
Pukul tujuh malam waktu setempat Bimo mengajak Alena pergi ke tempat paling di banyak di datangi oleh turis.
Dari jarak yang lumayan jauh Alena bisa melihat menara Eiffel yang begitu indah dengan ikon lampu yang menyala serupa dengan bentuk menara Eiffel itu sendiri.
Semakin lama mobil yang membawa mereka berdua semakin mendekat, Alena begitu tidak sabarnya ingin melihat menara yang selalu banyak orang bicarakan tentang keindahannya.
"Ya Tuhan, aku tidak tidak percaya bisa sampai di tempat ini." Wajah Alena begitu berbinar, senyum nya tidak pernah pudar.
Bimo yang melihat itu ikut merasakan bahagia.
"Ternyata kamu benar sayang, sangat indah jika melihatnya di malam hari." Alena tersenyum lebar memeluk tubuh suaminya. "Terima kasih."
"Sama-sama.."
Mereka menikmati malam di Manar Eiffel, Bimo menuruti keinginan istrinya untuk mengajaknya berfoto ataupun berselfie.
Cukup lama mereka di tempat itu hingga menikamati makan malam dengan pemandangan yang selalu membaut Alena tak berhenti menatap takjub.
.
.
__ADS_1
Alena memasuki kamar mandi setelah Samapi di apartemen, dirinya yang sudah lelah ingin segera istirahat.
Hampir pukul dua belas malam mereka baru kembali ke apartemen, karena Alena yang susah untuk di ajak pulang jika tidak Bimo yang memaksa.
Dan sekarang wanita itu bilang capek ketika sampai di apartemen sungguh tidak bisa di pegang ucapanya. Karena wanita sejatinya bibirnya berkata tidak namun hatinya mengatakan Iya, maka dari pada itu pria yang harus lebih peka terhadap kemauan seorang wanita.
"Kamu tidak membersihkan diri." Alena keluar dengan menggunakan baju tidur celana pendek dan atasan yang hanya bertali satu.
"Kamu mau tidur?" Tanya Bimo yang sudah menatap lekat istrinya dengan mata tak berkedip.
"Hm..belum." Alena menjatuhkan dirinya di atas kasur, meskipun terasa lelah tapi matanya belum mengantuk, apalagi dirinya habis mencuci wajah.
"Em..kenapa?" Tubuh Bimo sedikit lebih mendekat ke arah Alena.
Alena men-scroll ponselnya, melihat banyak nya foto yang mereka ambil, dan menjadikan satu foto mereka berdua sebagai wallpaper karena menurut nya lucu.
"Mau aku bikin mengantuk." tubuh mereka sudah saling merapat, kini tangan Bimo sudah bermain di lengan mulus istrinya.
"Hm.." Alena menoleh dan menatap wajah suaminya yang menatapnya lekat.
"Cara nya."
__ADS_1
Mendengar jawaban polos istrinya seketika seringai tipis muncul di senyuman Bimo.
"Ucapan kamu gak menyakinkan yank." Alena yang menyadari sinyal bahaya mencoba mengelak.
Karena wajah seperti itu Bimo tunjukan ketika Ia akan memangsa dirinya.
"Memangnya apa yang kamu pikirkan hm." Matanya terpejam seiring kecupan lembut Ia berikan di telinga Alena.
"Egh." bulu kuduk Alena sudah merinding disko merasakan hembusan napas hangat di telinganya.
"Yank..shh." Alena mendessahh ketika bibir dan lidah Bimo bermain di lehernya, mengecup basah dan meninggalkan kissmark disana.
"Menikmati heh." Senyum efil Bimo muncul mendengar desaahann sang istri.
Alena membuka matanya dan bibir Bimo segera menyambar bibir ranum sang istri.
"Emph.."
"I want you."
Bimo segera melancarkan aksinya dengan membaut Alena tak berdaya akan sentuhannya, membuat Alena menjerit dan menggerang di bawahnya membuat kepuasan sendiri untuknya, apalagi wanita itu berkali menyebut mamanya ketika mendapat pelepasan.
__ADS_1
Sungguh bergelut keringat di atas ranjang dengan istrinya adalah pekerjaan favorit nya. Dan sekarang saat nya Ia menghabiskan waktu bersama tanpa adanya kesibukan yang menunggunya.