
Berminggu-minggu kemudian...
Alena masih seperti biasa berangkat bekerja meskipun sudah menjadi nyonya di kantor suaminya, tapi seratus itu hanya suami dan Gina yang tahu, meskipun beberapa kali sempat kepergok oleh satpam basemen kantor ketika dirinya berangkat bersama dengan Bimo dan jalan bergandengan masuk ke dalam kantor. Tapi nyatanya gosip dirinya tidak beredar di kalangan karyawan kantor.
Entah pak satpam yang diam dan pura-pura tidak tahu apa-apa, atau memang suaminya yang membungkam satpam itu. Alena tidak mau ambil pusing tentang hal itu, karena terpenting dirinya bukan simpanan atau selingkuhan melainkan istri sah yang belum di ketahui statusnya.
Pernikahan mereka sudah dua bulan, dan kini keduanya kembali menjalani kehidupan seperti biasa.
Alena belum pernah kembali bertemu dengan Mama mertuanya semenjak kejadian itu. Entah mengapa ketika dirinya mengajak suaminya pergi kerumah orang tuanya, Bimo selalu menolaknya.
Sore ini Alena pulang lebih cepat karena ingin membuat masakan kesukaan suaminya, Alena sedang berada di supermarket dekat kantor mencari bahan untuknya masak.
Memilih sayuran segar, tiba-tiba Alena di kejutkan dengan keranjang sayurannya yang jatuh berhamburan.
"Ck. jadi kerjaan babu kaya kamu berkeliaran di supermarket bukan di pasar loak." Siera menatap sinis Alena yang menatapnya tajam.
Ketika memasuki supermarket tak sengaja Siera melihat Alena yang sedang memilih sayuran dan dengan ide liciknya Siera merampas keranjang Alena dan menjatuhkannya ke lantai.
"Mau kamu apa? saya gak ada urusan dengan kamu." Alena menatap Siera tajam, jika biasanya dirinya akan diam ketika diperlakukan kasar, itu karena ada mama mertuanya bersama wanita didepanya ini. Dan sekarang Alena berani melawan karena Siera hanya sendiri.
"Oh.. rupanya wanita sok polos seperti kamu sudah berani melawan saya." Siera mendorong bahu Alena kuat.
"Jangan pikir saya takut sama perempuan seperti kamu." Alena balas mendorong bahu Siera.
__ADS_1
Merasa tertantang Siera menatap tajam Alena.
"Jadi kamu mau melawan saya hah..!!" Siera mendorong Alena sampai tersungkur.
"Auws." Alena meringis ketika bokongnya menyentuh lantai dengan kuat.
"Denger ya wanita jal*ng..!!" Siera menarik rambut Alena. "Asal kamu tahu, wanita jal*ng seperti kamu tidak pantas menjadi nyonya Bagaskara." Siera tertawa sinis.
Alena menepis tangan Siera kasar. "Lalu apakah jal*ng seperti kamu yang pantas nona Siera Marhen." Alena menatap sinis Siera dengan senyum miris.
"Kau..?" Tangan Siera sudah terangkat untuk menampar wajah Alena, tapi suara panggilan namanya membuatnya mengurungkannya.
"Ahkk..!!" Siera menjerit keras dan membanting tubuhnya kebelakang.
"Ya ampun Siera kamu kenapa..!!" Leina menghampiri Siera yang duduk di lantai dengan wajah menahan sakit.
Beruntung bagi Siera karena keadaan sekitar lumayan sepi, jadi tidak ada yang melihat aktingnya yang hanya pura-pura.
"Tidak apa Tante, hanya saja Alena mendorong saya sampai jatuh." Siera pura-pura sakit di bokongnya.
"Kamu..!!" Leina menatap tajam Alena yang sudah berdiri dengan tatapan menusuk.
"Mah.." Alena menggelang kepala merasa ada bahaya yang akan datang padanya.
__ADS_1
Plak..
Satu tamparan keras mendarat di pipi Alena hingga wajah Alena sampai menoleh ke samping.
"Kamu wanita tidak tahu diri..!! sudah puas kamu membuat saya bertengkar dengan Bimo hah..!!" Leina kembali menampar Alena untuk kedua kali.
Air mata Alena jatuh seketika, bukan hanya fisik tapi hatinya juga sakit.
"Dengar ya wanita murahan, jangan senang dulu kamu karena di bela anak saya, karena kamu anak saya jadi membangkang dan membentak saya, dan kamu puas setelah saya diusir anak saya sendiri dari rumahnya, hah..!!" Amarah Leina menggebu-gebu meluapkan kemarahannya yang belum tersalurkan ketika dirinya di bentak oleh Bimo dan pergi dari rumahnya.
"Jangan harap kamu akan menjadi menantu saya, lebih baik kamu pergi jauh dari putra saya, karena kamu hanya membuat pengaruh buruk untuk Bimo sampai dia berani melawan mamanya sendiri." Leina menunjuk Alena dengan jari telunjuknya.
Tidak perduli jika kini keadaan sekitar telah ramai
dan kejadian mereka di saksikan banyak orang pengunjung supermarket itu.
Siera hanya tersenyum culas di belakang tubuh Leina, dirinya tertawa puas melihat betapa kemarahan Leina yang pasti membuat Alena sakit hati.
Alena yang hanya diam tanpa menjawab semakin deras menangis ketika beberapa orang pengunjung mencibir dan mengatainya.
"Mah, maaf jika Alena sudah membuat Mama sakit hati karena Alena." Alena menatap Leina dengan air mata. "Alena tidak pernah menghasut mas Bimo, Alena bahkan tidak pernah mengadu apapun dengan mas Bimo Alena hanya ingin Mama menerima Alena yang sudah Menikah dengan mas Bimo tidak lebih." Alena mengusap hidungnya yang berair, menatap Leina dengan penuh rasa bersalah.
"Alena akan lakukan apapun asal Mama mau memaafkan Alena dan jangan menyalahkan Mas Bimo lagi, karena Mama adalah wanita yang Mas Bimo kasihi dan cintai." Alena memohon dengan mengatupkan kedua tangannya.
__ADS_1
Tidak peduli jika di depan umum yang terpenting Mama mertuanya mau memaafkan dirinya dan menerima nya menjadi menantu.