
Keesokan harinya, Ma Guang bersama pasukannya kembali melanjutkan perjalanan mereka.
Hal itu dilakukan karena situasi di wilayah tersebut di anggap sudah bisa di kuasai oleh kedua jenderal besar yang berada di wilayah tersebut.
Dan Ma Guang juga sudah memeriksa prajurit yang menjadi mata - mata dari kerajaan Lai.
Jenderal Yang Bin sendiri, setelah beberapa waktu kemudian, akan menuju ke kota Pingcheng juga dan kembali menyusuri perbatasan wilayah kerajaan Qi yang kini sudah mereka kuasai lagi dan akan mampir juga di kota Pingdu.
Ma Guang sendiri bersama pasukannya akan melakukan perjalanan melalui kota Yi'an, Gaomi, Gumu yang termasuk wilayah propinsi Jiaoxi, kota Dongwu wilayah propinsi Langya, Zhengquan dan kota Ju yang berada di wilayah propinsi Chengyang dan kembali lagi memasuki wilayah propinsi Langya, yaitu kota Ganyu yang wilayahnya berbatasan langsung dengan wilayah kerajaan Chu.
Tujuan utama pasukan Ma Guang adalah untuk melakukan patroli di wilayah yang berbatasan langsung dengan kerajaan tetangga.
Dan jarak yang akan mereka tempuh hingga tiba di kota Ganyu sekitar 450 kilo meter. Dan itu bisa mereka tempuh selama lima belas jam jika dengan memacu kuda mereka dengan cepat.
Namun tentunya perjalanan mereka pasti lebih lambat dari perkiraan tersebut, sebab stamina dari kuda sendiri tentunya harus selalu di jaga, agar tetap fit saat di gunakan dalam pertempuran.
Ma Guang hanya mampir sebentar di istana penguasa kota Yi'an untuk minum teh bersama dengan penguasa kota.
Hal itu juga terjadi di kota Gaomi dan kota Gumu.
Namun setelah tiba di kota Dongwu, Ma Guang beserta pasukannya beristirahat di kediaman yang telah di siapkan oleh penguasa kota Dongwu.
Tidak ada hal spesial yang terjadi di saat mereka melakukan perjalanan kali ini. Hingga mereka tiba di kota Ganyu.
Ma Guang langsung membahas situasi keamanan di wilayah yang berbatasan dengan kerajaan Chu.
Namun setelah mendengar penjelasan dari penguasa kota Ganyu, Ma Guang kini sudah mengetahui bahwa seiring namanya terus melakukan hal - hal yang telah menggemparkan dunia persilatan serta penguasa kerajaan - kerajaan yang berada di wilayah kekaisaran Zhou. Pasukan kerajaan Chu yang biasanya sering memprovokasi pasukan penjaga perbatasan kerajaan Qi dan juga para anggota sekte Kalajengking Merah, kini sudah tidak ada lagi, dan setiap penduduk desa merasa aman dan tenteram saat ini.
"Jadi seperti itu yah situasi terkini wilayah yang berbatasan dengan kerajaan Chu? Kalau begitu, besok pasukanKu akan langsung melanjutkan perjalanan lagi". Ucap Ma Guang.
"Penguasa kota! Saya pamit undur diri dulu untuk beristirahat". Lanjut Ma Guang lagi.
Pemuda itu langsung berjalan meninggalkan istana kota tersebut dan langsung menuju kediaman yang di siapkan oleh penguasa kota Ganyu.
Di ibu kota kekaisaran Zhou dan juga para penguasa di kerajaan yang berada di wilayah kekaisaran Zhou, kini sedang membicarakan tentang Ma Guang yang mampu menghadapi pasukan musuh yang berjumlah besar hanya dengan lima ratus pasukan yang di latihnya.
Hal itu membuat raja Ma Yen dari kerajaan Chu langsung merasa senang dengan tindakan yang di ambilnya untuk tidak lagi memprovokasi pasukan dari kerajaan Qi dan juga melarang sekte Kalajengking Merah untuk tidak lagi merongrong penduduk desa yang berada di wilayah kerajaan Qi.
Karena hal yang buruk telah dapat di hindarinya.
__ADS_1
Keesokan harinya Ma Guang beserta pasukannya kembali melakukan perjalanan.
Pasukan Ma Guang menyusuri wilayah perbatasan dengan kerajaan Chu, kerajaan Lu, kerajaan Wei, kerajaan Zhao dan juga kerajaan Yan.
Perjalanan mereka memakan waktu selama seminggu dari kota Ganyu hingga tiba di kota Chiping sebelah barat kota Lu propinsi Jibei dan wilayahnya berbatasan dengan kerajaan Wei.
Nama Ma Guang kini sudah di kenal di mana - mana, namun wajahnya hanya di kenal oleh orang - orang dunia persilatan yang menghadiri kompetisi di ibu kota kekaisaran.
Setiap penguasa kota yang bertemu dengan pemuda itu, selalu menyambutnya dengan penuh rasa hormat.
Para pendekar bayaran yang memburu Ma Guang, kini mengurungkan niat untuk menyerangnya, hal itu di sebabkan karena rumor yang beredar, bahwa dirinya mampu mengalahkan pasukan kerajaan Lai yang berjumlah sepuluh ribu orang dengan pasukan yang di milikinya lima ratus orang dan juga hanya dengan seratus orang prajurit saja.
Ma Guang kemudian melakukan perjalanan menuju ke kota Gaotang, kota Pingyuan, kota Li dan terakhir di kota Nanpi, yaitu kota yang berdekatan dengan sekte Bambu Kuning.
Setelah pasukannya berada di kota Nanpi, Ma Guang mempercayakan kepada Xia Jiao dan juga Yuan Jiali untuk mengatur pasukan tersebut.
Kedua gadis tersebut langsung mengiyahkan permitaan Ma Guang.
Pemuda itu ingin berkunjung ke sektenya yang sudah beberapa tahun dia tinggalkan.
Ma Guang dengan menunggang kuda, dirinya hanya membutuhkan satu jam saja untuk tiba di sektenya itu.
Ma Guang langsung melanjutkan perjalanannya.
Tempat yang kini menjadi tujuan awal untuk di kunjunginya adalah aula utama sekte.
Ma Guang kini sudah memasuki aula sekte, dan para murid yang berjaga langsung pergi melaporkan kepada patriak sekte, tetua agung dan tetua kehakiman.
Setelah beberapa saat, dengan cepat ketiga pimpinan tertinggi di sekte itu sudah tiba dan memasuki aula utama sekte yang di dalamnya seorang pemuda sedang menunggu.
"Guang'er! Guang'er! Guang'er!".
Sapa ketiga pimpinan tertinggi di sekte itu.
"Hormat kepada Patriak! Tetua Agung dan juga kepada tetua kehakiman!". Ucap Ma Guang sambil menangkupkan tangannya.
"Guang'er! Bagaimana kabarMu? Apakah kamu akan tetap menjadi seorang jenderal di kerajaan Qi?". Tanya Patriak.
"Kalau soal itu, di saat aku kembali ke ibu kota kerajaan, aku akan mengundurkan diri, sebab masih ada urusan pribadi yang akan aku lakukan". Jawab Ma Guang.
__ADS_1
Ketiga pemimpin utama sekte langsung menganggukan kepala mereka menanggapi perkataan pemuda itu.
"Bagaimana dengan keadaan di sekte, apakah memiliki perkembangan?". Tanya Ma Guang.
"Perkembangan sekte sangatlah mencolok, karena sudah ada begitu banyak pendekar raja tingkat tinggi. Namun untuk pendekar suci sendiri belum bertambah". Ucap patriak.
"Akan tetapi kekuatan kita sekarang sudah berada jauh di atas sekte besar mana pun". Ucap tetua Agung menyambung apa yang di sampaikan oleh patriak.
Saat mereka sedang berbincang - bincang, para tetua dan juga para leluhur mulai berdatangan dan memasuki aula utama.
Di setiap wajah mereka kini terpampang senyuman kebahagiaan karena bisa kembali bertemu dengan Ma Guang lagi.
Ma Guang juga tersenyum bahagia melihat wajah - wajah para leluhur dan juga para tetua yang penuh dengan kebahagiaan itu.
"Bagaimana jika kita mengadakan pesta malam ini? Apakah kalian menyetujuinya?". Ucap patriak.
Para leluhur dan juga para tetua langsung menyetujuinya.
Ma Guang yang mendengar hal itu tidak bisa menolak apa yang mereka rencanakan.
"Kalau begitu, aku ingin memberikan waktu kepada para leluhur dan juga para tetua untuk mempertanyakan setiap kesulitan yang dihadapi dalam berkultivasi". Ucap Ma Guang.
"Guang'er! Kami merasa sangat berhutang budi kepada diriMu, sebab karena diriMu, sekte kita kini sudah menjadi sekte yang besar dan sekte yang terkuat di dunia persilatan. Kami berharap diriMu juga harus menikmati masa mudaMu terlebih dahulu, sebab semenjak kamu remaja, diriMu sudah memiliki beban hidup yang sangat besar. Jadi kami berharap kali ini, kamu beristirahatlah dahulu, karena kami tahu apa yang kamu lakukan sangatlah melelahkan untukMu". Ucap patriak yang diikuti dengan anggukan kepala dari semua yang hadir di tempat itu.
Ma Guang akhirnya menerima apa yang di sarankan oleh patriak.
Mereka akhirnya membubarkan diri dan kembali ke kediaman mereka masing - masing.
Sedangkan Ma Guang sendiri, langsung menuju ke kediaman tetua Duan.
Pemuda itu melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh ke udara dan terlihat seperti sedang terbang untuk menuju ke kediaman tetua Duan.
Setelah tiba di depan kediaman tetua Duan, pemuda itu sedang melihat seorang pemuda dan dua orang gadis sedang berlatih di halaman kediaman tersebut.
Ma Guang langsung menyapa pemuda tersebut dan juga kedua gadis yang bersama dengannya.
"Kakak Jun! Tuan Putri Zhou! Nona Tjia! Bagaimana dengan perkembangan ilmu bela diri kalian?". Ucap Ma Guang dengan senyum yang mengembang dari bibirnya.
Ketiga muda mudi tersebut langsung menghentikan aktivitas mereka dan langsung berlari menuju ke arah Ma Guang.
__ADS_1
~Bersambung~