
Wajah Sena memerah ketika ketika mendengar umpatan Aaron.
"Sen, tolong bantu aku." Aaron mengulurkan tangannya pada Sena.
"Ar, seharusnya kau tidak ada disini." Mau tidak mau Sena membantu Aaron untuk bangun dan mendudukkannya di kursi, melihat wajah Aaron yang begitu menahan sakit, membuat Sena ngilu sendiri.
"Lalu aku harus dimana?" Aaron yang kesal dan menahan sakit membuatnya bicara ketus pada Sena.
"Kenapa kamu membentak ku." Sena menatap Aaron kesal.
Aaron langsung menatap wajah Sena. "Aku tidak membentak mu Sayang, lain kali jangan ulangi perbuatan mu yang bisa menghancurkan aset masa depan kita." Ucap Aaron yang sudah berubah ke mood sayang.
"Cih, kamu pikir aku mau membuat pabrik anak dengan mu." Sena menatap Aaron sinis. "Lebih baik kamu pergi sekarang, sebelum mereka mengetahui kamu disini." Sena mencoba menarik Aaron agar bangun.
Tapi Aaron malah menarik tangannya, dan membatunya duduk di atas pangkuan Aaron.
__ADS_1
"Ar..apa yang kamu lakukan."
"Memeluk istriku apalagi." Aaron memeluk pinggang Sena dan mencium pipinya.
"Ar, jangan sampai aku berbuat kasar lagi." Sena mencoba melepaskan rangkulan tangan Aaron.
"Ck. kamu memang tidak kasihan dengan ku hm." Aaron menatap wajah cantik istrinya, dirinya tidak menyangka akan bisa mendapatkan Sena seutuhnya.
"Ar, jangan seperti ini, aku sudah menikah dengan orang lain." Mata Sena berkaca-kaca ketika melihat wajah Aaron di depannya. "Jangan buat aku merasa berdosa Ar. kamu pasti meninggalkan calon istrimu, hanya untuk menemuiku."
Bibir Aaron berkedut, menahan tawa mendengar apa yang Sena katakan.
Ingin sekali Aaron meledakkan tawanya, tapi melihat wajah Sena yang sedih membuatnya tak tega, lebih baik dirinya mengikuti rencana para orang tua, yang sudah mengerjainya habis-habisan.
"Kamu yakin tidak ingin pergi dengan ku." Tanya Aaron dengan menyentuh wajah Sena.
__ADS_1
"Ar, aku_"
"Baiklah." Aaron menyuruh Sena untuk berdiri. "Jika kamu bahagia dengan pernikahan ini, maka aku juga harus bahagia dengan pernikahanku sekarang ini." Aaron menghela napas dalam.
Sena menatap wajah Aaron dengan sedih. "Yasudah, semoga kita selalu bahagia." Aaron mencium kening Sena dan keluar dari kamar Sena, tapi ketika ingin membuka pintu, suara Sena menghentikannya.
"Ar..!!" Sena menubruk punggung Aaron dari belakang di mana dirinya memeluk tubuh pria yang sudah tidak bisa di gapai.
"Kenapa hm." Tanya Aaron dengan tertawa tanpa suara, sekuat tenaga dirinya menahan suaranya agar tidak keluar.
"Maaf, kalau aku tidak ikhlas melihatmu menikah dengan wanita lain." Sena menangis di punggung suami yang belum Ia ketahui.
Aaron beberapa kali menghembuskan napasnya, agar suaranya kembali normal.
"Hm.. terima kasih." Aaron melepas tangan Sena dan membuka pintu untuk keluar dari dalam kamar Sena.
__ADS_1
"Hahahaha...." Aaron tertawa terbahak-bahak ketika sudah sampai di luar. "Ya ampun Sena." Ternyata Sena lebih parah dari dirinya. "Semoga kamu tidak pingsan nanti saat kita satu pelaminan." Aaron memegangi perutnya dengan suara tawa yang masih terdengar, perutnya sampai kram dan sudut matanya berair. Sungguh dirinya tidak tega melihat wajah sedih Sena, ketika menyuruhnya untuk menikah dengan wanita lain.
Jika tadi dirinya yang merasa sendiri di permainkan dengan keluarganya, maka sekarang dia memiliki teman, yaitu istrinya yang juga mendapat kejutan dari keluarga mereka.