Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part115


__ADS_3

Menghabiskan waktu di dalam apartemen, Bimo selalu menempel pada Alena apalagi mereka baru saja menghabiskan waktu petang dengan kegiatan ranjang yang begitu panas dengan bercucuran keringat.


Alena baru saja keluar dari kamar mandi dan menuju dapur kecil yang ada di apartemen.


"Yank, lepas ihh." Alena menggoyangkan tubuhnya agar suami nya itu melepaskan tangannya yang melingkar diperutnya.


Bimo tidak bergeming kepalanya menempel di samping pipi Alena.


"Gimana aku mau lepasin sayang, jika kamu berpakaian yang selalu memancing milikku untuk bangun." Ucapnya dengan memberi kecupan lembut di telinga istrinya.


Ya, akhir-akhir ini Alena suka sekali memakai kaus milik suaminya yang tentu saja kebesaran untuk dirinya, dengan hanya memakai kaus oblong bahkan Alena tidak memakai bawahan dan hanya memakai dalaman saja, karena panjang kaus yang Ia kenakan panjangnya sampai paha. Dirinya memang cukup berani untuk menggoda predator sang selalu siap memangsa nya dan Alena tidak pernah kapok.


Alena mendengus kasar. "Milikmu memang selalu bangun dan tidak tahu tempat." Ucap Alena dengan kesal.


Padahal mereka baru saja habis melakukan percintaan yang menguras tenaganya dan baru satu jam dirinya bisa berdiri dan berjalan dengan tubuh yang masih terasa lelah.


Bimo hanya tersenyum mendengar sindiran sang istri. "Tempat nya hanya disini sayang." Tangan nakal Bimo mengelus milik Alena di balik kain penutup dibawahnya.


"Bim-Bim..!!" Alena memberengut dengan wajah kesal bercampur malu.


Bimo hanya tertawa dirinya suka jika membuat Alena merasa malu dan terbakar gairah, wanita itu terlihat sangat cantik dan seksi, apalagi ketika suara indahnya selalu berhasil membuat Bimo semakin bergairah.


Keduanya duduk di sofa dengan menonton televisi dan membuat cokelat panas untuk menemani waktu santai malam mereka.


Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam waktu setempat. Keduanya sepakat untuk melakukan perjalanan esok pagi mengunjungi tempat-tempat wisata yang ingin Alena datangi.


"Semoga disini akan segera hadir malaikat kecil kita." Tiba-tiba tangan Bimo mengelus perut Alena.


"Hem, semoga sayang." Alena tersenyum dirinya juga berharap agar segera hadir malaikat kecil mereka yang akan melengkapi kebahagiaan mereka berdua.


Bimo merangkul bahu istrinya dan mendaratkan kecupan di pelipis Alena.


Mereka menikmati malam tanpa ada yang mengganggu, berharap ketika pulang ke tanah air mendapat kabar bahagia dan membuat Mamanya menerima kehadiran Alena yang sudah menjadi istrinya. Bimo yakin jika Alena hamil Mamanya pasti akan senang dan menerima kehadiran menantu dan calon cucunya.


Lain yang dipikirkan Bimo, lain juga yang dipikirkan Alena, dirinya masih belum yakin meskipun ada kehadiran malaikat kecil dalam pernikahannya, apakah ibu mertuanya akan menerima dirinya. Dan itu cukup membuat dirinya terus berpikir bagaimana caranya untuk mengambil hati ibu mertuanya, melihat wajahnya saja sudah merasa jika Alena adalah wanita paling menjijikan.


Dan rasa nyeri itu kembali hadir di hatinya, ketika mengingat terakhir kali dirinya dipermalukan di tempat umum, sungguh Alena tidak menyangka jika mertuanya bisa Setega itu dengan dirinya.


"Sayang.." Suara Bimo menyadarkan Alena dari lamunannya.


"Ya.." Jawabnya menoleh menatap wajah suaminya.


"Kamu sedang memikirkan sesuatu?" Tanya Bimo dengan menatap mata Alena lekat.


"Hem, apakah Mama akan menerima ku, jika nanti aku hamil?" Tanya nya dengan wajah sendu.

__ADS_1


Bimo menatap wajah istrinya lekat, hatinya mencolos ketika mendapat pertanyaan seperti itu.


"Pasti sayang, Mama pasti akan menerima pernikahan kita." Ucapnya membesarkan hati istrinya.


"Semoga ya." Alena merapatkan tubuhnya dan memeluk pinggang suaminya.


Menikah dengan seorang Bimo Bagaskara tidak pernah ada dalam pikiranya, apalagi dicintai dengan begitu tulus oleh pria dingin dan cuek seperti suaminya.


Mungkin inilah awal pengorbann cintanya yang harus dirinya lalui.


.


.


"Bagaimana dengan rencana kamu?" Tanya seorang pria yang duduk didepan seorang gadis.


"Sejauh ini berjalan lancar Dad, tinggal menambah sedikit bumbu-bumbu pedas pasti akan sesuai rencana." Ucap gadis itu dengan seringai di bibir seksinya.


"Kamu memang putri Daddy yang paling pintar." Richard tersenyum puas mendengar jawaban sang putri. Karena usahanya untuk membuat proyek Bimo hancur menjadi gagal.


"Tentu saja, penghinaan mereka tidak akan mudah aku lupakan." Siera berkata dengan wajah penuh kebencian.


Berawal dari rasa penasaran dan ingin memiliki kini rasa itu perlahan menjadi kebencian yang mendalam.


"Baiklah, Daddy tunggu kabar bahagia dari rencana mu."


.


.


"Dasar gadis O*on." Yuda mengumpat kesal, sejak tadi dirinya dikerjai oleh Gina yang tak kunjung menemui dirinya, ternyata gadis itu melupakan janji temu mereka.


"Lama ya nunggunya, sorry sengaja." Ucap Gina yang sudah duduk di kursi mobil Yuda.


Yuda menatap Gina kesal, baru kali ini dirinya di sepelekan oleh seorang wanita, apalagi wanita seperti Gina.


"Lagian kamu juga sih, ngapain pake ngajakin aku segala kan pacar kamu banyak." Ucap Gina sambil memasang sealtbeat nya yang agak susah, apa dianya yang tidak bisa?


"Iss..susah banget sih." Omelnya sambil menarik tali sealtbeat tapi tak bisa.


Yuda masih dengan tatapan datarnya, namun melihat Gina yang kesusahan dirinya juga tak tega, apalagi jika terjadi sesuatu di jalan akan membuatnya kesusahan.


"Ck. gitu aja gak bisa, lemah."


Tubuh Yuda mendekat agar bisa menjangkau tali sealtbeat yang tersangkut.

__ADS_1


Gina menahan napas ketika wajah Yuda berada di depannya dengan jarak begitu dekat, bahkan dirinya bisa mencium wangi parfum yang Yuda pakai.


Deg


Jantung Gina terasa berdebar ketika wajah Yuda tiba-tiba menoleh dan kini keduanya saling bertatapan dengan jarak begitu dekat, bahkan nafas keduanya bisa mereka rasakan.


Mata Yuda turun kebawah, melihat bibir ranum Gina yang begitu alami menggoda.


Sesaat keduanya sempat terdiam dengan pikiran saling mengagumi masing-masing.


Bugh


Gina mendorong tubuh Yuda ketika wajah Yuda semakin mendekat ke wajahnya.


"Minggir, jangan modus deh..!!" Omel Gina dengan wajah kikuk antara malu dan kesal.


Yuda mengusap wajahnya kasar bisa-bisa otaknya membayangkan dirinya sedang Melumaatt bibir ranum Gina.


Pikiran liar Yuda sang Casanova pun sudah berfantasi kemana-mana.


"Shitt." Yuda kembali duduk di kursinya dengan benar, jantung serasa ingin loncat ketika berdekatan dengan Gina apalagi bibir Gina sangat menggoda untuk dicicipi.


"Jangan ngeres deh." Lagi-lagi Ucapan Gina membuat Yuda semakin kesal.


Bisa-bisanya dirinya sempat berfantasi dengan bibir Gina yang sama sekali belum pernah dirinya rasakan.


"Gak usah ge-er." Ucapan Yuda membuat Gina mencebikkan bibir nya.


Yuda yang melihat itu tersenyum dalam hati. 'Menggemaskan' satu kata dan membuatnya langsung tersadar.


"Gila loe Yud." Ucapnya bergumam.


.


.


Udah lama ya Mak otor gak menyapa kalian😀


Ayok Semangat kasih dukungan Mak otor dengan...


_Like...


_Komen..


Apalagi kalian banyak mengirim Mak hadiah, pasti bikin Mak otor semakin semangat deh bawaannya😘

__ADS_1


__ADS_2