Pendekar Pemburu Yang Diburu

Pendekar Pemburu Yang Diburu
Bab 36. Penempaan Tulang


__ADS_3

Ma Guang sedang bermeditasi di dalam kamarnya.


Tidak ada yang bisa untuk mengganggunya.


Jenius muda itu sedang melakukan penempaan tulangnya untuk bisa menembus menjadi pendekar raja tahap awal, hal itu di lakukannya karena kwalitas tulangnya sudah berada di tulang pendekar tingkat tinggi.


Untuk mencapai menjadi tulang naga, dia membutuhkan sumberdaya yang sangat langkah untuk bisa di temui, yaitu sebuah batu mustika dari hewan buas yang sudah berusia 100 tahun atau lebih.


Namun kebanyakan hewan buas yang biasa di temukan walau pun sudah berusia 100 tahun, tidak memiliki mustika yang di maksudkan, karena hal itu tidak bisa di temukan pada setiap hewan yang bukanlah raja atau ratu dari jenis hewan tersebut. Sehingga hal itu sangat sulit untuk di temukan.


Akhirnya Ma Guang sudah selesai melakukan penempaan tulang dengan teknik yang terdapat di kitab pemberian gurunya.


Setiap menyelesaikan tahapan dalam kitab tersebut, Ma Guang langsung mengambil bagian tersebut dan membakarnya, hal itu di lakukannya agar jika di temukan oleh orang lain, mereka tidak bisa menggunakan kitab tersebut.


Tok...tok...tok...tok...tok


" Guang'er...Guang'er...Guang'er."


Duan Jun mengetuk pintu kamar dari Ma Guang sambil memanggil nama jenius muda itu. Namun tidak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar tersebut.


Hal itu tidak seperti biasanya.


Seperti biasanya, Ma Guang sudah siap pagi - pagi benar, tetapi saat ini remaja itu belum juga muncul untuk sarapan bersama.


Akhirnya Duan Jun mendatangi kamarnya, namun tidak ada balasan dari apa yang Duan Jun lakukan.


Duan Jun kemudian mendorong dengan kuat pintu kamar milik Ma Guang.


Dan hal yang dia temukan, bahwa tubuh pendekar muda itu sedang terkulai seperti tidak bertenaga di tempat tidurnya.


Duan Jun langsung mendekati remaja tersebut dan mengecek aliran darahnya.


Setelah selesai memeriksa kondisi Ma Guang, Duan Jun langsung berlari keluar dari kamar tersebut dan pergi menemui Patriak serta tetua Ying.


" Patriak! tetua Ying! Cepat lihat kondisi dari Guang'er, sepertinya sedang terjadi sesuatu dengan dirinya." Ucap Duan Jun dengan raut wajah yang sangat khawatir.


Melihat tingkah laku serta mendengar kata - kata yang di ucapkan oleh Duan Jun, kedua pria paruh baya tersebut langsung bergerak cepat melesat kearah kamar Ma Guang.


Setibanya di kamar Ma Guang, mereka berdua langsung mendekati tubuh remaja itu sambil memeriksa kondisi tubuhnya.


Mata Patriak langsung terbelalak setelah mengetahui kondisi tubuh dari Ma Guang.


" Apa? Anak ini sudah menerobos menjadi pendekar raja? Bagaimana bisa?." Gumam Patriak dalam hatinya.


Tetua Ying Zhao juga melakukan hal yang sama setelah melihat reaksi yang di tunjukkan oleh Patriak.

__ADS_1


Hal yang sama juga yang nampak di wajah dari tetua Ying Zhaou, dirinya juga seakan tidak percaya dengan apa yang telah di ketahuinya saat mengecek kondisi tubuh dari Ma Guang.


" Bagaimana dia bisa secepat ini mencapai ke tingkat pendekar raja?." Ucap tetua Ying Zhao yang tanpa di sadari suaranya dapat di dengar oleh Duan Jun.


" Apa? Pendekar Raja? Bagaimana bisa?." Ucap Duan Jun.


" Sssssstttt." Jangan keras - keras suaranya, nanti bisa di dengar oleh orang lain, bisa terbongkar rahasia ini dan kita harus siap - siap untuk di buruh oleh sekte aliran hitam atau pun oleh orang - orang yang tidak menginginkan sekte kita menjadi sekte yang besar." Ucap Patriak kepada kedua orang tersebut.


Akhirnya Patriak langsung memberikan sebuah pil ke mulut Ma Guang dan langsung mentransfer tenaga dalamnya ke tubuh remaja itu untuk mempercepat proses pemulihannya.


Bunyi seperti retakan kayu kering yang berasal dari dalam tubuh Ma Guang membuat pikiran Duan Jun menjadi gelisah dan perasaannya menjadi takut dengan apa yang akan menimpah diri Ma Guang.


Setelah satu jam kemudian, akhirnya Ma Guang langsung siuman serta membukakan matanya.


Patriak pun menghentikan aktivitas yang dia lakukan.


Ma Guang pun langsung kembali memejamkan matanya dan berkonsentrasi untuk mengatur energi tenaga dalam yang berada di dalam seluruh tubuhnya dan mengumpulkannya kedalam dantian.


Setelah melakukan hal itu, akhirnya Ma Guang langsung pergi untuk membersihkan dirinya serta mengganti pakaiannya.


Mereka langsung melangkah pergi untuk menuju ke arena kompetisi dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh, hal itu di karenakan waktu pertarungan final antara Ma Guang dan Bing Bihai sudah lewat beberapa menit, sehingga Jenderal memerintahkan prajurit untuk menyusul ke kediaman sekte Bambu Kuning.


Saat prajurit itu baru mau tiba di kediaman tersebut, dirinya melihat ke empat bayangan dari kediaman tersebut melesat ke arah arena kompetisi, sehingga prajurit itu langsung berbalik juga ke arena kompetisi.


Setibanya disana, Bing Bihai sudah berdiri di atas panggung arena.


" Mohon maaf atas keterlambatan hamba." Ucap Ma Guang kepada Jenderal di depannya.


" Hal apa yang membuat diri Mu sehingga datang terlambat?." Ucap sang Jenderal.


" Maaf aku tertidur." Jawab Ma Guang.


Hal itu membuat semua orang tertawa.


" Mungkin dia sengaja, karena takut untuk menghadapi gadis itu."


" Apakah dia tertidur karena terlalu kelelahan saat berlatih semalam?."


Ada begitu banyak kata - kata yang keluar dari mulut setiap orang yang mendengar perkataan dari Ma Guang.


" Menurut peraturan yang ada, kamu sudah di nyatakan Walkover karena sudah melewati batas waktu yang di tentukan." Ucap sang Jenderal.


" Baiklah...aku terima konsekuensinya." Ucap Ma Guang dengan wajah yang seperti tidak ada beban.


Akhirnya sang Jenderal lalu melesat ke arah Kaisar untuk mempertanyakan hal itu.

__ADS_1


Sang Jenderal pun kembali setelah berbicara dengan Kaisar.


" Baiklah kalau begitu, saya akan menanyakan dahulu hal ini kepada nona Bing Bihai." Ucap Jenderal.


" Nona Bing...apakah anda menginginkan pertarungan? Ataukah anda langsung menerima kemenangan WO tersebut?." Ucap sang Jenderal kepada gadis itu.


" Aku ingin kemenangan karena bertarung, bukan karena pemberian." Ucap Bing Bihai.


" Jadi aku ingin bertarung dengan salah satu super jenius yang berada di Kekaisaran Zhou ini." Ucap Bing Bihai.


Hal itu di ketahui Bing Bihai dari kakeknya yang adalah seorang Patriak.


Pria tua itu telah memberitahukan kepada cucu nya bahwa ada tiga orang super jenius di kompetisi itu, dan salah satunya sudah dia kalahkan, serta yang satunya lagi pria yang berada di depannya itu.


" Apa? Mengapa dia mengetahuinya?." Gumam Ma Guang.


" Baiklah, karena nona Bing Bihai dari sekte Es Abadi ingin bertarung dengan jenius muda dari sekte Bambu Kuning. Kita akan segera memulaikan pertarungan mereka berdua."


" Ma Guang dari sekte Bambu Kuning."


" Bing Bihai dari sekte Es Abadi."


Akhirnya sang Jenderal pun memberikan isyarat kepada mereka berdua untuk memulai pertarungan.


Ma Guang tetap tenang berdiri ditempat, sedangkan Bing Bihai yang mengambil inisiatif untuk menyerang lebih dahulu.


Gadis Es itu langsung menyerang Ma Guang dengan pisau - pisau yang terbuat dari Es.


Hal yang belum di ketahui oleh banyak orang dan juga orang - orang yang ada di sektenya, bahwa Ma Guang bisa juga melakukan perubahan jenis tenaga dalamnya dari unsur yang panas atau unsur api yang di ajarkan oleh leluhur Guang Zhi.


Selain mengajarkan teknik pedang hampa tingkat tinggi, leluhur Guang Zhi juga memberitahukan kepada Ma Guang unsur alam yang ada di dalam tubuhnya, yaitu unsur api dan unsur angin yang biasa dia gunakan, serta mengajarkan jurus tangan kosong miliknya yaitu Cakar Naga Api.


Namun karena teknik jurus tersebut Adalah teknik tingkat tinggi, sehingga Ma Guang harus mencapai pendekar Raja tingkat puncak dahulu agar bisa menggunakan jurus yang di ajarkan oleh leluhur Guang Zhi, itu pun hanya 5 jurus yang bisa di gunakannya dari 100 jurus yang ada. Sama seperti jurus Pedang Hampa tingkat tinggi yang di pelajarinya.


Ma Guang membuat perisai dari perubahan bentuk tenaga dalamnya untuk membendung setiap serangan dari gadis es di depannya.


Trang...Trang...Trang...Trang


Bunyi benturan yang di hasilkan oleh serangan dari Bing Bihai dan perisai pertahanan Ma Guang.


Seluruh pisau Es hacur saat membentur perisai pertahanan dari Ma Guang.


Bing Bihai langsung menaikkan kekuatan serangan es nya kearah Ma Guang.


Es yang berbentuk seperti sebuah tombak yang sebesar kepalan tangan melesat kearah Ma Guang.

__ADS_1


Namun pria remaja itu masih tetap tenang seperti biasanya, tidak bergerak dari tempatnya.


~Bersambung~


__ADS_2