Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part25


__ADS_3

Keduanya sedang duduk di meja makan, Bimo nampak santai menikmati nasi goreng buatan Alena.


Alena makan dalam diam dengan sesekali melirik ke arah bosnya, jika Bimo makan dengan santai namun tidak bagi Alena. Jantungnya tidak merasa aman, bahkan kejadian yang membuat tubuhnya melemas sudah berlalu tiga puluh menit yang lalu. Begitu besar pengaruh bosnya itu pada jantung nya.


Alena berpikir, jika dekat dengan Diki jantung nya tidak berdebar kencang seperti ketika berdekatan dengan bos nya. Entah mengapa Alena mulai membandingkan Diki dan bosnya.


Larut dalam lamunannya, Alena tidak tahu jika Bimo menatapnya lekat dengan kedua tangan menyangga wajahnya.


Bimo tersenyum tipis, kenapa wajah Alena begitu lucu ketika sedang melamun begitu.


Tangan nya terulur menyentuh sudut bibir Alena."Makan Ale, jangan ngelamun."


Alena tersadar, dan lagi-lagi tubuhnya meremang dengan detak jantung tidak aman. Jari Bimo menyentuh sudut bibirnya membuat tatapan mereka bertemu.


"Ada nasi, kalau makan jangan sambil melamun." Bimo menunjukan nasi yang berada di jarinya. "Habiskan, aku antar pulang." Bimo menatap lekat Alena yang masih diam. "Atau mau tidur disini bersamaku." Ucapnya dengan menaikkan satu alisnya.


Alena buru-buru menggelengkan kepalanya, dengan cepat dirinya menghabiskan sisa makannya.


Bisa mati jantungan kalau lama-lama sama bos menyebalkan itu. Alena menggerutu dalam hati.


.


.


.


Dilain tempat, tepatnya di sebuah apartemen nampak dua orang sedang bertengkar.


"Pokok nya aku gak mau tau, kamu harus segera nikahin aku." Ucap wanita yang sedang menatap marah pada pria didepannya.


"Kamu sabar dong, mana bisa aku lakuin itu tanpa restu kedua orang tuaku."Ucap si pria dengan mengusap wajahnya frustasi.


Dirinya yang datang keapartemen si wanita niat ingin meluapkan rasa marahnya dengan bercinta, tapi malah mendapat rentetan permintaan yang tambah membuatnya sakit kepala.


"Oke..jika kamu tidak ingin menikahi ku, maka jangan salahkan aku jika aku sendiri yang akan meminta kedua orang tuamu untuk menikahkan kita." Wanita itu menatap sinis pria yang sebenarnya dia cintai, dirinya tidak ingin miliknya menjadi milik wanita lain setelah apa yang ada pada dirinya telah ia berikan pada pria didepanya itu.


"Kamu jangan coba-coba ya." Menatap tajam wajah wanita yang menatapnya tidak takut.


"Jika tidak ingin macam-macam maka nikahi aku." Ucap wanita itu mendekat dan duduk di atas pangkuan si pria.


"Aku akan usahakan." Melihat wajah wanitanya yang menggoda tak sabar bibirnya langsung menyambar bibir wanitanya dengan penuh nap*su.

__ADS_1


Sesapan dan decapan membuat suasana ruang apartemen itu menjadi panas, kini tubuh wanita itu sudah setengah telanjang di bagian atas.


Tangan nya terus bergerak memberi pijatan dan memilin benda kecil ranum yang sudah mencuat di antara dua buah dada yang begitu menggoda.


"Kita pindah ke kamar."


.


.


"Apa Alisa tidak apa-apa kamu tinggal sendiri." Bimo fokus pada jalan di depan, dirinya mengajak bicara Alena yang sedari tadi hanya diam.


Entah apa yang dipikirkan Alena, menurutnya gadis itu terlihat aneh dan banyak diam tidak seperti biasanya yang menyebalkan.


"Ale..." Bimo menyentuh tangan Alena yang berada di atas pahanya.


"Eh.." Alena yang kaget pun langsung Manarik tangannya.


"Bapak jangan macam-macam ya." Alena mendelik ke arah Bimo dengan wajah waspada.


Bimo terkekeh, dia pikir Alena berubah menjadi gadis pendiam, ternyata tidak. "Kamu saya tanya tidak menjawab, tapi hanya di pegang tangan, kamu langsung bereaksi."


Alena menautkan kedua alisnya bingung, 'kapan bos yang dingin itu mengajaknya bicara'.


"Bapak jangan nakut-nakutin saya ya, saya masih normal tidak kesambet." Alena mengusap lengannya yang merinding.


"Mana bisa kamu menilai diri kamu normal atau tidak, sedangkan yang bisa melihat hanya saya." Bimo masih melancarkan aksinya.


Melihat wajah ketakutan Alena hiburan baru untuknya, ternyata bukan hanya wajah Alena yang menyebalkan saja yang terlihat menggemaskan, namun wajah takut Alena juga sangat membuatnya ingin tertawa.


"Bapak...ih.." Alena memukul lengan Bimo, membaut sang tersangka tertawa lebar.


Alena terpesona dengan wajah bosnya yang sangat tampan ketika tertawa, bahkan dua kali lipat lebih tampan.


"Eh...kenapa malah jadi memuji bos menyebalkan itu." Alena bergumam dalam hati, namun pandanganya tak lepas dari wajah Bimo yang masih tertawa.


Mobil Bimo memasuki pekarangan rumah Alena yang sudah nampak sepi karena jam sudah menunjukan pukul sebelas malam. Jika Alena tidak mempunyai adik mungkin Bimo sudah mengurung Alena di apartemen nya.


"Alisa di rumah sendiri?" Tanya Bimo lagi, karena tadi belum mendapat jawaban.


"Alis sama mbak Mirna, tadi udah aku titipin." Alena membuka pintu mobil dan keluar diikuti Bimo.

__ADS_1


"Bapak sudah malam, jangan mampir ya." Ucap Alena di ambang pintu karena bosnya itu mengikuti langkahnya.


"Ck. sudah aku bilang jangan panggil aku bapak." Ucap Bimo dengan kedua tangan ia masukkan ke saku celana.


"Terus aku harus panggil apa, menurutku panggilan bapak itu sudah sopan." Ucap Alena yang nampak berpikir panggilan apa yang pantas untuk bosnya, selain bapak.


"Panggilan itu boleh kamu gunakan ketika di kantor Ale, dan saat kita sedang berdua panggil namaku saja." Ucap Bimo yang masih menatap Alena.


"Hem..Oke.. Bim-Bim, ya itu panggilan saya untuk bapak." Ucap Alena dengan wajah senang karena mendapat panggilan yang menurutnya sangat pas untuk bos menyebalkan nya.


"Ck. berasa kucing gue, dipanggil Bim-Bim." Bimo mengusap tengkuk nya yang merasa lucu mendengar panggilan barunya dari Alena.


"Yasudah gih masuk, besok kerja jangan bolos." Bimo menyuruh Alena masuk, karena melihat gadis itu tersenyum senang karena panggilan baru untuknya membuat desiran halus di hati, jantungnya pun kembali tak sehat.


"Selama malam." Alena berbalik, namun tangan nya ditarik oleh Bimo.


"Apa lagi pak?"


Cup


"Selamat malam." Bimo segera pergi, meninggalkan Alena yang diam membeku dengan wajah terkejut.


Apa tadi? bosnya mencium bibirnya?


Meskipun bukan ciuman lebih tepatnya hanya menempel, namun sudah berhasil membuat tubuhnya seperti patung.


Kenapa jantung gue, mau meledak? Alena buru-buru masuk rumah, dengan wajah memerah.


Meskipun bukan pertama kali, namun entah kenapa malam ini terasa berbeda.


Bimo menatap punggung Alena yang masuk kerumah dari dalam mobil, dirinya cepat pergi karena merasa jantungnya kembali berdebar kencang rasanya seperti mau meledak, entah mengapa dirinya sering sekali merasakan jantungnya tidak berfungsi normal, apakah tanda-tanda dirinya memiliki sakit jantung?


"Gue butuh periksa ke dokter kayak nya."


Bimo kembali melajukan mobilnya untuk pulang, sepertinya malam ini dirinya tidak akan tidur nyenyak, memikirkan jantungnya.


.


.


Neng Alena mah, bikin Ayank Bimo sakit jantung..🥰

__ADS_1



__ADS_2