Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part48


__ADS_3

Bimo menatap wajah Alena yang menampilkan senyum, senyum terpaksa yang bisa Bimo lihat. Jika sudah begini dirinya yakin jika Alena juga memiliki perasaan yang sama padanya, dan dirinya tidak akan melepaskan gadis didepannya ini.


Tangan nya menyentuh wajah Alena. "Dijodohkan bukan berarti aku menerimanya." Ucapnya dengan sungguh-sungguh. "Tidak ada yang berhak menentukan siapa yang akan menjadi pendamping hidupku, meskipun kedua orang tuaku sendiri."


"Tapi_"


"Sssstt... jangan membahas hal yang tidak penting, jika hati dan pikiran ini sudah ada kamu."


Ucapan Bimo mampu membuat hati Alena menghangat. Sungguh dirinya merasa senang jika perasaan Bimo untuknya.


"Sekarang bagaimana dengan kamu? Apa kamu mau menikahi pria itu dua bulan lagi?" Tanya Bimo menatap Alena serius.


Deg


Alena membeku dirinya baru mengingat jika sudah ada Diki diantara mereka. Ternyata masalahnya lebih rumit ketimbang baru dijodohkan.


"Katakan yang sejujurnya, apa kamu mencintai pria itu." Tegas Bimo menatap wajah Alena lekat. Dirinya tidak mungkin membiarkan Alena jatuh dipeluk kan pria brengsek seperti Diki.


"Aku.."


Belum sempat menjawab suara mesin mobil diluar membaut keduanya menoleh.

__ADS_1


"Aku lihat dulu." Alena beranjak untuk melihat siapa, jika Yuda dirinya akan bernapas lega, jika bukan dan ternyata Diki entah alasan apa lagi yang dirinya pakai.


"Lena.." Ucap Diki yang baru keluar dari mobil dan menghampiri Alena yang berdiri di teras.


"Mas Diki."


"Kamu dari mana?" Diki langsung memeluk tubuh Alena dirinya seharian menghubungi ponsel Alena tapi tidak bisa.


"Aku.." Alena kaku dan bingung harus menjawab apa.


Diki melepaskan pelukannya menatap wajah kekasihnya yang sudah beberapa hari Ia abaikan.


Alena hanya diam, dirinya tidak tahu harus menjawab apa karena memang beberapa hari ini dirinya lupa akan ada nya Diki sebagai tunangannya, dan semua itu karena kehadiran Bimo yang mampu membuat dirinya lupa.


"Apa kamu tidak menyuruh Mas masuk." Tanya Diki yang tak biasa melihat Alena hanya diam tanpa menyuruhnya untuk masuk kerumah.


"Eh..itu.." Alena gugup, jika menyuruh Diki masuk di dalam ada Bimo.


Diki menarik tangan Alena untuk masuk kedalam, jantung Alena berdebar kencang. 'Tamat riwayatku'.


"Apa ada tamu?" Tanya Diki yang melihat ada gelas di atas meja.

__ADS_1


"Ehh.." Alena melongok kan kepalanya dan ternyata Bimo sudah tak ada, dirinya bernapas lega 'syukur, tapi kemana dia' Ucap Alena dalam hati.


"Len, tadi pagi aku kesini tapi kalian sudah tidak ada padahal aku mau ajak kalian jalan-jalan dihari Weekand."


"Iya Mas, tadi aku sudah ada janji sama temen kantor ."


Diki hanya mengangguk. "Maaf jika waktu Mas akhir-akhir ini sedikit untuk kamu, kerjaan Mas banyak dan sibuk." 'maaf Len, terpaksa aku lakukan ini, aku harap kamu tidak akan pernah tahu'.


"Iya Mas, Lena ngerti."


Diki merapatkan duduk nya pada Alena, dirinya merindukan kekasihnya itu. "Mas merindukanmu." Wajah Diki sudah mendekat namun entah mengapa malah membuat Alena risih dan tak nyaman, padahal sebelum nya dirinya menerima perlakuan Diki.


"M_Mas.." Alena menahan dada Diki ketika bibir nya hampir saja menempel.


"Kenapa?" Diki merasa kecewa karena Alena menolaknya.


"Emh..Itu_"


Suara mesin mobil kembali terdengar ketika Alena ingin berkata. 'Syukurlah' Ucapnya yang lega karena tidak harus memberi alasan.


"Siapa?" Tanya Diki yang tak biasa ada mobil berhenti didepan rumah Alena selain mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2