Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Season_2


__ADS_3

"Panggilkan manager anda restoran ini." Ren berbicara kepada seorang pelayan, yang kebetulan lewat di depan ruang VIP yang dia gunakan untuk bertemu klien tadi, dan kini Jims sudah pergi dan Ren sengaja untuk bertemu manager restoran hotel bintang lima yang ternyata milik keluarga Bagaskara.


"Baik tuan." Pelayanan pria itu pergi untuk memanggil bosnya.


Ren menunggu dengan duduk dikursi, dirinya mengingat kejadian tadi yang sepertinya melihat wajah pelayan wanita tadi tidak asing.


"Tuan memanggil saya." Manager itu berdiri di belakang Ren yang duduk memunggungi nya.


Ren berbalik, dan melihat pak Joko.


"Tuan Birendra." Pak Joko tersenyum dan menyapa Ren ramah. "Ada yang bisa saya bantu."


"Hanya ada insiden kecil." Ren menunjukan rekaman cctv yang berada di ruangan VIP itu, di mana hanya petinggi hotel yang bisa mendapatkan rekaman itu.


Diruangan VIP tidak ada yang tahu jika terpasang cctv tersembunyi, hanya saja dulu Bimo membuat hotel ini dirinya memang memasang cctv di semua ruangan tanpa terkecuali, dan cctv itu hanya bisa di akses oleh dirinya dan anak-anak nya. Karena ruang VIP adalah ruangan privasi, hanya saja mereka berjaga-jaga jika terjadi suatu hal yang tidak baik.


"Ini_" Pak Joko terkejut ketika melihat rekaman insiden kecelakaan, yang menimpa anak pemilik hotel tempatnya bekerja.


Ren menaikkan satu alisnya, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku jas, setelah memeprlihatkan rekaman tadi.


"Bapak sudah tahu apa yang harus di lakukan, semua pekerja disini harus menjaga nama baik hotel, dan melakukan pekerjaan dengan baik, dan bisa anda lihat tadi." Ren menatap Joko yang menelan ludah kasar. "Saya rasa semua karyawan yang bekerja di sini memiliki wawasan dan sudah ahli dalam bidangnya, tapi wanita tadi." Ren mendengus kasar. "Bisa-bisanya dia menumpahkan air ketika saya sedang metting penting dengan klien."


Joko merasa merasa bersalah dan juga kesal kepada Alexa, karena dirinya yang membatu Alexa agar bekerja di restoran hotel itu, sebab Alexa sudah menjadi pengangguran semenjak di pecat dari perusahaan.


"Maaf tuan jika karyawan tadi sudah melakukan kesalahan, nanti akan saya tegur."


"No.." Ren menatap Joko dengan datar, "Pecat dia, saya rasa dia tidak sungguh-sungguh bekerja di sini." Setelah mengatakan itu, Ren berdiri dan pergi meninggalkan Joko dengan rasa kasihan lada Alexa.


"Lexa.. Lexa... kenapa bikin ulah sih." Joko menggerutu merutuki kebodohan Alexa yang tidak hati-hati dan berakibat fatal seperti ini.


Joko adalah saudara Alexa jauh, dan Joko merasa kasihan dengan Alexa dan membantu Alexa untuk mendapatkan pekerjaan, meskipun bukan ahli di bidang Alexa, tapi melihat gadis itu pengangguran membuat Joko tak tega.


Ren keluar dari pintu lift setelah sampai di lobby hotel.

__ADS_1


Karena berjalan dengan melihat ponsel Ren menabrak seseorang.


Bugh


"Auws.." Seorang wanita mengaduh ketika pantatnya mencium lantai.


"Ah..maaf nona." Ren mengulurkan tangannya pada wanita yang sudah dia tabrak.


Wanita itu mendongak, dan melihat seorang pria mengulurkan tangannya.


"Jihan.." Ren yang melihat wajah wanita itu yang ternyata dirinya kenal.


"Rendra." Wanita yang di panggil Jihan menerima uluran tangan Ren, dirinya terkejut melihat penampilan Ren yang sekarang.


"Kamu Jihan?" Ren menatap tak percaya jika wanita yang dulu dirinya kagumi diam-diam kini berdiri didepan matanya.


"Ya, dan kamu Birendra?" Jihan tersenyum, dirinya takjub dan terpesona melihat penampilan Ren yang sekarang.


"Kamu masih ingat aku." Ren ikut tersenyum, dirinya tidak menyangka jika Jihan wanita yang menjadi gadis terpopuler di sekolah mereka dulu mengingat dirinya.


Ren yang dulu adalah pria biasa saja, bahkan Ren terkanal dengan pria kutu buku, dan tidak bisa membuat penampilannya menjadi keren dan modis, meskipun wajahnya tampan, tapi Ren sengaja membuat dirinya tidak menonjol di sekolahnya dulu.


Meskipun memiliki penampilan yang biasa saja, tapi Ren adalah siswa teladan dan terbaik nomor satu di sekolahnya.


Sedangkan Jihan adalah gadis terpopuler dan most wanted, di sekolah mereka, dimana Jihan menjadi primadona yang banyak di puja oleh kaum Adam karena kecantikan dan kemolekan yang dimiliki Jihan, dan gadis itupun juga tidak sombong kepada sesama siswa/i, membuat Ren kagum.


Biasanya jika memiliki paras cantik dan seksih wanita akan lupa diri, di mana penampilan mereka adalah penunjang hal yang paling mencolok dan mereka bangga-banggakan.


"Jadi sekarang kamu sudah menjadi pengusaha sukses?" Ucap Jihan tak percaya, ketika dirinya bertanya pekerjaan Ren yang memakai jas seperti pembisnis.


"Belum, aku masih baru merintis karir." Ren yang memang suka menutupi jati dirinya, tidak mau berterus terang.


"Ck. jangan merendah Ren, aku yakin suatu saat kamu akan menjadi orang sukses." Jihan menyentuh tangan Ren yang berada di atas meja.

__ADS_1


Ren yang di perlakukan seperti itu membuat dirinya mematung, jantung nya berdebar.


"O ya..Kalau boleh tau kamu bekerja di mana?" Jihan menyesap minuman jus yang dia pesan, karena Ren mengajak Jihan untuk mengobrol di sebuah cafe tidak jauh dari hotel miliknya tadi.


"Di perusahaan Bagaskara Grub."


"Oh, may good, itukan perusahaan besar setelah LWS Ren, belum lama ini kedua perusahaan itu menjadi dua keluarga besar, setelah cucu satu-satunya menikahi putri pertama pemilik Bagaskara Grub."


Jihan berbinar menceritakan dua konglomerat yang baru-baru ini memenuhi akun gosip dan bisnis. Karena pernikahan itu, kini kedua perusahaan itu terkenal sampai manca negara.


"Mungkin aku salah satu pria beruntung yang bisa kerja di sana." Dengan semua wanita Ren menutupi jati dirinya yang asli, dirinya enggan untuk memperkenalkan jika dirinya adalah anak dari salah satu konglomerat di kota ini.


"Duh Ren, aku saja ingin bekerja di perusahaan Bagaskara Grub, tapi tidak bisa." Ucap Jihan dengan perasaan sedih.


Ren yang melihat wajah Jihan sedih menjadi penasaran.


"Jika aku bekerja, maka ibuku tidak ada yang merawat, beliau sudah sakit keras, apalagi kami hanya tinggal berdua, dan akulah yang harus banting tulang untuk mencari uang." Jihan menceritakan kisah hidupnya yang memang harus membuat dirinya banting tulang mencari uang cepat, agar bisa membeli obat untuk sang ibu yang sedang sakit keras.


Dan Jihan bekerja sebagai wanita panggilan baru beberapa bulan ini.


Meskipun terpaksa Jihan tetap menjalaninya, demi sang ibu.


Ren yang hanya melihat sisi Jihan dari luar tidak tahu jika kehidupan wanita di depannya itu ternyata memiliki banyak masalah.


"Dan sekarang aku menjalani pekerjaan yang dulu sangat aku benci." Jihan menatap Ren yang juga menatapnya. "Dimana rela menjual diri demi mendapatkan uang." Air mata Jihan mengalir di pipi ketika menceritakan kehidupan yang dia jalani sekarang.


Tangan Ren terulur untuk mengusap pipi Jihan yang basah, melihat Jihan yang sedih dan menangis membuat Ren tidak tega.


"Bukan salah mu menjadi wanita seperti ini, apalagi keinginanmu, hanya saja jalan takdirmu mungkin harus begini." Ucap Ren yang mengusap pipi Jihan menggunakan jarinya.


Jihan menatap wajah Ren yang tersenyum, "Apa kamu tidak jijik mengenal aku yang sekarang?" Tanya Jihan dengan masih menatap wajah tampan Ren.


"Semua orang memiliki masalah, dan kehidupan yang berbeda. Tidak semua yang kita lihat itu jelek dan menjijikan, karena kenyataannya mereka melakukan pekerjaan itu didasari oleh hal yang mendesak."

__ADS_1


Jihan menunduk, dirinya merasa malu. "Tidak apa, kamu melakukan itu demi ibumu, dan bukan karena kesenangan semata." Ren menggenggam tangan Jihan. "Justru aku bangga sama kamu, karena rela melakukan itu demi kesembuhan ibumu."


Jihan mendengar ucapan Ren terharu, ternayata masih ada yang melihat sisi baik nya dari pekerjaan yang dia lakoni, dan selama ini mereka menilai dirinya hanya wanita kotor dan hina.


__ADS_2