Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Ibu dari anak-anakku


__ADS_3

Acara amal berjalan lancar, Bimo sempat mengisi acara karena Bimo adalah donatur tetap dan terbesar di panti itu, sehingga dirinya diberi kesempatan untuk mengisi acara dan bermotivasi sedikit didalam acara itu.


Dan sejak tadi Nisa tidak bisa berpaling dari paras pria matang yang sudah dia kagumi, semakin lama Nisa semakin dalam terperosok dengan pesona Bimo Bagaskara.


Umi Aisya yang menyadari putrinya mengagumi Bimo, pria yang sudah dia kenal sejak puluhan tahun dan sudah dia anggap seperti anaknya tersenyum. Seorang Bimo memang pantas untuk di kagumi.


"Kamu liatin nya kaya gitu lama-lama naksir loh." Ucap umi Aisya tersenyum.


"Ish, umi apaan sih." Nisa merona malu kepergok diam-diam mengagumi Bimo.


"Iya juga gak apa-apa, umi setuju." Ucapan umi Aisya semakin membuat wajah Nisa panas.


Jika saja Bimo memiliki perasaan yang sana dengannya, mungkin Nisa tidak perlu memikirkan lagi, pasti Nisa akan menerima dengan senang hati. Tapi Nisa kembali sadar jika perasaanya belum tentu juga sama dengan perasaan yang Bimo miliki. Karena Nisa yakin setelah tadi mendengar ucapan Daniel, jika Bimo belum bisa move on dari mendiang sang istri membuat Nisa semakin berpikir ulang tentang perasaanya, namun siapa yang bisa menghalangi perasaan kepada siapa berlabuh termasuk Nisa.


"Saya ucapkan terima kasih." Akhir kata sambutan yang Bimo ucapkan, pria itu mendapat tepuk tangan meriah oleh para tamu undangan, dan juga semua anak pasti tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Papa hebat Mas." Alexa juga bahagia dan tersenyum lebar, melihat papa mertuanya yang masih bugar diusianya yang sudah matang.


"Ya, dan sekarang aku yang lebih hebat dari papa." Ren tersenyum menatap wajah Alexa.


"Iya, dan narsis parah." Alexa tertawa.


Bimo kembali menghampiri putranya, dan duduk kembali dikursi yang tadi dia tempati.


"Papa hebat..!" Alexa memberikan jempolnya pada Bimo yang terkekeh.


"Ish, hanya aku yang boleh dapat ini." Ren meraup tangan Alexa untuk dia genggam.


"Kalian ini, bikin papa iri tau ngak." Bimo geleng kepala. Anak nya memang seperti itu jika berulah menjaili istrinya.


"Ayo sama aku." Tangan mulus dan bersinar kembali berada di depannya, dengan senyum manis yang selalu membuat jantung Bimo berdebar.

__ADS_1


Bimo tersenyum, senyum yang selalu Ia berikan kepada cintanya. "Aku merindukanmu." Ucapnya menatap sendu wanita cantik yang memiliki senyum manis untuknya.


Alena tersenyum. "Jangan gombal sayang," Alena tertawa, tawa yang begitu merdu untuk Bimo dengar. "Kamu lihat wanita cantik itu, dia sepertinya suka sama kamu." Bisik Alena diakhir ucapanya.


Namun arah mata Bimo tidak berpaling dari bidadari yang berada di sampingnya.


"Bagiku wanita paling cantik hanya kamu, ibu dari anak-anak ku."


Bimo tersenyum setelah mengatakan itu.


"Pah." Panggil Ren dengan menyentuh tangan papanya, karena sejak tadi Ren memanggil Bimo tidak menyahut.


"Eh, kenapa Ren." Bimo tersadar dan langsung menegakkan tubuhnya.


"Papa masih ingin disini atau pulang, sepertinya Alexa sudah lelah kasihan kandungannya." Ucap Ren yang ingin pulang lebih dulu, karena tidak ingin membuat Alexa lelah. Lagipula acara intinya sudah selesai.

__ADS_1


"Papa ikut kamu, papa juga sudah merasa lelah." Ucap Bimo yang memang merasakan tubuhnya lelah dan segera ingin beristirahat.


"Baiklah, kita pamit pada umi Aisya dulu." Ren meraih tangan Alexa untuk digandeng, dan mengikuti langkah papanya yang berada di depan.


__ADS_2