
Sena yang masih khawatir dan cemas, tidak bisa tidur. Sejak tadi hanya ponsel yang Sena pegang, menghubungi nomor suaminya yang sama sekali tidak bisa di hubungi.
"Ar, kamu dimana?" Gumam Sena berkata lirih. Dirinya menghampiri box bayi dimana si kembar sudah terlelap, mereka tidak seperti ibunya yang gelisah dan khawatir.
Menatap sendu kedua putranya, Sena tersenyum tipis.
Ceklek
Pintu kamar terbuka, Sena langsung membalikkan tubuhnya melihat siapa yang masuk.
"Ar.." Bibir Sena langsung melengkungkan senyum, dirinya berjalan cepat menghampiri Aaron yang berdiri dan tersenyum. Sena menubruk tubuh suaminya dan memeluknya erat, "Aku mencemaskan mu." Ucapnya lirih.
Aaron membalasnya tak kalah erat, keduanya saling berpelukan. "Maaf sudah membuatmu khawatir, ponselku mati jadi tidak bisa memberi kabar." Balas Aaron sambil mencium pucuk kepala Sena berulang kali.
Sena melonggarkan pelukannya dan menatap wajah suaminya lekat kedua tangannya berada di wajah Aaron. Tersenyum manis Sena mengecup bibir Aaron sekilas. "Apa terjadi sesuatu?" Tanya Sena yang melihat tatapan Aron seperti menyimpan kesedihan.
Bibir Aaron tersenyum, tapi tatapan kedua matanya tidak bisa berbohong.
"Ya, maka dari itu aku sampai pulang terlambat." Tangannya mengusap lembut pipi Sena.
"Bersihkan dirimu dulu, aku siapakan air hangat." Sena mengusap wajah suaminya dan pergi menyiapkan keperluan Aaron untuk mandi.
Aaron mendekati box putranya, melihat kedua bayi menggemaskan sudah terlelap.
"Mandilah." Sena menyentuhnya lengan Aaron. Tatapan keduanya sama-sama menatap putranya.
"Apa mereka hari ini rewel?"
__ADS_1
"Sedikit karena mereka sudah mulai belajar tengkurap." Sena tersenyum mengingat hari ini kedua putranya mulai bisa belajar tengkurap sendiri dan itu sungguh membuatnya senang.
"Pasti menggemaskan." Balas Aaron disertai tawa kecil.
"Ya, mereka memang menggemaskan." Sena menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
Hah Aaron membuang napas kasar, membuat Sena mengangkat wajahnya.
"Mandilah, aku buatkan teh hangat."
Setelah membersihkan diri, Aaron keluar dari kamar mandi dan menghampiri Sena yang membawakan baju untuknya ganti.
"Terima kasih sayang." Aaron tersenyum menerima, dan segera memakainya.
"Sama-sama." Sena beralih duduk di sofa yang berada di sudut kamar, dimeja sudah ada teh hangat yang dia buatkan untuk suaminya.
Sena menunggu suaminya untuk bicara, karena kedua mata Aaron masih menyimpan kesedihan.
"Apa kamu sudah lebih baik." Tanya Sena menatap Aaron yang juga menatapnya.
Aaron tersenyum, "Kemarilah." Tangannya kanannya terlentang untuk meraih tubuh Sena kedalam pelukannya. Aaron mengusap kepala Sena dan menciumnya.
"Hanya merasa bersalah dan berhutang budi." Ucap Aaron tiba-tiba setelah hening beberapa menit. "Jack terluka dan dilarikan kerumah sakit, Jack terkena tembakan diperutnya dan keadaannya kritis. Dan itu karena dia menolongku." Terang Aaron sambil membelai rambut panjang Sena.
Sena hanya diam mendengarkan, namun tangannya mengeratkan pelukan di perut suaminya.
"Malam tadi_" Aaron bercerita tentang Richard yang sudah lama mengincar dirinya, dan termasuk kecelakaan penembakan waktu di malam itu, semua Aaron baru ceritakan karena baginya waktunya Sena untuk tahu, lagipula Richard sudah mendapatkan hukumannya.
__ADS_1
"Jadi karena ini yang membuatmu sedih." tangan Sena mengelus pipi suaminya yang menatap wajahnya.
Aaron mengecup tangan Sena yang berada di pipinya. "Hm, karena itu aku sangat sedih, Jack mengorbankan nyawanya untuk ku."
Sena tersenyum, senyum manis yang dia tampilkan untuk sang suami. "Semoga Om Jack lekas membaik, kita hanya bisa berdoa sisanya biar Tuhan yang bekerja."
"Terima kasih." Aaron memeluk erat Sena, menempelkan pipinya dikepala Sena. "Terima kasih sudah mau mendengar kesedihanku." Setelah bercerita hatinya tidak seresah tadi, dan kesedihannya mulai hilang.
Sena hanya mengangguk. "Itulah gunanya saling terbuka, kita sepasang suami istri buka orang lain."
Aaron tersenyum, dirinya benar-benar beruntung memiliki Sena, meskipun awalnya wanita ini jutek dan ketus, tapi dibalik itu Sena adalah wanita lembut dan baik, sifat keibuannya mengurus dua putra mereka, dengan telaten Sena melakunya sendiri.
Tangan Aaron mencapit dagu Sena, agar mendongak menatapnya.
Cup
Satu kecupan Aaron sematkan dibibir sang istri. Lalu kembali mengecup di sertai lumattan yang semakin dalam menuntut.
Sena hanya pasrah, tangannya mengalung di leher suaminya, dan membalas cumbuan Aaron.
"Emph," Leguhan Sena terdengar merdu di telinga Aaron, membuat Aaron semakin gencar merangsang tubuh istrinya.
"Ar, emh." Sena meremas rambut Aaron, ketika bibirnya menyusuri leher hingga kedada yang sudah setengah terbuka, kebiasaan Sena adalah tidak memakai kacamata di kedua gundukanya.
"Emm." Sena semakin gelisah, duduknya sudah tak setenang tadi. Aaron sendiri sudah tak bisa menahan gelora yang hadir di tubuhnya, dengan tangan bekerja cepat, Aaron membuka penutup di bawahnya, keduanya sudah polos, hanya gaun malam Sena yang masih nyangkut di pinggang, dan Aaron yang masih mengunakan kaus. Segera Aaron menundukkan Sena di atas miliknya yang sudah turn on.
Ough..ssh
__ADS_1