
Setelah pertemuan dengan klien pemilik pabrik ritel, Bimo dan Daniel kembali ke kantor ketika sudah pukul tiga sore, mereka akan akan bertandang ke Sukabumi untuk mengecek pabrik yang akan di beli.
Menurut yang punya pabrik, dirinya sudah tidak sanggup untuk mengelolanya, karena beliau harus pergi ke luar negri kembali ke negara asalnya. Dan juga karena kedua sepasang suami istri itu tidak memiliki keturunan alhasil dengan berat hati mereka menjual pabrik satu-satunya yang mereka miliki dan akan kembali ke negara asal nya untuk memulai bisnis baru hari tua mereka di sana.
Bimo pun menyetujui nya, dirinya sudah memikirkan langkah apa untuk kedepannya setelah membeli pabrik itu, karena di daerah sana memang banyak pabrik ritel, dan mungkin kualitas di pabrik itu kalah saing dari pabrik lain.
"Niel, siapkan semua untuk lusa kita akan berangkat ke sana." Ucapnya setelah sampai di ruangannya dengan Daniel yang setia di belakangnya.
"Baik tuan, saya akan siapkan semuanya."
Bimo hanya mengangguk dan kembali berkutat dengan pekerjaannya, karena dirinya harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum di tinggal.
Meskipun baru sembuh dirinya tidak bisa jika harus lama-lama di rumah, karena sudah pasti dirinya akan selalu memikirkan Alena tanpa henti. Semenjak mimpi itu dirinya tidak bisa tidur dengan tenang.
Bimo terus saja terbayang di mana Alena begitu cantik dan anggun, dengan penampilan barunya yaitu memakai pakaian muslim. Wanita yang menjadi istrinya itu begitu cantik dengan penampilannya.
"Hah.." Bimo menaruh alat tulisnya begitu saja ketika bayangan Alena kembali hadir di pikiranya.
Tangannya mengambil bingkai foto mereka dengan tespek yang Ia sematkan di sana.
"Semoga kalian baik-baik saja, tunggu aku sayang..pasti aku akan menjemputmu." Ucapnya menatap sendu foto Alena di sana.
Bahagia tentu saja, karena dirinya akan menjadi seorang ayah, tapi rasa bahagia itu di kalahkan oleh kesedihan yang mendalam dengan perginya sang istri yang sedang hamil.
Berkutat dengan pekerjaannya tak terasa jam sudah menunjukan pukul tujuh malam.
Bimo yang memang semenjak kepergian Alena dirinya tidak pernah pulang kantor tepat waktu, dirinya pasti akan menyelesaikan pekerjaannya hingga malam demi mengurangi waktunya berada di rumah yang memiliki banyak kenangan bersama sang istri.
Drt...Drt..
Ponsel nya berdering ketika dirinya akan memasuki mobilnya di parkiran.
"Halo.."
"Lu dimana bos, gue di rumah lu.." Ucap Yuda di seberang sana.
__ADS_1
"Bentar lagi gue sampe." Jawabnya sambil menghidupkan mesin mobilnya.
"Oke...gue ada berita bagus buat loe..." Yuda mematikan sambungan telponnya begitu saja.
Bimo mengumpati sahabatnya itu ketika dengan seenaknya mematikan sambungan telepon.
"Ck. awas aja kalau beritanya gak bener."
Menambah kecepatan laju mobilnya Bimo tak sabar mendengar apa berita yang Yuda akan sampaikan.
Karena dirinya, berharap berita dari Alena yang di ketahui keberadaannya.
Dua puluh menit mobilnya memasuki gerbang rumahnya, bisa dia lihat jika mobil Yuda sudah terparkir di sana.
Turun dari mobil Bimo langsung masuk menuju di mana tempat Yuda biasa datang kerumahnya.
Yaitu meja makan.
Plak..
"Kebiasaan ku, kesini cuma numpang makan." Bimo membuka lemari pendingin untuk mengambil minuman.
"Gue Laper, disini kan sudah pasti banyak makanan jadi loe gak usah merasa miskin buat makanan yang gue makan." Ucap Yuda dengan santainya melanjutkan makanya.
Yuda hanya sendiri, tadinya di temani Mirna dan Alisa namun Alisa meminta Mirna untuk menemaninya mengerjakan tugas sekolah.
"Lu ada kabar apa?" Tanyanya tanpa memperdulikan ucapan Yuda, Bimo duduk di kursi berseberangan dengan Yuda.
Menelan makanan yang akan masuk ke tenggorokannya Yuda mengambil minum.
"Ahh.. hampir lupa gue karena makanan enak ini, untung lu ingetin." Yuda meminum hingga tandas setelah selesai makan.
Bimo hanya memutar kedua bola matanya malas.
"Anak buah gue kasih informasi jika ada wanita yang mirip dengan bini lu, tapi mereka tidak yakin karena foto yang mereka lihat dengan wanita itu berbeda." Ucap Yuda menjeda, melihat raut wajah Bimo yang masih biasa saja. "Mereka sempat bertanya nama wanita itu dan wanita itu mengunakan hijab apalagi sedang hamil, jadi mereka tidak yakin jika wanita itu bini lu." Yuda menyandarkan tubuhnya di kursi setelah bicara.
__ADS_1
"Hamil, berhijab?" Ucapnya dengan mengingat sesuatu.
"Namanya wanita itu kalau tidak salah Adhis." Ucap Yuda lagi.
"Adhis.." Bimo masih mencerna ucapan Yuda, sedetik kemudian matanya membola.
"Adhis, Alena Adhisti adalah kepanjangan nya, dan apa? Hamil memakai hijab?"
Yuda hanya mengangguk. "Tapi kan bini lu gak hamil dan gak pakai hijab mungkin hanya nama mereka yang sama."
"Be*go, sejak kapan lu dapet informasi itu..?" Tanya Bimo emosi dan tak sabaran.
"Em.. satu Minggu yang lalu."
Bimo meremat rambut kepalanya. "Di istri gue Yud, istri yang gue cari." Bimo menatap Yuda emosi karena baru sekarang Yuda bicara.
"Istri gue pergi dalam keadaan hamil, dan kemarin ketika gue di rawat gue mimpiin dia hamil besar dan penampilannya memang berubah."
Yuda hanya diam mendengar ucapan Bimo, tak lama dirinya mengambil ponsel nya karena ingat jika anak buahnya pernah mengirimkan foto wanita yang mirip dengan Alena.
"Lu lihat foto wanita ini." Yuda menyerahkan ponselnya pada Bimo.
Bimo yang tak sabaran meraih ponsel Yuda dengan cepat.
"Alena.." Mata Bimo berkaca-kaca. "Dia Alena, istri gue." Bimo menatap Yuda dengan wajah senang bercampur haru.
Dirinya tak menyangka akan melihat istrinya kembali, dan mereka akan segera bertemu.
"Baiklah besok pagi kita pergi ke Sukabumi." Ucap Yuda setelah melihat wajah Bimo yang begitu yakin jika wanita itu adalah istrinya.
"Sukabumi?"
"Ya, mereka memberi informasi jika wanita itu bekerja di sebuah kedai restoran di daerah suka bumi."
Bagai angin segar yang menerpa wajahnya, senyum mengembang Bimo semakin lebar.
__ADS_1