Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Anisa


__ADS_3

Ting


Bunyi pesan masuk dari ponsel Bimo, pria paruh baya itu mengambil ponselnya yang berada di saku jas depan, kakinya melangkah keluar ketika pintu lift terbuka.


"Assalamualaikum mas, maaf mengganggu kalau tidak sibuk boleh mampir ke panti sebentar.." Pesan sari Nisa membuat Bimo mengernyitkan kening heran, pasalnya Nisa ataupun Bimo tidak pernah berkirim pesan meskipun memiliki kontak satu sama lain, karena memang Bimo tidak pernah menghubungi perempuan kecuali putrinya.


"Baiklah, kebetulan aku sedang tidak sibuk." Bimo membalas pesan dari Nisa lalu mengirimnya, dia memang sedang tidak sibuk. Niatnya ingin segera pulang karena ada janji dengan Alisa untuk datang ke makan sang istri.


"Niel, kamu tidak perlu mengantarku, aku masih ada urusan." Bimo menyuruh Daniel untuk tidak usah mengikutinya lagi, karena Bimo akan mampir ke panti lalu pulang.


"Oke.." Daniel pun membukakan pintu mobil untuk Bimo, lalu bergeser ke pinggir untuk memberi jalan mobil bos-nya yang melintas.


Bimo mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, jalanan masih padat karena waktu masih pukul dua siang.


Bimo memang memegang perusahaan yang baru dirintis cabang dari Bagaskara Grub, tapi Bimo tidak sepenuhnya memegang kendali, karena Daniel yang Bimo beri kuasa dia hanya sekedar untuk menghilangkan penat dan kebosanan saja. Karena usianya yang tak lagi muda Bimo hanya ingin santai menikmati masa tuanya, apalagi ada dua cucu jagoan yang sudah mengisi kesehariannya.


Sebelum sampai ke panti Bimo menyempatkan untuk mampir ke sebuah toko makanan, dia membeli banyak makanan untuk anak-anak yang berada di panti, pasti mereka akan senang mendapatkan makanan yang dia bawa.


Mobil mewahnya memasuki perkarangan luas di depan panti asuhan milik umi Aisya, Bimo datang di sambut dengan suka cita dari anak-anak yang suka menunggu kedatangannya, bahkan mereka saling berebut ketika membagi makanan padahal mereka semua pasti mendapatkannya.

__ADS_1


"Jangan rebutan, kalian pasti akan dapat semua." Bimo tersenyum melihat wajah bahagia anak-anak yang mendapatkan makanan yang dia bawa bahkan mereka berlarian sangking senangnya.


Disebelah mobil Bimo juga terdapat dua mobil mewah yang lebih dulu terparkir disana, Bimo berpikir mungkin mobil donatur untuk panti.


"Assalamualaikum.." Bimo mengucap salam ketika sampai di depan pintu panti, dirinya melihat ada empat orang yang sedang duduk di depan umi Aisya dan juga Anisa.


"walaikumsalam, masuk nak." Umi Aisya tersenyum menyambut kedatangan Bimo.


Bimo masuk dan duduk di kursi single yang tersisa, di sana umi dan Anisa duduk dalam satu kursi. sedangkan keempat orang tamu duduk berempat dikursi yang panjang.


Bimo menatap pria yang sejak tadi dia masuk sudah menatapnya intens, sedangkan Bimo nampak berpikir dirinya tidak pernah melihat ataupun mengenal pria itu. sedangkan tiga orang lainnya hanya tersenyum sekilas padanya, diantaranya satu pria dan dua wanita, yang satu masih muda seumuran Sena.


"Mereka kesini berniat untuk menjalin silaturahmi dan ingin meminang Nisa untuk menjadi istri dari nak Yusuf." Umi Aisya menjelaskan, namun Bimo malah menjadi tidak mengerti seharusnya pembicaraan seperti ini dirinya tidak ikut dalam bermusyawarah.


"Mas, boleh Nisa bicara sebentar." Nisa memberanikan diri untuk meminta waktu bicara pada Bimo sebelum dirinya memberikan keputusan yang akan menentukan masa depannya.


Bimo hanya mengangguk, lalu keluar lebih dulu dan di ikuti Nisa yang juga ikut keluar.


Yusuf pun hanya diam, dirinya yang akan meminang Anisa untuk di jadikan Istri, mereka sempat mengenal di negeri Jiran, kala itu Yusuf tidak sengaja menabrak Anisa ketika berjalan, dan dari sana Yusuf langsung menyukai Anisa yang memang berlaras cantik dan berbudi pekerti membuat Yusuf jatuh cinta pada pandangan pertama.

__ADS_1


Hingga Tuhan memberinya kesempatan untuk pulang ke tanah air, satu Minggu yang lalu, dan Yusuf tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mencari tempat tinggal Anisa yang pernah wanita itu sebutkan, dan disinilah Yusuf sekarang.


"Ada apa? Tanya Bimo lebih dulu, setelah mereka cukup lama diam dengan sama-sama berdiri dan menatap lurus kedepan, dimana mereka melihat anak-anak yang sedang bermain.


Anisa menarik napas dalam, mencoba untuk menyakinkan dirinya.


"Mas," Nisa berbalik dan menatap Bimo yang masih memandang lurus kedepan.


Bimo pun menoleh ketika mendengar panggilan Anisa. "Boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Anisa memberanikan diri untuk menatap wajah Bimo.


"Silahkan." Jawab Bimo santai.


"Tipe Wanita seperti apa yang bisa merebut hati mas." Tanya Anisa dengan hati-hati, karena dirinya tidak ingin membuat Bimo tersinggung,.lantaran bertanya masalah yang sedikit sensitif.


Bimo mengernyitkan dahi, mendengar pertanyaan Anisa. "Maksud ku, wanita yang bisa menggantikan mendingan istri mas." Lanjut Anisa.


Bimo menatap Anisa intens, dan dirinya melihat suatu harapan di kedua mata itu.


"Tidak ada." Ucap Bimo lugas, yang sudah kembali menatap lurus kedepan. "Bagiku tidak ada tipe Wanita yang bisa menggantikan istriku, meskipun dia sudah tiada."

__ADS_1


Deg


__ADS_2