Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part155


__ADS_3

Benar saja apa yang dikatakan Leina, dirinya memborong semua kebutuhan twins dengan menggunakan kartu suaminya, Leina sangat antusias memilih barang untuk kedua cucunya yang akan lahir. Memilih pakaian yang menurutnya lucu dari yang bayi hingga berusia bulanan Leina sepertinya sedang kalap membeli barang untuk twins.


Karena dirinya memang merasa sangat bahagia akan mendapatkan cucu kembar sekaligus.


Alena hanya menurut apapun yang di pilihkan ibu mertuanya, dirinya hanya sebagai perbandingan antara warna dan model mana yang paling bagus dan lucu.


"Sayang, jika kamu lelah kamu boleh duduk di sana, biar mama yang pilih barang lainya." Ucap Leina yang melihat Alena sepertinya sudah capek karena berdiri.


"Apa tidak apa mah, Leina tinggal."


"Tidak apa sayang, biar papa yang menemani Mama." Leina menggandeng Alena untuk duduk di sebuah kursi yang memang di sediakan di toko itu untuk para pengunjung.


"Sudah selesai?" Tanya Rendy yang melihat istri dan menantunya menghampirinya.


"Belum pah, Mama masih belum memilih box bayi dan kereta dorongnya. Lena lelah biarkan dia Istirahat sambil menunggu Bimo." Ucap Leina pada suaminya.


"Dan papa ayo temani Mama." Leina menarik tangan Rendy agar berdiri dari posisi duduknya.


"Kenapa harus papa kan Mama bisa sendiri." Rendy menggaruk keningnya, pasalnya jika Leina belanja dengan nya pasti rewel dan pendapatnya pun tak pernah di pakai, padahal Leina yang meminta pendapat.


"Biar papa juga ikut andil dalam memilih barang untuk twins." Leina segera menarik Rendy agar mengikuti langkahnya.


"Sayang, tinggal dulu ya.. jangan ke mana-mana." Leina sedikit berteriak.


"Iya mah.." Alena mengangguk.


Duduk sendiri di sofa itu hingga tiga puluh menit, membuat Alena bosan dan tidak tahu harus melakukan apa.


"Mas Bimo lama juga ya.." Alena menoleh ke kanan dan ke kiri melihat apa suaminya sudah datang, namun dirinya sama sekali tak melihat.


"Dih kenapa jadi pengen makan es krim." Alena yang melihat anak kecil sedang membawa satu cup es krim pun menjadi pengen.


"Di mana belinya ya.." Alena berdiri dan mengedarkan pandangannya mencari penjual eskrim yang berada di mall itu.


"Ahh..itu dia di sana." Alena berjalan menuju di mana penjual kedai eskrim itu, dirinya sangat antusias matanya berbinar melihat aneka rasa dan toping terpampang di gambar itu, melihat gambarnya saja air liurnya ingin jatuh.


"Mbak mau pesan rasa apa?" Ucap penjual itu yang melihat Alena berdiri memandangi gambar aneka macam rasa dan toping itu.


"Em..vanilla coklat dengan toping buah." Ucap Alena.


"Baiklah tunggu sebentar ya." Penjual itu membuatkan pesanan, dan Alena berdiri dengan sedikit mengintip penjual itu yang sedang meracik eskrim nya.

__ADS_1


"Ini mbak.." Penjual itu memberikan satu cap besar kepada Alena.


"Ah iya.." Alena menerima nya dan mencicipinya sedikit. "Berapa pak." Tanya Alena pada penjual itu.


"Tiga puluh lima ribu."


Alena membuka tasnya dan mencari dompet. "Loh mana sih." Tangannya mencoba mencari tapi hanya ada ponsel yang ada di dalamnya. "Bukannya kemarin aku taruh disini." Ucapnya yang masih mencoba mencari, bahkan dirinya merasa tidak enak dengan penjual yang melihatnya apalagi di belakangnya banyak yang mengantri.


"Mbak minggir dong gantian ngantri nih." Ucap gadis muda yang masih memakai seragam sekolah di belakangnya. "Kalau gak punya uang gak usah sok makan eskrim deh, penampilannya aja biasa aja gitu."


"Eh iya maaf." Alena sedikit menyingkir agar antrian di belakangnya bisa maju, sedangkan dirinya masih mencari dompetnya yang ternyata tidak ada.


Setelah sepuluh menit mencari tapi tetap saja tidak menemukan dompetnya Alena merasa bersalah dengan penjual yang sepertinya kesal juga.


"Emm..maaf pak saya lupa bawa dompet saya." Ucap Alena sendu merasa bersalah dan takut.


Penjual itu berdecak kesal. "Mbak ini bagaiman sih, mau beli kok gak punya uang, mana udah mbak cicipi lagi." Kata penjual itu dengan suara sedikit keras.


Alena hanya diam dirinya juga bingung harus bagaimana sedangkan dirinya sama sekali tidak membawa uang. "Bagaiman kalau saya permisi dulu pak, kebetulan orang tua saya sedang berbelanja di toko itu." Tunjuk Alena pada toko perlengkapan bayi terbesar disana.


"Alah bilang aja modus, modelan kaya mbak itu mana mungkin dari orkay, palingan juga mau kabur." Ucap siswi yang tadi mencibir Alena.


Teman-teman siswi itupun ikut menyudutkan Alena, karena kebetulan yang mengantri adalah lima siswi mungkin mereka bersahabat.


"Beneran pak, saya tidak bohong, saya sedang hamil dan menginginkan eskrim ini, tapi saya lupa jika dompet saya tertinggal." Alena mencoba menjelaskan.


"Alah.." Siswi itu mendorong bahu Alena hingga eskrim di tangannya jatuh. "Bilang aja mau dapet gratisan, tampang aja kaya gitu, baju apalagi murahan." Siswi itu terus mencibir Alena.


Alena yang memang merasa bersalah karena tidak bisa membayar pun hanya diam.


"Jangan-jangan loe hamil tanpa suami ya..makanya loe nipu pengen makan tapi gak bisa bayar." Ucap siswi lain.


Mata Alena sudah berkaca-kaca apalagi dirinya menjadi pusat perhatian pengunjung yang lewat karena mendengar suara keras para siswi tadi.


"Ada apa ini..!" Suara bariton terdengar di belakang mereka, di balik kerumunan mereka yang melihat Alena di permalukan oleh orang yang tak dikenal.


Alena yang mengenal suara itu pun mendongak dan benar saja suaminya berdiri di belakang sana dengan wajah dingin.


Para siswi itupun menoleh semua melihat siapa pria yang berbicara.


"Omoo...bias gue.."

__ADS_1


"Ya Tuhan ganteng banget sumpah.."


"Tolong...gue mau pingsan.."


"Duh..boleh dong minta nomor hape nya.." Mereka semua tanpa malu berucap dan sibuk merapikan penampilan mereka di depan Bimo yang berwajah dingin.


Berjalan mendekati di mana lima siswi sedang saling berebut berdiri paling depan dengan gaya centil mereka yang membuat Bimo jijik. Karena kelakuan mereka tak jauh beda dengan para siswi sekolah nya dulu.


"Emm...Mas mau makan eskrim juga."


"Atau mau kami temani makan es krim." Ucap mereka bergantian ketika Bimo sampai di hadapan mereka tapi tatapannya tak lepas dari wanita berkerudung di belakang sana yang hanya menunduk.


Bugh


Bimo berjalan melewati gadis yang sudah mencibir Alena, menyenggol bahunya keras hingga membuat gadis itu menyingkir memberi jalan untuknya.


"M-Mas.." Cicit Alena lemah.


"Kamu tidak apa-apa sayang.." Ucap Bimo terdengar lembut tapi penuh penekanan, agar mereka semua mendengar nya.


Para gadis itu matanya melotot semua, mereka tidak salah dengarkan.


"Apa katanya, sayang.."


"Jangan-jangan.."


"Oh may good."


Mereka sudah menciut sendiri mendengar panggilan sayang kepada wanita yang mereka cibir tadi.


"Ada apa? kenapa bisa disini hm." Bimo mengecup kepala Alena di depan khalayak ramai.


"Em..tadi aku ingin makan es krim karena melihat anak kecil makan, tapi ketika aku beli aku lupa jika tidak bawa uang, dan." Alena melirik eskrim yang dia pesan jatuh dan sudah melebar kemana-mana. "Karena tidak hati-hati jadi jatuh." Ucapnya menatap sendu suaminya.


Bimo yang melihat wajah sendu Alena malah gemas sendiri. "Jadi kamu jadi seperti ini karena tidak bisa membayar eskrim itu." Tanya Bimo menatap wajah istrinya.


Alena mengangguk. "Dan karena itu aku disini." Alena menunduk.


Bimo terkekeh. "Hanya satu yang jatuh sayang, bahkan kamu bisa membeli semua eskrim nya bila perlu kedai nya sekalian." Bimo menatap tajam penjual dan lima gadis tadi yang sudah berani mencemooh istrinya.


Dirinya memang sejak tadi sudah berdiri disana, tapi hanya diam dan ingin melihat sejauh apa yang akan mereka lakukan pada istrinya.

__ADS_1


__ADS_2