Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part23


__ADS_3

Sore hari sebagian para karyawan untuk pulang dan juga masih ada sebagian yang lembur. Alena masih membersihkan ruangan metting yang baru saja selesai. Karena tidak mau membereskan di pagi hari, agar waktu berangkat ke kantor tidak terlalu pagi dan buru-buru.


Jam lima Alena baru saja selesai dengan pekerjaan nya, melihat ruangan metting sudah selesai Alena segera berkemas untuk pulang karena hari ini dirinya di antar dan di jemput oleh Diki sang tunangan.


Alena masuk ke dalam lift dan ketika pintu lift akan tertutup sebuah tangan menahannya.


Bimo masuk dengan berdiri di samping Alena, Keduanya saling diam.


Alena lebih memilih mundur kebelakang, tepatnya di belakang tubuh bosnya itu, Entah mengapa berdekatan dengan bosnya akhir-akhir ini membuat jantungnya berdebar-debar, padahal sebelumnya tidak pernah.


Bimo hanya melirik Alena dengan ekor matanya, melihat Alena yang menunduk membuat dirinya kesal sendiri.


Ehem


Bimo berdehem keras. "Jangan lupa aku tunggu di apartemen." Tanpa mendengar balasan Alena Bimo langsung keluar ketika pintu lift terbuka.


Alena hanya diam, dirinya mencerna ucapan Bimo.


Plak


"Ya ampun kenapa aku bisa lupa." Alena menepuk jidatnya sendiri ketika mengingat sesuatu.


"Duh, mana mas Diki udah nungguin lagi..gak mungkin kan kalau aku suruh dia balik dan bohong." Alena berjalan dengan cepat menuju parkiran.


Mobil Diki sudah terparkir Alena menghampiri.


"Mas..?" Alena nampak gelisah harus memberi alasan apa.


"Masuk sayang, kamu kenapa masih berdiri di situ." Ucap Diki yang melihat Alena hanya berdiri di samping pintu mobil.


"Emm...aku.." Alena bingung ingin meminta ijin.

__ADS_1


"Ayo.. Ibu dan Alisa sudah menunggu, sore ini kita kumpul bersama." Ucap Diki, karena memang Hesti sudah menjemput Alisa untuk di bawa kerumahnya.


Mendengar ucapan Diki Alena pun segera naik, karena tidak mau ibu Diki dan Alisa menunggunya.


Di sudut lain Bimo yang melihat Alena memasuki mobil seseorang hanya menatap datar.


Bimo melajukan mobilnya menuju apartemen, niat hati segera pulang agar bisa melihat Alena bekerja di apartemen tapi gadis itu malah pergi.


Jika dipikir sebenarnya uang ganti rugi Alena tidak berarti namun entah mengapa melihat gadis seperti Alena membuatnya ingin menjadi kan pembantu.


.


.


Mobil Diki memasuki halaman rumah nya, dan di depan rumah tepatnya di halaman ada Alisa dan Hesti yang sedang menyiram tanaman.


Alena turun dan menghampiri Hesti dan memberi salam.


"Emm...iya Bu." Alena menyapa Alisa dan mencium pipi adiknya itu.


"Ayo kita masuk." Hesti menggandeng Alisa untuk masuk kedalam.


"Ayo." Diki merangkul bahu Alena mengikuti langkah Hesti yang didepannya.


Mereka kini sedang berada di ruang keluarga Yusuf juga sudah ikut duduk bersama. Jika berkumpul seperti ini Alena berpikir pasti akan ada yang dibicarakan.


"Nak, sebenarnya kami ingin membicarakan sesuatu sama kamu." Kali ini Yusuf yang bicara. Jika biasanya Hesti yang mewakili.


Alena nampak menelan ludah. "Ada apa Om?"


Diki yang melihat Alena gugup mengelus punggung tangannya.

__ADS_1


Yusuf nampak menghirup napas dalam. "Kami sekeluarga sepakat untuk menikahkan kalian bulan depan." Yusuf menatap Alena. "Mengingat kemarin kamu kecelakaan kami jadi khawatir karena tidak ada yang menjaga mu."


Alena hanya diam dengan menunduk, ini sungguh di luar dugaannya. Ingin rasanya menolak namun melihat keluarga Diki yang begitu baik padanya membuat Alena tidak tega, apalagi tatapan mata Hesti yang penuh harap.


Entah mengapa masih ada sedikit perasaan yang belum bisa menerima Diki sepenuhnya untuk menjadi suaminya padahal mereka sudah berhubungan lama. Dalam hati Alena belum rela.


.


.


"Pah, si Bimo kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi?" Leina nampak sibuk menghubungi putranya.


"Mama kaya gak tau aja sifat Bimo, yasudah ayo kita berangkat."


Mereka pergi untuk menghadiri acara makan malam di keluarga Richard, Rendy sudah mewanti-wanti Bimo untuk datang, namun malah no ponsel putranya tidak bisa dihubungi.


.


.


"Maaf mas jika Lena selalu buat mas kecewa." Alena menatap wajah Diki yang hanya menatap lurus kedepan, fokus pada jalan.


Mengingat jawaban Alena tadi sore membuat rasa kecewa Diki, Alena yang meminta waktu hingga tiga bulan untuk mengadakan pernikahan, yang langsung membuatnya kecewa.


Diki masih diam tanpa mau menjawab, dirinya memikirkan bagaimana agar mereka segera menikah, selain itu Diki juga menghindari kemungkinan yang terjadi, maka jika Alena sudah sah menjadi miliknya gadis itu tidak akan bisa pergi apapun yang terjadi.


Alena hanya mendesah pasrah, bukan tanpa alasan dirinya meminta waktu tiga bulan untuk menunda pernikahan mereka, di satu sisi hatinya entah mengapa masih ada keraguan, dan disisi lain Alena ingat jika masih punya hutang dengan bosnya itu.


Mengingat bosnya, Alena teringat jika tadi ketika pulang kantor bosnya menunggunya di Apartemen.


"Matilah aku."

__ADS_1


__ADS_2