
Tidak semudah yang di lihat jika keduanya menjalani kehidupan yang baik-baik saja, mereka hanya sengaja menutupi luka agar terlihat baik-baik saja.
Terpisah bukan karena kesalahan ataupun penghianatan, melainkan terpisah dengan pergi untuk kebahagiaan seseorang. Dan pada akhirnya keduanya sama-sama saling merasa tersiksa dan tersakiti karena keegoisan seorang ibu yang tidak bisa menerima keadaan putranya yang telah menikah dengan pilihannya sendiri.
Dan sekarang rasa itu terbayar dengan pertemuan mereka yang begitu di rindukan, dimana kedua orang yang saling mencintai kembali bertemu dengan perasaan yang masih sama.
Kejadian mengharukan itu banyak menyita pelanggan yang sedang menikamati santapan siangnya, dan ada juga yang merekam kejadian itu sebagai kenangan yang mengharukan.
Apalagi melihat pria tampan yang mereka tahu jika pria itu suaminya berlutut di depan sang istri dengan mencium perutnya yang sedang hamil membuat kaum hawa yang melihatnya berteriak histeris karena terbawa suasana.
Bagaimana tidak terpesona jika Bimo berlutut di depan perut besar Alena, menatap nyawa didalam perut istrinya dengan penuh cinta. Dengan bibir tersenyum namun air mata kebahagiaan yang mengiringi.
Setelah adegan mengharukan itu, kini keduanya sudah berada di ruangan pribadi Weni dan Alena di kedai restoran itu, ruangan untuk beristirahat jika merasa lelah.
"Jadi ini suami kamu nak?" Tanya Weni yang sejak tadi penasaran dengan kegaduhan di dalam kedainya.
"Iya Bu, namanya Mas Bimo." Alena tersenyum menatap wajah suaminya.
__ADS_1
"Maaf sudah mengganggu ketenangan tempat ibu." Ucap Bimo.
Sejak tadi tangannya tak lepas menggenggam tangan istrinya sesekali mengecup tangan itu dengan penuh kasih sayang, Alena sendiri sampai merasa malu dengan tingkah suaminya karena di lihat orang lain.
"Tidak apa nak Bimo, justru ibu senang akhirnya Alena bertemu kamu, karena selama ini ibu sering melihat Alena bersedih dan menangis ketika sedang sendiri." Weni menatap keduanya dengan perasaan bahagia.
Alena membulatkan matanya mendengar ucapan Weni." Ibu melihat itu." Tanyanya merasa malu, karena dirinya selalu ingin terlihat baik-baik saja dan menutupi kesedihannya sebisa mungkin.
"Hm.." Weni mengangguk.
Bimo menatap Alena sendu. "Maaf sayang."
"Ibu senang jika kalian bersama, ibu lihat kalian berdua saling mencintai dan ibu doakan semoga masalah kalian menemukan jalan terang yang akan membuat kalian bahagia." Ucap Weni dengan doa penuh harap.
"Ya, saya sangat mencintai istri saya lebih dari apapun." Tatapannya tak lepas dari wajah Alena. "Karena dia adalah sumber kebahagiaan saya di tambah ada dia disini." Tangannya mengelus perut Alena.
Alena terus mengembangkan senyum, dirinya sangat merindukan ucapan cinta dari suaminya itu dan kini dirinya bisa mendengarnya kembali.
__ADS_1
"Bukan dia Mas, tapi mereka." Ucap Alena.
Bimo menatap Alena dengan alis terangkat sebelah. "Mereka?"
Alena hanya mengangguk. "Mereka putra-putri kita."
Bimo membulatkan kedua matanya. "Maksud kamu_"
Tidak bisa berkata-kata, ucapan Alena membuat debaran di hatinya kian membuncah dengan perasaan berbunga-bunga, dirinya sudah menyimpulkan sesuatu ketika mendengar kata mereka.
"Ya, mereka disini kembar." Alena mengelus perut nya pelan.
"Terima kasih sayang, terimakasih." Alena dihujami banyak kecupan di seluruh wajahnya, bahkan hingga membuatnya pusing.
"Hay, anak-anak papa." Tangannya bergetar dengan senyum kebahagiaan yang terus terpancar. "Terima kasih sudah hadir di kehidupan papa dan mama, terima kasih sudah menjaga mama kalian untuk papa,.dan kali ini papa yang akan menjaga kalian." Kecupan lembut mendarat di atas perut Alena.
Weni yang mendengar merasa terharu dan bahagia.
__ADS_1
Alena tertawa ketika merasakan gerakan di perutnya hingga menimbulkan rasa geli.
Merasakan untuk pertama kali anak-anak bergerak dalam perut Alena membuat dada Bimo semakin berdebar merasa takjub sekaligus bahagia.