ekor matanya.
"Yang benar saja Mah, Bimo masih bisa mencari jodoh Bimo sendiri." Ucapnya tertawa sumbang.
__ADS_1
"Dengar Nak, Siera adalah gadis baik dan sopan, apalagi dirinya juga seorang model dan anak dari Tuan Richard, jadi tidak ada salahnya menjodohkan kalian." Ucap Leina panjang lebar. "Mama yakin Siera adalah yang terbaik buat kamu."
Bimo terkekeh mendengar ucapan Mamanya. "Yang terbaik di mata Mama, belum tentu terbaik di mataku."