
Setelah acara itu selesai, tepatnya belum benar-benar selesai Aaron sudah lebih dulu keluar dari aula tersebut. Dirinya sudah malas berlama-lama di dalam ruangan itu, dimana semua orang bahagia dan memberi Sena selamat.
"Gue gak bisa kayak gini, tapi gue harus apa." Aaron berjalan tanpa melihat kanan kiri di mana saat dirinya melintasi bagian perbaikan atap.
"Ar..Awass..!!"
Bugh
Sena mendorong tubuh Aaron, dan keduanya jatuh ke lantai dengan Sena posisi di atas tubuh Aaron.
"Akkhh..!!" Sena menjerit ketika besi itu jatuh menimpa bagian belakang tubuhnya.
"Sen..Sena..!!" Aaron langsung langsung duduk dengan Sena berada di pelukannya.
Petugas yang berada di atas langsung turun, terkejut melihat kejadian barusan.
Sena merintih, ketika punggungnya merasa sakit dan panas.
"Ar..Sakit.." Sena meringis merasakan sakit.
"Kita ke dokter..!!" Aaron langsung membopong tubuh Sena ala bridal keluar dari area itu.
"Mas maafkan saya." Petugas itu sudah ketakutan melihat seorang wanita menjadi korbannya. Aaron tidak menjawab melainkan buru-buru membawa Sena ke rumah sakit.
Padahal sebelum masuk keruangan itu sudah di beri peringatan untuk tidak melintasi area itu Tapi Arron tidak memperhatikan sekitar. Dan ketika tak sengaja petugas yang berada di atas menjatuhkan besi panjang yang lumayan besar tepat di saat Aaron melintasinya.
Tidak ada yang melihat kejadian itu karena semua orang masih di dalam aula, Sena yang melihat Aaron keluar mencoba mengejar dan ternyata dirinya melihat jika Aaron dalam bahaya, Sena mencoba untuk menyelamatkan Aaron tapi malah dirinya yang kena.
"Sayang apa sakit?" Tanya Aaron ketika Sena duduk dengan miring dan masih meringis.
Wajah Aaron sangat panik dan khawatir, bahkan dirinya mengendari mobil dengan kecepatan tinggi.
"Em.." Sena mengangguk, memang rasanya begitu sakit dan panas, karena besi itu cukup besar dan berat.
"Sabar sayang, kita akan segera sampai di rumah sakit."
Tak lama mobilnya memasuki halaman parkir RSUD R.Syamsudin, S.H. Dimana rumah sakit yang lumayan lebih dekat dari pabrik.
"Suster..!! Tolong pasien." Aaron berteriak di lobby rumah sakit, wajahnya panik seperti membawa pasien sekarat.
Suster yang melihatnya langsung membawa brankar dan menyuruh Aaron meletakkan Sena di sana.
Sepanjang lorong Aaron terus memegang tangan Sena, wajahnya pun sudah tak bisa lagi tenang melihat Sena yang yang memajukan mata menahan sakit.
"Anda tunggu di luar dulu Mas, biar dokter yang tangani." Ucap suster yang mencegah Aaron ketika ingin masuk.
"Tapi sus dia_"
"Maaf, anda tidak bisa masuk." Suster itu langsung menutup pintu UGD, membuat Aaron mengusap wajahnya kasar.
Mondar-mandir di depan pintu, Aaron sesekali mengintip dari kaca kecil yang berada pi pintu meskipun tak terlihat.
Setelah hampir tiga puluh menit, pintu UGD terbuka, dokter keluar dan diikuti perawat serta Sena yang di dorong di atas brankar.
__ADS_1
"Dokter.. bagaimana lukanya?"
"Sudah saya obati, beruntung tidak ada yang tulang yang patah hanya memar yang mungkin sedikit lama untuk di pilihkan." Jelas dokter itu membuat Aaron bernapas lega.
"Sen kamu baik-baik saja?" Aaron langsung menghampiri Sena.
"Hm.." Sena hanya mengangguk.
Sena di pindahkan keruang rawat, dimana Aaron memesan kamar VVIP untuk Sena.
"Ar.." Panggil Sena ketika Aaron sedang menerima telfon.
Aaron segera mematikan ponselnya dan mendekati Sena.
"Kenapa? ada yang sakit?" Aaron menyentuh bahu Sena.
Sena menggeleng. "Kamu marah?" Tanya Sena tiba-tiba.
"Ya aku marah." Aaron menatap wajah Sena yang tiba-tiba sendu. "Marah karena sudah membuatmu seperti ini, marah karena tidak bisa menjagamu."Tangannya mengelus pipi Sena.
Sena menggeleng. "Bukan itu? Kamu marah waktu masih di aula dan kamu pergi dari sana karena marah." Mata Sena berkaca-kaca entah mengapa dengan pria didepanya ini dirinya mudah sekali sedih. Padahal Sena tipe gadis yang cuek.
Kepala Aaron menunduk, menarik napas Aaron kembali menatap wajah Sena.
"Aku kecewa dengan diriku sendiri, kenapa bukan aku yang mendapatkan mu. Kenapa harus pria lain yang di jodohkan dengan mu, kenapa bukan aku." Aaron duduk di samping Sena yang juga sedang duduk di atas ranjang.
"Aku rela melakukan semua hal termasuk kabur dari perjodohan yang kakek buat, dan aku mengejarmu? Tapi kenapa tuhan tidak bisa membuatmu berjodoh denganku, apa aku memang tak pantas untukmu."
Sena menggeleng, tanda tidak setuju dengan yang Aaron katakan.
"Kamu pria baik, pasti Tuhan sudah siapkan jodoh yang terbaik untukmu, meskipun bukan diriku." Sena menunduk.
"Ya, mungkin Tuhan masih menguji kesabaran ku." Aaron merangkul bahu Sena untuk didekapnya.
"Kita teman." Ucap Aaron mengecup kepala Sena.
Setelah satu hari berada di rumah sakit, kini Sena sudah kembali ke Jakarta dengan diantar oleh Aaron.
Mereka sampai ketika langit sudah gelap, Sena masih duduk diam di dalam mobil Aaron.
"Terima lah Ar, pilihan orang tua tidak mungkin salah untuk anaknya." Sena menatap wajah Aaron dari samping, dimana pria itu bersandar di kursi mobil dan memejamkan mata.
Aaron bercerita ketika Sena bertanya kenapa keluarganya menghubungi nya terus, dan ternyata Aaron juga harus menghadiri perjodohan yang keluarganya buat, bahkan di hari yang sama keduanya akan mengadakan pernikahan.
Sena mencoba menguatkan hati agar air matanya tak jatuh, sebisa mungkin dirinya tegar.
"Percayalah kita akan bahagia dengan pilihan orang tua kita." Tangan Sena meraih telapak tangan Aaron dan menggenggamnya. "Justru kalau kita nikah bareng nanti kita bisa doubel date, bila perlu kita bulan madu bersama-sama."
Pletak
Aaron menyentil kening Sena.
"Ar..sakit..!!" Sena mengusap keningnya, menatap tajam Aaron.
__ADS_1
"Jika kamu bisa, lakukan lah. Mungkin bukan malah bulan madu dengan pasangan kita, melainkan aku yang akan menculik mu."
Sena mendelik mendengar ucapan Aaron. Keduanya berada di dalam mobil, dimana mobil Aaron berhenti didepan rumah Sena.
"Otakmu memang mesum." Sena ingin membuka pintu, tapi masih di kunci oleh Aaron.
"Aku mau keluar, buka pintunya."
"Hah.." Aaron menghela napas. "Bisakah lebih lama berada di dekatku." Katanya dengan menatap wajah Sena. "Ini terakhir kita bisa berdua seperti ini, besok sudah ada bodyguard yang akan menjagamu dua kali dua puluh empat jam, dan aku yakin pasti masih bisa mencuri kesempatan untuk berduaan dengan kamu." Aaron tersenyum konyol.
Bugh
"Mimpi saja." Sena yang kesal segera keluar dari mobil Aaron ketika pria itu membuka kuncinya, Aaron tertawa keras dalam mobil, tawa yang mampu mengeluarkan air matanya.
"Kenapa dadaku sesakit ini." Gumamnya melihat Sena yang sudah hilang masuk ke rumah.
"Kamu membuatku sedih sen." Aaron mengusap air matanya yang menggenang di ujung mata.
Menghidupkan mesin mobil Aaron meninggalkan kediaman rumah yang mungkin tidak akan pernah dia datangi lagi.
Di Sebuah gedung hotel milik keluarga Bagaskara sudah di sulap menjadi dekorasi yang sangat megah. Dimana di gedung itu besok pagi akan di adakan acara ijab kabul.
Bahkan keluarga semua nampak sibuk, meskipun semua sudah di serahkan pada pihak WO yang bertanggung jawab, tapi mereka ingin memastikan jika semua berjalan dengan sempurna.
Di kediaman keluarga Lewis, tepatnya di mansion. Aaron menatap ketiga orang tua yang sedang duduk dengan santai di mana mereka hanya menunggu jawaban dari mulutnya, iya atau tidak.
Aaron teringat pesan yang Sena kirim tadi malam, setelah dirinya mengantar gadis itu.
"*Ar.. jangan kecewakan orang tua, karena mereka yang memberi kebahagiaan untuk kita..Dan aku mencintai pria yang menghargai pilihan orang tua, terlepas itu demi kebahagiaan kita, atau kebahagiaan mereka sendiri, percayalah Ar.. semua sudah tuhan garisk*an..kita akan bahagia dengan jalan hidup kita sendiri..
^^^Aku wanita yang beruntung dicintai pria sepertimu..^^^
"Baiklah aku terima perjodohan ini." Aaron menghembuskan napas kasar. Semua dia lakukan demi Sena.
Arin mengembang senyum, dirinya langsung beranjak duduk dan mendekati putranya untuk di peluk.
"Aahh sayang..kamu memang anak Mama." Arin menciumi pipi putranya.
"Mah, Ar bukan anak kecil lagi." Aaron mendengus kesal, Mamanya tidak pernah berubah selalu memperlakukan nya seperti anak kecil.
"Kamu memang akan selalu kecil di Mama, kecuali kamu sudah bisa memberikan Mama cucu baru Mama akan mengakui jika kamu sudah besar."
Aaron mendelik tajam mendengar ucapan mamanya.
"Baiklah semua sudah siap, dan kamu Ar jangan lupa istirahat, karena besok adalah hari s jarah kamu." Ucap Arthur yang berdiri dan menggandeng istrinya untuk masuk ke kamar.
"Kamu akan berterima kasih pada kakek." Kakek Lewis tertawa melihat wajah kesal Aaron.
"Cih, gara-gara Kakek hidup ku menjadi suram." Aaron menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi.
"Tuhan semoga jodohku Sena." Gumamnya masih berharap dengan keajaiban.
Kalau rame hadiah bertebaran, author gak akan pelit update... jadi hayukkk kasih author semangat dan hadiah kalian gaess😭
__ADS_1