Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part94


__ADS_3

Tring.


Bimo mengambil ponselnya yang bergetar tanda pesan masuk.


"Sayang, mau makan dimana?"


Sudut bibir Bimo tertarik membentuk senyum.


"Antar keruangan ku sayang 😘.


Balasnya dengan senyum yang mengembang.


"Hah, gak percaya gue bisa sebucin ini sama si Ale." Bimo meletakkan kembali ponselnya.


Setengah jam lagi memang waktunya jam makan siang.


Tok...tok...tok..


"Masuk."


"Sayang." Suara yang amat sangat Bimo kenali, Leina mendatangi kantor tempat putranya bekerja.


Bimo menatap malas wanita yang tersenyum manis di belakang mamanya, tetapi malah membuatnya muak.


"Mah, tumben kesini?" Bimo menatap mamanya yang berdiri di depannya.


"Apa Mama tidak boleh mengunjungi anak Mama sendiri hm?" Tanya Leina dengan wajah kesal.


Putranya itu kini sifatnya semakin menyebalkan bahkan kepada ibunya sendiri.


"Boleh sih, Kalau Mama dateng sendiri." Ucap Bimo dengan tersirat akan sindiran, melirik Siera yang berdiri tak jauh dari Mamanya.


Mendengar ucapan Bimo membuat Siera kesal, menahan emosi.


Ternyata pria didepanya ini sangat susah untuk di dekati.


"Maksud kamu Siera tidak boleh datang kesini? Ucap Leina menatap putranya tajam.


Bimo hanya mengedikkan bahunya. "Aku tidak mengatakan itu, tapi baguslah jika Mama sadar." Ucapnya cuek tanpa ekspresi.


"Kamu benar-benar ya Bim, sudah diracuni otak kamu itu sama wanita itu." Ucap Leina dengan wajah kesal bercampur marah.


Bimo mengernyitkan keningnya tidak percaya mendengar ucapan sang mama.


"Maksud Mama apa?"


Disaat suasana tegang, terdengar pintu di ketuk.


"Masuk."


Ketika pintu di buka ternyata Alena.


"Maaf, saya kira tidak ada tamu." Alena menundukkan kepala dan berniat ingin berbalik, karena melihat ibu mertua bersama wanita yang di jodohkan dengan suaminya.


"Sayang, kemari." Bimo berdiri dan berjalan melewati Mama beserta Siera yang menatap Alena tak suka.


"Kamu bawa makan siang kita." Bimo meraih rantang tempat makanan yang sudah Alena siapkan untuk mereka berdua.

__ADS_1


Alena hanya mengangguk menatap suaminya. dirinya merasa canggung dan tidak nyaman ketika ibu mertua menatapnya tajam.


Bimo menggandeng tangan Alena agar mengikutinya .


"Kenapa?" Tanya Bimo ketika Alena berhenti didepan Mamanya.


Alena melepas tangannya yang di pegang Bimo.


"Nyonya.." Alena menyapa dan mengulurkan tangannya untuk menyalimi tangan Leina.


"Cih, jangan sok baik kamu didepan suamimu." Leina menatap sinis Alena. "Karena kamu putraku jadi berubah membangkang padaku."


Deg


"Mah.." Bimo tidak percaya dengan apa yang diucapkan Mamanya.


"Kenapa, memang kenyataan nya begitu kan, kamu sekarang suka membatah ucapan Mama karena dia." Leina menunjuk wajah Alena dengan wajah geram.


"Mah, bukan begit_" Alena meraih lengan Bimo, agar suaminya tidak bicara.


"Kenapa?" Leina menatap putranya dengan amarah. "Kamu sudah dibutakan cinta dengan gadis miskin yang tidak tahu malu ini." Tangan Leina mendorong bahu Alena.


"Mah, Cukup." Bimo merangkul pundak istrinya. "Suka tidak suka Alena sudah menjadi istri ku, dan Mama tidak berhak menghinanya." Bimo berkata tegas dengan mata menahan amarah. Jika bukan ibunya yang bicara pasti sudah dirinya habisi.


Tangan Alena menyentuh bahu Bimo. "Bim, sudah..kamu jangan membentak Mama." Alena mencoba meredam emosi suaminya.


"Jika Mama datang hanya ingin menghina istriku, lebih baik Mama pergi."


"Bim.." Alena menggeleng kepala.


"Ingat, sampai kapan pun Mama tidak akan merestui kalian, dan kamu." Leina menunjuk wajah Alena. "Jangan harap menjadi menantu di rumah kami.


Leina pun pergi dengan amarah keluar dari ruangan Bimo.


Dirinya merasa kini Bimo sudah menjadi budak Alena, bahkan putranya itu berani membentak dan mengusirnnya.


Siera menatap Alena sekilas, dan mengikuti Leina yang berjalan keluar.


.


.


"Sayang, seharusnya kamu tidak perlu bicara kasar sama Mama kamu." Alena menyentuh lengan Bimo dan mengelusnya.


Bimo masih diam dengan memijit pangkal hidungnya, dirinya tidak menyangka jika Mamanya tidak menerima kehadiran Alena yang sudah menjadi istrinya.


Padahal yang dirinya tahu Mamanya yang tidak pernah membanding-bandingkan seseorang.


"Sayang.." Alena yang melihat suaminya melamun pun menyentuh wajahnya. "Lihat aku." Mata Alena menatap lekat bola mata hitam Bimo. "Yakinlah, Mama hanya butuh waktu untuk bisa menerima kehadiranku, Karena pernikahan kita yang mendadak dan tidak di ketahui oleh Mama, mereka berhak marah dan kecewa. Tapi aku yakin jika Mama adalah ibu yang baik hanya saja perlu waktu untuk menerima kehadiranku." Alena tersenyum, senyum untuk menenangkan suaminya yang memikirkan dirinya.


"Jangan pernah lelah, jangan pernah berhenti berusaha menyakinkan Mama jika kamu adalah pilihanku, wanita terbaik yang sangat aku cintai." Bimo mengelus pipi Alena.


"Hm..aku akan terus berusaha, jangan khawatir." Alena tersenyum.


"Terima kasih." Bimo mencium kening Alena.


"Ayo kita makan." Alena melihat jam yang melingkar di tangan suaminya. "Tinggal tiga puluh menit waktuku istirahat." Ucap Alena.

__ADS_1


Bimo hanya tersenyum. "Kamu nyonya Bimo Bagaskara tidak ada waktu terbatas."


Alena membuka kotak makanya dengan dua menu dan masakan dan nasi putih.


"Bau nya enak sayang." Bimo mencium aroma yang begitu menggugah selera.


"Yasudah ayo makan, mau aku suapi." Alena sudah menyendok kan nasi untuk menyuapi Bimo.


Dengan senang hati Bimo membuka mulutnya.


"Enak?" Tanya Alena.


"Hm..apapun yang di masak tangan istriku pasti enak."


"Gombal." Alena tersenyum.


Tangan Bimo meraih sendok yang Alena pegang.


"Aaa." Bimo menyuapi Alena.


Alena tersipu mendapat perlakuan manis suaminya, meskipun bukan pertama kali dirinya selalu merasa dicintai.


Ketegangan yang sempat terjadi tadi kini berubah menjadi hangat.


Alena selalu menampilkan senyum, senyum dibibir yang selalu manis.


Namun tersirat kesedihan di dalam hati, ketika ibu mertuanya jelas-jelas memaki dan menghina dirinya.


Kali ini dirinya harus berusaha untuk menyakinkan ibu mertuanya dan menerimanya sebagai menantu.


"Sayang, sudah kamu tentukan kemana kita akan pergi bulan madu?"


Bimo mengelus kepala Alena yang bersandar di dadanya.


kini keduanya sedang berada di kamar pribadi Bimo, setelah menghabiskan waktu makan siang berdua.


"Belum yank, belum sempat." Jari Alena menyusuri dada suaminya menggunakan jari telunjuknya.


"Bagaimana kali ke Paris?" Tanya Bimo.


"Paris?"


"Ya, disana terkenal dengan negara yang romantis."


Ucap nya dengan sesekali mengecup kepala Alena.


"Boleh, tapi aku belum pernah pergi keluar negeri yank." Jari Alena menggambar bentuk pola acak di dada bidang suaminya.


"Tidak masalah, nanti biar Daniel yang mengurus semua berkasnya, dan sekarang kamu harus mengurus di bawah sana yang sedang bangun." Bimo menatap Alena penuh minta.


Alena menatap ke bawah, dan benar saja, celana yang Bimo pakai menggembung.


"Iss..kau itu mesum sekali yank." Alena memukul dada suaminya dengan mengerucut kan bibirnya.


"Aku mesum hanya sama kamu sayang." Bimo langsung membalikkan tubuh Alena berada dibawahnya.


Keduanya saling bercumbu dengan penuh gairah yang memabukkan.

__ADS_1


__ADS_2