Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Menjelang


__ADS_3

Indahnya dunia dan nikmatnya kehidupan, tidak membuat dirinya melupakan suatu hal yang bisa dia lupakan seumur hidupnya, ketakutan rintihan dan suara kesakitan selalu terngiang-ngiang di kepalanya. Hari ini tepat dua puluh lima tahun seorang yang begitu dia cintai meninggalkannya untuk selamanya, alam semesta dan takdir memisahkannya dari separuh tulang rusuknya. Alena cinta cintanya sampai akhir hayat.


Bimo tersenyum mengusap nisan yang sudah dua puluh lima tahun dia kunjungi, nisan sang istri yang selalu dia rindukan, andaikan waktu bisa diputar kembali dirinya tidak akan membuat Alena menderita, dirinya akan membuatnya bahagia bila perlu tidak di kota ini. Sungguh Bimo tidak menyangka jika nasib percintaan hidupnya hanya sebentar saja.


"Semoga kita bersama kelak di surganya sayang."


Doa yang selalu dia panjatkan untuk sang Istri, tidak ada kata lain selain pertemuan yang dia nantikan suatu saat nanti.


"Papa." Sena dan Ren muncul dibelakang papanya.


Kedua anaknya juga mendatangi tempat peristirahatan ibunya.


Bimo tersenyum ketika mendengar suara putrinya yang kini sudah menjadi seorang ibu dengan dua anak kembar, ternayata tugasnya benar-benar sudah selesai mengurus putrinya, dan kini sudah ada pria yang menjaga putrinya setelah dirinya.


"Papa sudah lama disini." Tanya Ren yang menyusul duduk disebelah kakanya Sena, posisi Sena duduk ditengah-tengah kedua pria pelindung dirinya.


Bimo hanya tersenyum, putranya juga sudah besar dan menemukan kebahagiaan sendiri, kini sebentar lagi akan menjadi sosok seorang ayah dengan dua bayi kembar yang akan lahir ke dunia.


Sosok Birendra tak jauh dari sifatnya yang penyayang dan bertanggung jawab, kini putranya itu benar-benar keturunan darinya.


"Cukup lama, karena papa tidak akan sebentar bila berkunjung kerumah mamamu." Jawab Bimo yang hanya diangguki oleh Sena dan Birendra.


Bagi Bimo meskipun banyak waktu yang dia habiskan di rumah Istrinya, tidak akan mengulangi rasa rindunya yang dia simpan selama dua puluh Lima tahun ini, dan itu benar-benar membuatnya semakin tak bisa melupakan kisah hidupnya yang hanya sebentar untuk bersama sang Istri.


Tapi kini kehidupan mereka sudah berbeda, dan Bimo sadar jika mungkin inilah jalan takdir yang Tuhan berikan untuk Alena dan dirinya. Jalan takdir yang Tuhan berikan untuk kebaikan dirinya dan sang Istri. Jika Tuhan berkehendak dirinya meminta dipersatukan dikehidupan masa yang akan datang, masa yang tidak akan memisahkan dirinya dengan cinta yang selalu dihatinya, masa abadi yang akan membuatnya bahagia.


Tuhan kabulkan lah doanya.


.


.


"Selamat ulang tahun sayang." Alexa terseyum manis dengan membawa cake dan tertancap lilin di atasnya. Cake yang dia buat sendiri ketika suaminya itu pergi mengunjungi ibunya.


Ren terseyum senang melihat Alexa menyambutnya dirinya didepan pintu kamarnya.


"Terima kasih sayang." Ren mengucap doa dan meniup lilinnya, doa yang tersirat untuk kebahagiaan keluarga dan orang yang dia cintai.


"Apa hari ini dia rewel." Ren mengusap perut Istrinya yang sudah sangat bulat, bahkan terkadang Ren merasa ngeri sendiri karena kehamilan Alexa tidak pada umumnya dirinya mengandung dua bayi sekaligus.


"Em, sepertinya dia sudah tidak sabar ingin melihat papanya." Ucap Alexa dengan menggigit bibir bawahnya.

__ADS_1


"Ya, masih ada empat jam lagi untuk kita bersiap." Ren mencium kening dan bibir Alexa, melumatt sebentar bibir yang sudah menemaninya sampai sekarang.


Rencananya hari ini adalah jadwal Alexa melakukan operasi Caesar untuk kelahiran buah hatinya, karena Ren tidak ingin menagmbil resiko jika Alexa melahirkan secara normal. Meskipun dokter sudah memberi tahu jika Alexa bisa melahirkan dengan normal tapi calon papa itu tidak mau, dan memilih untuk melakukan operasi.


"Apa masih bisa papa menjenguk kalian untuk terakhir kali." Ucap Ren pada perut Alexa yang buncit. Ren berbicara didepan kedua buah hatinya.


"Mas, kamu ngaco."


"Karena setelah ini papa akan puasa lama." Ren mendongak menatap wajah istrinya dengan tatapan memohon. "Boleh yah sayang." Lirih Ren seperti anak kecil yang meminta mainan.


Alexa tidak menjawab melainkan berpaling memebelakangi suaminya.


"Sayang.." Ren menelan ludahnya kasar ketika Alexa meloloskan kain daster yang di pakai, hingga Ren bisa melihat lekuk tubuhnya istirnya yang polos dari belakang.


"Kami mengijinkannya papa." Alexa bicara menirukan suara anak kecil membuat Ren tersenyum senang.


"Engh.."


.


.


"Ar, kau tidak bercanda kan." Sena membulatkan kedua matanya ketika ketika melihat suaminya yang sedang berdiri dengan membawa kue beserta lilin yang menghiasinya.


"Selamat ulang tahun sayang, For my wife who I love the most in this world..because you are an angel that God brought." Aaron terseyum mempesona. Untuk istriku yang paling aku cintai didunia ini..karena kamu adalah bidadari yang Tuhan datangkan.


"Ar kau..!" Sena tidak bisa lagi berkata, matanya tidak bisa berbohong jika dirinya bahagia.


Memejamkan mata dan berdoa Sena hanya meminta kebahagiaan untuk orang-orang yang dia kasihi dan untuk rumah tangganya.


fyuhh


"Yeeyy.." Aaron bersorak. "I Love you." Kecupan seluruh wajah Aaron berikan dan terlahir lumatann di bibir sang Istri yang selalu membuatnya candu.


"Terima kasih Papa." Ucap Sena dengan senyum manis dan rasa bahagia.


Sena mendatangi kantor suaminya, setelah mendapat pesan jika Aaron akan pergi keluar negeri hari ini, karena kesal baru di beri tahu Sena langsung mendatangi kantor Aaron dan tidak tahu jika akan diberi kejutan oleh suaminya.


Bertambahnya usia mereka tidak pernah dirayakan, karena hari dan tanggal mereka sama dengan hari dan tanggal dimana sang Mama meninggalkan mereka selamanya.


"Ar, jadi kau benar-benar akan pergi?" Tanya Sena yang sudah duduk dipangkuan suaminya karena Aaron memintanya untuk duduk.

__ADS_1


"Ya, tapi tidak untuk sekarang." Aaron menyerang bibir sang istri,. mengecup dan menyesapnya.


"Tapi Ar_"


"Sstt, tidak sekarang karena aku akan mengajak kalian untuk berlibur." Potong Aaron yang mendengar Sena akan protes, karena semenjak memiliki bayi Sena tidak ingin ditinggal jauh oleh sang suami.


Mata Sena berbinar mendengar ucapan suaminya.


"Really.?"


"Ya, karena aku ingin mengajakmu bulan madu kedua." Aaron langsung mengendong Sena menuju kamar pribadinya, pria itu akan memakan Istrinya sampai tak tersisa.


"Ar,. hahaha sudah geli." Sena tertawa karena Aaron menyerang perutnya menggunakan bibir.


Bukanya berhenti Aaron malah semakin melancarkan aksinya.


"Ar.."


Sena tak bisa lagi tertawa, tumbuhnya meremang ketika Aaron menyentuh area yang membuatnya perlahan terbakar gairah.


"Kado untuk Mama."


"Ar,.ugh."


Sena memejamkan mata dengan meremas rambut Aaron yang melakukan kegiatan di bawah sana.


"Ar,. lebih dalam, shh." Suara Sena membuat Aaron semakin cepat memainkan lidahnya, dimana daerah lembah Sena sudah berkedut untuk meledakan sesuatu yang_


"Ahh, Ar kenapa berhenti." Sena menatap kesal suaminya yang tiba-tiba berhenti ketikan dirinya akan mencapai pelepasan yang sudah diubun-ubun.


"Tidak dengan bibir ku sayang."


Aaron memposisikan miliknya didepan rumah yang selalu membuat miliknya terasa hangat dan nyaman.


"Argh."


.


.


Duh muncul-muncul kok panas 😩

__ADS_1


__ADS_2