Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
pertanyaan yang selalu sama


__ADS_3

Rumah kediaman Bimo kini menjadi ramai karena semua berkumpul di satu atap rumah peninggalan sang istri, rumah yang Bimo belikan sebagai maskawin pernikahan mereka untuk sang Istri.


Dan malam ini mereka semua berkumpul di meja makan, dimana hanya Bimo sendiri yang seorang diri, jika melihat yang lain dengan pasangan masing-masing.


Alisa yang duduk di samping suaminya dengan cekatan, begitupun Sena yang melayani dua pria yang begitu dia cintai.


"Cukup sayang." Bimo mengintrupsi ketika Sena akan menaruh makanan lagi di piring papanya.


"Itu sedikit papa." Ucap Sena yang melihat hanya sedikit makanan yang berada di piring sang papa. Dia begitu sedih setiap kali melayani papanya makan.


"Jika kurang papa bisa menambah, kalau kamu taruh semua dan papa tidak bisa menghabiskan itu mubazir." Jawab Bimo dengan lembut, dirinya tidak pernah kasar terhadap Sena termasuk Ren juga.


"Tapi pah_" Ucapan Sena terhenti ketika tangannya diremat lembut oleh suaminya, dan Sena menatap Aaron yang menggelengkan kepalanya.


Semua yang berada di meja makan hanya menjadi penonton.

__ADS_1


"Kak, apa kakak diet?" Tanya Alisa menatap Bimo penuh tanda tanya, pasalnya memang sangat dikit porsi makan kakak iparnya itu, di bawah mereka yang makan normal.


"Tidak, sudah kalian makan saja. Glen ayo ambil yang banyak kamu masih dalam masa pertumbuhan." Ucap Bimo untuk mengalihkan perhatian mereka mengomentari makananya.


Mereka pun melanjutkan kegiatan makan malam yang sempat tertunda.


Setelah makan malam selesai mereka semua kembali ke tempat masing-masing, tapi malam ini Ren dan Alexa menginap di rumah papanya, berhubung besok weekand jadi mereka memutuskan untuk menginap.


"Kak." Alisa menghampiri Bimo yang sedang duduk di kursi taman belakang yang mengarah pada kolom renang.


"Hay, belum tidur." Tanya Bimo dengan posisi menegakkan tubuhnya.


"Em, belum haus karena air di kamar habis." Alisa duduk di samping Bimo, mereka berdua duduk di kursi panjang.


Hening keduanya sama-sama diam dan belum ada yang bersuara.

__ADS_1


"Apa kakak tidak berniat menikah lagi." Tiba-tiba Alisa melontarkan pertanyaan seperti itu. "Maksud ku apa kakak tidak merasa kesepian, aku tahu hidup kakak tidak mudah


"Alisa menoleh ke arah Bimo yang hanya diam menatap lurus ke depan.


"Kenapa kalian selalu bertanya seperti itu?" Bimo malah melontarkan pertanyaan kembali. Dirinya sudah bosan mendengar pertanyaan seperti itu. Sepertinya tidak ada yang memahami perasaanya.


"Mungkin karena melihat kak Bimo masih sendiri selama puluhan tahun." Jawab Alisa hati-hati agar tidak membuat Bimo tersinggung.


"Hah.." Bimo membuang napasnya kasar. "Untuk apa aku menikah lagi jika kakakmu selalu ada di hidupku." Bimo menatap Alisa sekilas sebelum melanjutkan ucapanya. "Dia akan selalu ada di kehidupanku sampai aku benar-benar bertemu dengannya, dan aku hanya tinggal menunggu waktu di mana dia akan menjemputku untuk kembali bersama." Bimo menatap langit malam yang bertabur bintang di atas sana, dia melihat satu bintang paling bersinar terang. "Dia selalu menemani hari-hariku dan aku tidak butuh siapapun untuk menemani ku lagi."


Alisa yang mendengarnya hatinya tersayat, betapa beruntungnya Alena sang kakak dicintai begitu besar oleh suaminya. Alisa menjatuhkan air matanya sedih dan haru menjadi satu.


"Andai aku tidak berjanji untuk merawat kalian disaat dia sekarat, mungkin aku juga sudah_"


"Kak..!"

__ADS_1


__ADS_2