
Jika di kamar Alisa dan gio sedang adu kepuasan, maka lain di kamar pasangan yang sedang sibuk bergantian menimang si kembar yang belum mau memejamkan matanya.
Aaron menimang Ameer yang masih ingin bermain. Sedangkan Sena sedang menyusui Amaar yang ingin terlelap.
Kedua pasangan itu saling bahu membahu, Aaron tidak ingin melewatkan momen terpenting untuk mengurus kedua jagoannya, dan dirinya juga andil membantu Sena untuk merawat keduanya jika malam hari dan Weekand.
Jika berkunjung ke kediaman kakek Lewis maka keduanya tidak menyentuh baby A, sama sekali karena Arin maupun Arthur begitu senang merawat keduanya bersamaan, dan Aaron bisa berduaan sepuasnya dengan sang istri.
"Amaar sudah tidur?" tanya Aaron yang melihat Sena memindahkan Amaar ke dalam box bayi tempat tidurnya.
"Dia sudah kenyang makanya cepat tidur." ucap Sena yang menyelimuti buah hatinya, lalu mengecup pipi dan kening Amaar.
"Si bontot masih belum mau tidur, padahal sudah malam." Aaron melihat jam sudah pukul sebelas malam, tapi mata Ameer masih begitu cerah.
"Bawa sini Ar." Sena kembali naik ke atas ranjang, dan Aaron mendekatinya.
__ADS_1
"Atu..tu..tu..Anak Mama belum mau bobok." Sena mengajak Ameer bicara, dan membuat bayi itu tertawa.
"Biarin dia rebahan, nanti lama-lama juga capek dan tidur." Ucap Sena yang membaringkan Ameer di kasir depannya, dan Sena berada di sampingnya.
Aaron tersenyum dan ikut merebahkan diri dibelakang Sena, sambil menatap putranya yang masih asik memainkan jarinya ke dalam mulut.
"Jangan cepat besar sayang, mama masih ingin bermain dengan kalian." Sena tersenyum, jari telunjuknya dipegang erat oleh Ameer.
"Kenapa begitu?" Tanya Aaron sambil mencium kepala Sena, tangannya menyentuh pipi gembul Ameer.
Tangan Aaron yang menyentuh pipi Ameer bergantian memeluk perut Sena, kepalanya berada diceruk leher Sena menghirup aroma tubuhnya. "Jika mereka besar, kita akan membuat generasi kedua, agar rumah ini selalu ramai." Ucap Aaron sambil menciumi leher Sena yang terpampang di jelas depannya.
"Ish, itu sih mau kamu. Aku ingin membesarkan mereka dulu." Sena menepuk pelan lengan Aaron yang melingkar di perutnya.
"Aku ingin punya anak banyak, bila perlu enam, atau sebelas." Ucap Aaron tanpa di saring.
__ADS_1
Plak
Sena menggeplak lengan suaminya, "Kamu pikir aku kucing yang bisa beranak banyak, kamu tidak ingat jika melahirkan twins aku masuk ruang operasi dan itu gara-gara siapa?" Sena menatap Aaron dengan sinis.
Jika saja Aaron tidak menyuruhnya untuk melakukan operasi karena tidak tega melihat Sena yang kesakitan, pasti Sena bisa melahirkan dengan normal dan tentu saja mereka bisa memiliki banyak anak, jika saja Sena bisa melahirkan secara normal. Tapi karena melakukan operasi Caesar membuat semua ibu hamil di batasi dengan tindakan melahirkan secara Caesar.
"Maaf, tapi aku gak bisa lihat kamu kesakitan seperti itu sayang, itu sama saja kamu membunuhku secara perlahan." Aaron berucap lirih di ceruk leher Sena. Aaron mengingat bagaimana tubuhnya lemas tak berdaya ketika melihat Sena Merintih kesakitan demi melahirkan dua buah hati mereka.
sungguh Aaron sangat takut jika terjadi sesuatu pada isterinya disaat proses melahirkan berlangsung.
"Ck, kamu terlalu parno."
Ya, Aaron memang begitu takut, dengan bayangan yang ada di dikiranya.
"Itu karena aku mencintaimu." Aaron melumatt bibir istrinya, menyesap begitu dalam untuk menyalurkan rasa cintanya yang begitu besar.
__ADS_1