Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Season_2


__ADS_3

Pagi ini kediaman Bimo suasana kembali seperti hidup kembali ketika ada Sena.


Bagiamana tidak, jika satu bulan terakhir tidak ada yang membangunkan mereka pagi-pagi dan meminta untuk di temani joging.


"Kak, aku tuh masih ngantuk." Ren kembali menjatuhkan tubuhnya di kasur empuknya.


Jam masih menunjukan setengah enam pagi, tapi gadis cantik itu sudah berpenampilan lengkap pakaian untuk joging.


"Ck. kamu jangan malas Ren, olah-raga baik untuk kesehatan, apalagi kamu yang sibuk bekerja pasti tidak sempat melakukannya." Sena masih berusaha menarik lengan Ren agar bangun.


"Tidak perlu jonging pagi buta, aku sudah berolahraga ketika malam hari." Ren yang kesal karena tidurnya terusik, bangun dan duduk menatap kakak nya kesal.


Sena melipat kedua tangannya di dada. "Hanya satu Minggu sekali di hati Weekand, apa susahnya sih..itupun jika ada aku." Wanita yang dia panggil kakak itu bersungut-sungut.


"Hisss...udah kaya anak-an toak tau ngak." Ren langsung berdiri dan menuju kamar mandi, karena tidak betah jika lama-lama mendegar suara Sena yang seperti anak-an toak.


"Sudah siap?" Tanya Bimo yang menunggu di bawah.


Sama seperti Sena, Bimo juga sudah siap dengan atributnya, training panjang dan kaus oblong warna abu-abu.


"Sebentar lagi, Ren turun."


"Oke.." Mereka berjalan santai keluar rumah, sambil menunggu Ren yang masih ganti baju.


"Apa kamu mengalami kesulitan?" Tanya Bimo


Sena yang sedang melakukan pemanasan menoleh. "Tidak, hanya ada traubel sedikit dan itu pun wajar."


"Hm, Yuda bilangan ada pembisnis besar yang ingin bekerja sama dengan pabrik kita." Kini keduanya mulai berlari kecil menuju taman kota dekat dengan rumah mereka.


"Ya, dari perusahaan Lewis." Ucap Sena.


Bimo hanya diam, dirinya berfikir kenapa perusahaan besar seperti itu malah ingin bekerja sama dengan pabrik nya yang terbilang masih baru, apalagi tuan besar Lewis sendiri juga mendatangi kantor nya untuk bicara pribadi. Jika sebelumnya mereka sudah menjadi rekan kerja, tapi tidak ada pembahasan selain pekerjaan. Dan kemarin tuan besar Lewis memintanya untuk tidak menerima dengan mudah kerja sama yang di lakukan oleh cucunya.


"Kalian meninggalkanku." Ren yang tiba-tiba muncul menerobos di antara keduanya, dan posisi Ren di tengah.


"Ck. kamu lama, udah kaya cewek tau gak." Sena memutar kedua matanya malas.


"Sorry kak, tadi ada telpon dari LWS, katanya minta ketemuan hari ini. Padahal ini masih pagi buta dan Weekand tapi pemuda itu memaksa untuk bertemu." Gerutu Ren yang kesal, niatnya ingin menghabiskan waktu bersama kakak dan ayahnya, tapi malah mendapat panggilan mendadak.


"Kenapa lagi dengan anak muda itu." Tanya Bimo, ketiganya masih berlari kecil mengelilingi kompleks, dan setelah itu berhenti di taman.


"Katanya sudah menambahkan poin penting, jadi dia ingin segera menemui papa."


"Hah..anak muda itu terlalu bersemangat." Bimo terkekeh.


Melihat semangat Aaron membuatnya teringat dirinya sewaktu muda dulu, ketika ada maunya dirinya pasti semangat untuk melakukan hal apapun.

__ADS_1


Setelah cukup lama berlari mereka pun sampai di taman kota, taman yang lumayan ramai di pagi hari, karena tempat itu adalah tempat yang biasa orang beristirahat setelah melakukan joging, disana juga ada beberapa penjual makanan untuk sekedar sarapan pagi.


"Pah, kita sarapan bubur.." Sena tersenyum lebar melihatnya penjual bubur yang sejak dirinya kecil selalu berjualan di sana.


"Ck. pasti karena rindu makan bubur pak Mat." Ucap Ren.


Dan mereka pun memutuskan untuk sarapan di tenda bubur pak Mat itu.


.


.


.


"Duh, semoga hari ini gak gagal lagi, kalau gagal bakalan lama di Jakarta." Ucap Aaron meneliti kembali berkas yang sudah dirinya perbaiki dan menambahkan satu poin yang menurutnya sudah pas.


"Kalau masih di tolak, fix mending gue di coret dari daftar cucu pertama dari pada gue kehilangan bidadari gue." Ucap membayangkan wajah cantik dan jutek Sena.


"Sen-sen lagi apa ya.." Aaron mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi nomor Sena.


"Kenapa gak di angkat " Aaron mencoba lagi, hingga sampai lima panggilan masih tidak di angkat.


"Ck. jangan-jangan masih tidur lagi." Ucapnya sendiri mengingat pernah datang ke apartemen Sena dan gadis itu batu bangun tidur.


Aaron yang melihat jam sudah hampir jam delapan, segera bersiap untuk bertemu dengan pimpinan utama Bagaskara Grub.


Dirinya yang sudah tidak sabar untuk mendengar hasil akhir proposal yang sudah Ia buat. Dan pasti dirinya akan mendapat kebebasan untuk melakukan apapun.


'Ni..tidak akan mau.'


.


.


"Beneran kamu mau ikut." Bimo sudah rapi dengan pakaian santainya.


"Hm.. di rumah sendiri pasti bosan, setidaknya aku bisa ikut kalian keluar rumah." Ucap Sena.


"Kami mau ketemu klien kak, bukan jalan-jalan."


"Terus masalah.." Sena menatap Ren sebal.


"Ya..ya ngak sih.."


"Yowes, gak usah banyak ucap, ayo lah." Sena merangkul lengan Bimo.


"Kalian selalu bertengkar jika dekat, nanti jika salah satu diantara kalian sudah menikah, pasti papa sudah tidak pernah mendengar pertengkaran kalian lagi." Bimo menatap kedua anaknya dengan senyum tapi merasa sesak di dada.

__ADS_1


"Meskipun kami menikah, kami tetap akan menemani papa, bila perlu kami tidak akan pergi dari rumah itu." Sena lebih dulu masuk kedalam mobil.


"Mana bisa begitu, apalagi kamu sebagai perempuan harus mengikuti suamimu dimanapun tinggal." Bimo duduk di kursi belakang samping Sena.


Sedangkan Ren duduk di balik kemudi, dia adalah Drive jika sedang berkumpul seperti ini.


"Tentu saja bisa, siap yang akan menolak keinginan Sena."


"Ya..ya..dan hanya kakak yang bisa melakukan itu." Ucap Ren yang menimpali, lalu mereka tertawa.


Sesampainya di restoran yang sudah mereka janjikan, ternyata mereka lebih dulu sampai. Dari pada klien yang meminta ketemuan lebih dulu.


"Belum apa-apa udah gak profesional, padahal dia dulu yang minta ketemu, heran deh." Gerutu Ren.


"Macet kali." Ucap Sena. "Aku mau ke toilet dulu." Sena beranjak dari duduknya dan pergi ketoilet.


Di lorong toilet keadaan memang sepi, Sena pun berjalan dengan santainya menuju toilet wanita yang bersebrangan dengan toilet pria.


Sena masuk kedalam, tanpa sengaja seseorang melihatnya yang akan masuk kedalam toilet wanita.


"Sen-sen." Aaron yang melihat bayangan Sena pun menjadi penasaran.


"Masa Iya gue lihat Sen-sen disini." Ucapnya sendiri. "Gue pastiin aja deh, kayaknya sepi." Aaron tanpa rasa takut dan malu, kembali memasuki toilet wanita lagi.


Brak


Sena yang sedang mencuci tangannya menoleh kebelakang ketika seorang pria sengaja membuka kasar pintu.


"Mau ap_ Ar." Sena yang mau marah menjadi terkejut melihat Aaron yang berdiri dengan wajah yang juga terkejut tak percaya.


"Sena, beneran kamu..kamu disini?" Aaron mendekati Sena.


"Ck. kamu tidak bisa baca tulisan." Ucap Sena ketus, melihat Aaron yang masuk ke dalam toilet wanita.


"Buat apa baca tulisan, kalau kamu lebih terlihat." apalah si Aaron tuh.


"Mau apa, jangan mendekat." Sena mengangkat tangannya waspada, karena Aaron semakin mendekat.


"Mau kangen-kangenan." Ucap Aaron dengan senyum menyeringai, matanya menatap lekat wajah Sena yang sudah hampir satu Minggu tidak dirinya lihat.


Grep


Aaron menarik pinggang ramping Sena, membuat gadis itu menabrak dada bidangnya dengan tangan Sena yang berada di dada Aaron.


"Lepas..!!" Sena memberontak dengan menatap tajam Aaron.


"Hm.." Aaron hanya bergumam, matanya turun melihat bibir ranum Sena yang Ia rindukan.

__ADS_1


Wajah Aaron semakin mendekat, membuat Sena memundurkan kepalanya, namun kalah cepat dari bibir Aaron yang lebih dulu meraih bibirnya untuk di cumbu.


'Aaron sialan.'


__ADS_2