
Bimo turun kelantai satu setelah tiga puluh menit didalam kamar mandi, tidak tahu saja Alena jika suaminya harus meredam gelora yang sudah menegang dan dengan terpaksa membuat Bimo harus menidurkan adik kecilnya sendiri.
"Bim.." Alena yang melihat Bimo datang segera menyiapkan piring untuk nya. Alena belajar dari Mamanya ketika selalu melayani papanya di meja makan dengan senyum.
"Makasih sayang." Ucap Bimo menerima Pring yang sudah Alena isi dengan menu masakannya.
"Kak, Alisa mau ayam goreng lagi." Ucap Alisa yang minta nambah, padahal dipiring nya masih ada.
"Habiskan dulu Alis, baru nanti nambah." Ucap Alena.
Wajah Alisa cemberut mendengar ucapan Alena.
"Habiskan dulu sayang, nanti bisa nambah lagi sepuasnya yang Alisa mau." Ucap Bimo dengan lembut.
Alisa langsung menurut, dan segera melahap ayam goreng miliknya, agar bisa kembali mengambil yang baru.
Mirna dan Fandi hanya tersenyum melihat tingkah Alisa yang begitu nurut dengan Bimo.
"Kamu terlalu memanjakan nya Bim." Ucap Alena.
Alisa begitu menuruti perkataan Bimo, padahal sama saja ketika dirinya berucap namun Alisa lebih patuh dengan Bimo.
"Biarkan, sudah tugasku memanjakan kalian." Ucap Bimo dengan melanjutkan makannya.
Makan malam mereka diselingi ocehan Alisa yang begitu senang karena bisa makan banyak dan enak-enak. Alena merasa bersyukur melihat Alisa yang begitu bahagia, dirinya selalu berdoa agar adik kecilnya itu selalu bahagia.
Alena berada didalam kamar, setelah makan malam dan menghabiskan waktu sebentar untuk menemani Alisa, karena setelah makan Bimo masuk kedalam ruang kerjanya.
Alena menatap jam di dinding sudah jam sepuluh malam, namun Bimo belum juga masuk ke kamar.
Berjalan keluar kamar, Alena menuju dapur untuk membuatkan suaminya kopi.
__ADS_1
Tok..tok..tok..
"Masuk sayang." Ucap Bimo yang sudah tahu jika Alena yang datang dari cctv.
Alena membuka pintu pelan. "Belum selesai." Tanyanya dengan berjalan membawa secangkir kopi.
"Sebentar lagi." Ucap Bimo yang masih fokus pada laptopnya, karena sedikit lagi pekerjaannya akan selesai.
Alena menaruh kopinya di depan Bimo. "Aku keluar ya." Alena berbalik hendak pergi karena tidak ingin mengganggu suaminya bekerja.
"Mau kemana?" Bimo segera meraih tangan Alena. "Duduk sini." Bimo menepuk kedua pahanya.
Alena masih diam, dirinya ragu masih merasa malu.
Tangan Bimo menarik tangan Alena agar mendekat dan mendudukkan Alena di pangkuannya dengan wajah berhadapan.
"Sebentar lagi selesai, tunggulah." Ucap Bimo mencium kening Alena. Dan kembali melakukan aktifitasnya tanpa terganggu adanya Alena di pangkuannya.
Tangan Alena terangkat untuk memeluk tubuh suaminya, kepalanya Ia sandarkan di bahu suaminya.
"Jika kamu tidak Bergerak maka, tidak akan menganggu." Ucap Bimo pelan, karena sejak tadi Alena menggerakkan bokongnya membuat adik kecil Bimo merasa tersiksa.
"Emh.." Alena bergumam ketika bokongnya merasakan sesuatu yang mengganjal keras di bawah sana.
"Jangan bergerak sayang." Bimo menyuntuh pinggang Alena agar tidak bergerak karena dirinya takut jika akan lepas kendali, Bimo tidak akan memaksa Alena melayaninya jika istrinya itu belum siap.
"Boleh besok aku bekerja." Tanya Alena yang sudah bisa duduk dengan benar, meskipun masih sedikit mengganjal namun Alena mencoba untuk biasa saja.
"Kenapa kamu ingin bekerja? apa uang yang aku kasih kurang." Ucap Bimo dengan tangan masih sibuk dengan laptopnya.
"Bukan seperti itu, aku hanya bosan kalau harus dirumah, bekerja aku bisa bertemu Gina dan kamu." Ucap Alena dengan nada lembut.
__ADS_1
Bimo menghela napas, dirinya sebenarnya juga senang jika bekerja ditungguin istrinya.
"Baiklah, kamu bisa bekerja lagi." Ucap Bimo pada akhirnya.
"Tapi jangan kasih tau pegawai kantor jika aku sudah menjadi istrimu, cukup hanya Gina yang tahu ya." Ucap Alena yang sudah menatap wajah Bimo.
"Kenapa?" Tanya Bimo yang mendengar perkataan istrinya.
"Mama, papa kamu aja belum tahu kalau kita sudah menikah, jadi nanti ada saatnya kamu memperkenalkan aku pada keryawan di kantor." Ucap Alena memainkan rambut Bimo.
"Hem..kamu benar, Mama dan papa masih di luar negeri, nanti kita bicara setelah mereka pulang." Ucap Bimo tersenyum.
"Apa kamu tidak mau merubah panggilanku untuk ku?" Karena Alena masih memanggil namanya ketika mereka sudah menikah.
"Panggilan untuk mu." Ucap Alena berfikir.
"Hm..seperti sayang mungkin." Ucap Bimo sambil mengecup leher Alena yang putih, namun jika diperhatikan ada bekas sedikit samar terlihat coklat, bekas tanda yang Bimo berikan tadi sore.
"Eng.." Alena meleguh ketika bibir basah Bimo memberikannya kecupan lembut.
"Katakan panggilan apa yang kamu berikan." Ucap Bimo disela-sela bibirnya yang mengecek leher dan pundak Alena. Nafas hangat Bimo pun bisa Alena rasakan di kulit nya.
"Sa-sayang..mmh." Alena memejamkan mata ketika bibir Bimo menyesap kuat kulit pundaknya.
"Lagi.." Ucap Bimo dengan bibir yang masih menempel di kulit leher Alena.
"Emmh.. Sayang..ahh.." Alena mengeluarkan desa*han nya ketika Bimo menggigit kecil telinganya.
Bimo menyusuri kulit leher pundak hingga telinga Alena menggunakan bibirnya, tangannya sudah merambat mengelus paha mulus Alena.
Keduanya masih menikamati pemanasan yang begitu membakar tubuh keduanya hingga ingin melakukan hal lebih.
__ADS_1
Belum saatnya Unboxing..😂