
"Baiklah! Kami akan membawa kepala keluarga Sun Cheng untuk di adili di balai kota Lu." Ucap Gongshu Ban.
"Berhenti! Jangan menghukum suamiKu! Dia tidak bersalah." Ucap istri Sun Cheng.
"Nyonya Sun! Semua bukti sudah menjelaskan bahwa tuan Sun Cheng memang adalah otak penculikan gadis - gadis di kota ini." Ucap Gongshu Ban.
"Tuan Gongshu Ban! Kalian berdua sudah berteman sejak lama, mengapa kamu melakukan suamiKu seperti ini!?."
"Nyonya Sun! Jika suami Mu tidak melakukan kesalahan, bagaimana mungkin aku melakukan hal seperti ini terhadap suamiMu!?."
"Baiklah! Kami pergi dulu, untuk urusan di dalam keluarga Sun, aku serahkan kepada para tetua keluarga Sun untuk menyelesaikannya." Lanjut Gongshu Ban sambil berjalan dan di ikuti oleh semua pasukan yang dibawahnya dan juga membawa Sun Cheng untuk di adili.
Ma Guang dan juga tetua Sim Lan serta Xia Jiao juga langsung mengikuti penguasa kota dari belakang.
Setelah tiba di istana kota Lu, Sun Cheng langsung di jebloskan kedalam penjara oleh prajurit yang membawanya sambil menunggu waktu untuk diadili.
Sedangkan Ma Guang, Xia Jiao serta tetua Sim Lan duduk berhadapan dengan jenderal serta para komandan pasukan.
Sedangkan Gongshu Ban duduk di kursi kebesarannya.
"Pendekar Ma! Karena kamu telah memecahkan masalah yang ada di kota kami ini, anda berhak mendapatkan 5000 keping koin emas." Ucap Gongshu Ban.
"Sedangkan untuk perwakilan dari sekte Bunga Persik. Kami akan memberikan kalian 2500 keping koin emas." Ucap Gongshu Ban lagi.
"Untuk tuan Yuan Gao, ini aku serahkan biaya pengobatannya beserta kompensasi untuknya." Ucap Gongshu Ban sambil memberikan 100 keping emas kepada Ma Guang.
"Terima kasih tuan Gongshu Ban!." Ucap mereka secara serentak.
"Kalau begitu, kami pamit undur diri." Ucap Ma Guang.
Ma Guang langsung berdiri dari tempat duduk sambil menangkupkan tangannya menghadap penguasa kota dan juga orang - orang yang berada di dalam ruangan aula tersebut.
Hal itu di ikuti juga oleh tetua Sim Lan dan Xia Jiao.
"Pendekar Ma! Tetua Sim Lan! Bagaimana dengan hadiahnya?." Tanya Gongshu Ban.
"Tuan Gongshu! Hadiahnya nanti kami ambil saat kami akan kembali ke sekte kami masing - masing." Ucap Ma Guang.
"Tuan Gongshu! Jika anda berkenan, bisakah hadiah untuk sekte kami di antarkan oleh orang - orang tuan Gongshu!?." Ucap tetua Sim Lan.
"Kenapa bisa seperti itu?." Tanya Gongshu Ban.
"Kami berdua belum bisa kembali ke sekte kami, karena masih ada hal yang akan kami lakukan." Jawab tetua Sim Lan.
"Baiklah kalau begitu! Akan tetapi biaya untuk mengantar hadiahnya akan di ambil dari bagian hadiah yang kalian dapatkan. Bagaimana?." Ucap Gongshu Ban.
"Baiklah! Sesuai dengan apa yang tuan Gongshu pikirkan saja." Jawab Sim Lan.
"Kalau begitu, kami pamit undur diri dulu." Ucap ketiga orang tersebut.
Mereka bertiga langsung melangkahkan kakinya untuk meninggalkan aula istana kota Lu.
Beberapa saat kemudian akhirnya mereka bertiga sudah tiba di depan pintu penginapan.
__ADS_1
Mereka langsung bergegas masuk ke dalam penginapan untuk melihat kondisi dari Yuan Gao.
Setelah tiba di depat pintu kamar Yuan Gao, Ma Guang langsung mengetuk pintu kamar tersebut.
Yuan Jiali langsung membuka pintu kamar tersebut.
"Pendekar Ma!." Ucap Yuan Jiali.
"Nona Yuan! Bagaimana keadaan ayah Mu?." Tanya Ma Guang.
Tetua Sim Lan hanya diam dan tidak berkata - kata, namun terlihat raut wajahnya begitu khawatir dengan keadaan dari Yuan Gao.
"Keadaan Ayah sudah lebih baik saat ini. Pendekar Ma, Tetua Sim Lan dan juga nona Xia! Ayo, mari masuk dulu." Ucap Yuan Jiali.
Akhirnya ketiga orang itu pun memasuki kamar tersebut.
Sesampainya di dalam kamar, ketiga orang tersebut menatap ke arah tubuh Yuan Gao yang sedang terbaring di tempat tidur.
Tetua Sim Lan tidak bisa menahan perasaannya saat melihat keadaan Yuan Gao.
"Gao gege! Bagaimana keadaanMu? Apakah kamu baik - baik saja?." Tanya Sim Lan sambil berlutut di dekat tempat tidur Yuan Gao seraya memegang tangan pria tersebut.
Air mata mulai membasahi pipi wanita tersebut.
"Lan'er! Jangan kamu khawatir, Aku baik - baik saja!." Ucap Yuan Gao dengan nada suara yang berat seakan sangat di paksakan untuk bersuara.
"Gege! Jangan dulu terlalu banyak bicara." Ucap Sim Lan.
Yuan Jiali langsung menerima pemberian dari Ma Guang.
"Nona Xia! Bisakah anda meracik obat agar bisa dengan cepat memulihkan tubuh paman Yuan?." Tanya Ma Guang.
Mendengar apa yang di katakan oleh Ma Guang, tetua Sim Lan langsung berpaling menatap kearah Xia Jiao.
"Jiao'er! Apakah kamu mengerti ilmu pengobatan?." Tanya tetua Sim Lan.
Xia Jiao menanggapinya hanya dengan menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, tolong kamu buatkan obat agar bisa cepat menyembuhkan luka serta memulihkan tenaga Yuan Gao." Ucap tetua Sim Lan memohon kepada Xia Jiao.
"Tetua jangan seperti itu, aku akan merasa sangat sedih jika tetua melakukan hal itu lagi." Ucap Xia Jiao.
Akhirnya pagi sudah menjelang, Ma Guang dan juga Xia Jiao langsung beranjak dari penginapan untuk menuju ke arah toko yang menjual sumber daya serta tanaman herbal.
Setelah tiba di sebuah toko yang pernah Ma Guang masuki, mereka berdua lalu mulai memilih tanaman - tanaman herbal serta sumber daya lain yang bisa untuk membantu penyembuhan serta pemulihan tenaga dalam.
Setelah selesai, akhirnya mereka berdua membayar semuanya itu, tidak lupa juga Xia Jiao memilih bahan - bahan untuk dirinya agar bisa menerobos menjadi pendekar suci.
Hal yang sama juga di lakukan oleh Ma Guang, pemuda itu kini sudah siap untuk membuka gerbang pertama pendekar Suci, yaitu gerbang pembuka.
Di sekte Bambu Kuning.
Booommm
__ADS_1
Bunyi ledakan yang sumbernya berasal dari wilayah terlarang sekte Bambu Kuning.
"Siapa leluhur yang sudah menerobos menjadi Pendekar Suci?."
"Ada leluhur yang sudah menerobos menjadi pendekar suci."
Kata - kata yang keluar dari setiap mulut anggota sekte Bambu Kuning.
Fenomena tersebut sudah bisa di prediksi oleh setiap anggota sekte Bambu Kuning dari pendekar tahap awal sampai pendekar tingkat tinggi.
Setiap anggota di sekte itu, sangat mengharapkan agar sekte mereka sudah bisa memiliki seorang yang sudah mencapai pendekar suci.
Hal itu di karenakan, agar sekte mereka lebih di segani serta akan masuk pada jajaran sekte besar.
Sedangkan Patriak sendiri, sangat senang dengan kejadian itu, karena dirinya akan memiliki kesempatan untuk menerobos juga menjadi pendekar suci.
Beberapa hari kemudian, saat leluhur Guang Zhi sudah selesai membentuk pondasi dari tingkatannya saat itu. Pria paru baya itu pun langsung keluar dari tempat meditasinya.
Setiap tetua serta anggota di sekte itu, langsung memberikan hormat serta ucapan selamat kepada leluhur Guang Zhi.
Setelah euforia itu sudah kembali tenang, akhirnya leluhur Guang Zhi bertanya kepada Patriak.
"Apakah Guang'er sudah kembali?."
"Belum leluhur! Ada hal apa sehingga leluhur mencari Ma Guang?." Ucap Patriak.
"Sekte kita akan menjadi yang terkuat di wilayah kekaisaran ini, dan itu di sebabkan karena anak itu." Ucap leluhur.
"Akan ada beberapa pendekar kita yang bisa menerobos untuk menjadi seorang pendekar suci." Ucap leluhur lagi.
"Itu adalah berita yang sangat bagus untuk sekte kita." Ucap Patriak.
"Iya! Tetapi semua itu akan terjadi, jika Ma Guang berkenan untuk membantunya. Aku bisa menerobos untuk menjadi pendekar suci ini di karenakan arahan yang telah dia berikan kepadaKu." Ucap leluhur menjelaskannya.
Beberapa tetua tingkat tinggi serta patriak sendiri tersentak kaget mendengar hal itu.
"Bagaimana mungkin?." Tanya Patriak.
"Semua itu mungkin saja! Dan kemungkinan juga Ma Guang saat ini sudah menjadi pendekar suci." Ucap leluhur lagi.
"Apa? Mengapa bisa seperti itu?." Tanya Patriak lebih penasaran.
"Bisa! Karena disaat dia mengambil misi tersebut, anak itu sudah menjadi pendekar raja tahap akhir yang sudah siap untuk menerobos menjadi pendekar suci."
Leluhur kembali menjelaskan hal - hal yang dirinya dan Ma Guang lalui.
Semua orang yang berada di aula twrsebut langsung terdiam karena memikirkan perkataan yang baru saja mereka dengar dari leluhur Guang Zhi.
"Patriak Yao! Di saat anak itu kembali, kamu harusnya memanggil dirinya serta meminta petunjuk padanya agar diri Mu sudah bisa untuk menerobos menjadi pendekar suci." Ucap Leluhur.
"Baik leluhur." Jawab patriak sambil memberi hormat.
~Bersambung~
__ADS_1