Pendekar Pemburu Yang Diburu

Pendekar Pemburu Yang Diburu
Bab 37. Akhir Kompetisi Kekaisaran


__ADS_3

Namun tingkat pertahanan telah Ma Guang tingkatkan untuk menyambut serangan es milik Bing Bihai.


Booommmm


Bunyi ledakan yang keluar karena benturan antara serangan es yang di lancarkan oleh Bing Bihai dengan perisai pertahanan milik Ma Guang.


Ma Guang masih tetap berdiri seperti biasanya di atas panggung arena.


Sedangkan Bing Bihai langsung melakukan serangan susulan ke arah Ma Guang.


Karena tombak es yang di buatnya telah menguras banyak tenaga dalamnya, sehingga serangan susulan itu hanya seperti pisau - pisau es lagi.


Trang...trang...trang...trang...trang


Bunyi pisau - pisau es milik Bing Bihai yang hacur saat berbenturan dengan perisai pertahanan yang di miliki oleh Ma Guang.


Memang serangan Bing Bihai tidak bisa menembus serta menghancurkan perisai pertahanan dari Ma Guang, karena di sebabkan perubahan bentuk tenaga dalam unsur es dari Bing Bihai tidak terlalu padat.


Berbeda dengan perubahan bentuk tenaga dalam dengan unsur angin dari Ma Guang.


Mengingat Ma Guang sudah sangat ahli dalam mengontrol perubahan bentuk tenaga dalamnya yang juga di dukung oleh tenaga dalam yang jauh lebih besar dari milik Bing Bihai, sehingga perisai pertahanan dari Ma Guang dengan mudah membendung serangan dari Bing Bihai.


Setelah tubuh gadis itu sudah berada tidak jauh dari Ma Guang, gadis itu kembali melancarkan serangannya dengan membentuk sebuah pedang yang terbuat dari es di tangannya serta langsung menusuk ketubuh Ma Guang dengan dorongan tingkat puncak milik gadis tersebut.


Melihat apa yang di lakukan oleh gadis itu akan menyebabkan kerugian yang besar pada dirinya.


Ma Guang langsung bergerak ke samping untuk menghindari serangan itu.


Setelah serangan Bing Bihai hanya melewati samping tubuh dari Ma Guang, gadis itu langsung melanjutkan serangannya dengan tebasan pedang es nya secara horisontal dan vertikal dengan kecepatan puncaknya.


Namun saat pedang es gadis itu sudah dekat dengan tubuh dari Ma Guang, sebuah benturan pun terjadi dan membuat pedang es milik gadis itu pun hancur karena membentur perisai pertahanan milik Ma Guang.


Gadis itu kini sudah berdiri dengan tatapan dingin menatap Ma Guang.


Dengan cepat es langsung menyelimuti tubuh dari Ma Guang.


Dan hal itu adalah langkah terakhir dari Bing Bihai untuk melumpuhkan lawannya, karena tenaga dalam gadis itu sudah terkuras banyak.


Bing Bihai ingin menyelesaikan secepatnya pertarungan itu, walau pun Ma Guang belum mengeluarkan serangan satu kali pun.


Bing Bihai kembali menciptakan tombak besar yang lebeh besar dari sebelumnya dan meluncurkannya kearah tubuh Ma Guang yang sudah di selimuti oleh es.


Booommm


Ledakan terjadi akibat serangan yang di lancarkan oleh Bing Bihai.


Kabut putih menyebar di atas panggung arena, itu di sebabkan karena ledakan yang baru saja terjadi.

__ADS_1


Mata seluruh orang yang menyaksikannya, tidak pernah lepas dari situasi yang terjadi di atas panggung.


Seakan menantikan hal apa yang telah terjadi yang di hasilkan dari serangan bertubi - tubi gadis tersebut.


Setelah kabut putih seperti embun yang dingin itu sudah mulai menghilang.


Terlihat satu sosok masih tetap berdiri dengan kokoh di tempatnya.


Sedangkan untuk sosok yang satunya lagi, kini sudah tersungkur dengan keadaan tubuh yang terlihat sangat lemah dengan nafas yang memburuh.


Ma Guang langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah Bing Bihai yang saat ini sudah tersungkur karena kehabisan tenaganya.


Setelah sudah dekat dengan tubuh gadis itu, Ma Guang bertanya kepada Bing Bihai.


" Nona Bing! Apakah pertarungan ini masih ingin di lanjutkan?."


Mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh Ma Guang.


Gadis itu hanya bisa menggeleng serta langsung menangkupkan tangannya memberi hormat kepada Ma Guang.


Melihat apa yang terjadi dalam waktu yang tergolong singkat itu, di dalam pikiran setiap ketua serta tetua sekte yang hadir, muncul pertanyaan - pertanyaan yang sulit untuk mereka jawab sendiri.


Hal itu di sebabkan, karena Bing Bihai sudah mengeluarkan seluruh kemampuannya sebagai seorang pendekar ahli yang kuat dan bisa mengalahkan setiap pendekar ahli yang tingkatannya lebih di atas darinya.


Namun hal itu tidak berlaku untuk Ma Guang.


Namun sudah membuat seluruh kekuatan gadis itu terkuras habis, karena menyerang dirinya dan tidak mampu untuk menghancurkan pertahanan milik lawannya.


" Apakah jenius muda dari sekte Bambu Kuning ini sudah menjadi pendekar raja?."


" Sebenarnya sampai sejauh mana kekuatan jenius muda ini?."


" Anak itu sangat istimewa, karena lebih jenius dari yang jenius."


" Seorang pendekar raja pun, tidak akan mudah untuk membendung serangan itu."


" Pencapaian Anak itu sangat mengerikan."


Kata - kata yang keluar dari setiap orang yang menyaksikan pertarungan itu.


Akhirnya Jenderal yang memimpin kompetisi itu langsung mengumumkan pemenang dari pertarungan tersebut, dan Ma Guang lah yang menjadi pemenangnya.


Dengan berakhirnya pertarungan antara Ma Guang dan Bing Bihai, maka berakhir pula kompetisi yang di adakan di Kekaisaran Zhou.


Akhirnya acara penganugerahan serta penyerahan hadiah di lalukan oleh Kaisar Zhou Muwang.


2 orang yang menjadi Juara 3, yaitu Xia Jiao dan juga Zheng Biao.

__ADS_1


Mereka berdua sama - sama di berikan pedang pendekar tingkat menengah, 500 koin emas, 3 buah pil untuk menaikan tenaga dalam serta sebuah kitab ilmu beladiri tingkat tinggi.


Juara ke dua adalah Bing Bihai, mendapatkan pedang pendekar tingkat menengah, 750 koin emas, 5 buah pil untuk meningkatkan tenaga dalam serta kitab ilmu bela diri tingkat tinggi.


Sedangkan untuk juara satu, yaitu Ma Guang, mendapatkan pedang pendekar tingkat tinggi, 1000 koin emas, 10 buah pil untuk menaikan tenaga dalam serta kitab ilmu pedang tingkat tinggi.


Setelah selesai acara penganugerahan serta penutupan, seluruh undangan di sajikan dengan suatu pesta yang sangat meriah yang di sediakan oleh pihak kekaisaran.


Di satu meja yang besar, duduk Kaisar, Permaisyuri, Putra Mahkota serta Putri Kaisar satu - satunya dan juga keempat jenius yang menjadi pilar muda Kekaisaran, dan tidak ketinggalan juga ke - 6 ketua - ketua sekte besar, yaitu 4 sekte aliran putih dan 2 sekte netral, dan ada juga salah satu dari ketua sekte menengah yang tidak lain adalah Patriak Yao Han dari sekte Bambu Kuning.


Mereka menikmati bersama hidangan yang berada di depan mereka.


Ma Guang sendiri tidak terbiasa dengan keadaan seperti itu.


Dirinya memperhatikan setiap cara makan yang di lakukan oleh keluarga Kaisar.


Setelah sudah mengerti dengan cara makan yang di lakukan oleh keluarga Kaisar, Ma Guang pun langsung mempraktekkannya.


Setelah Kaisar mengambil cawan yang berisikan arak terbaik serta mengangkatnya yang di ikuti juga oleh para Ketua sekte yang ada, Ma Guang juga meraih cawan yang ada di depannya serta mengikuti setiap gerakan mereka.


Akhirnya Ma Guang meneguk arak di dalam cawan yang berada di tangannya seperti yang di lakukan oleh orang lain.


" Aduh...minuman apa ini? Kenapa rasanya tidak enak?." Gumam Ma Guang di dalam hatinya.


Perjamuan makan itu berlanjut dengan bincang - bincang hangat di antara yang duduk di satu meja tersebut.


Namun yang selalu menjadi topik pembicaraan adalah kemampuan yang Ma Guang miliki, sehingga membuat jenius muda itu serta Patriak Yao Han sangat kerepotan untuk melayani setiap pertanyaan - pertanyaan yang di lontarkan oleh Kaisar serta ketua - ketua sekte yang ada.


Tidak terkecuali dengan perhatian dari putri Kaisar.


Gadis itu tidak pernah melepaskan tatapannya dari Ma Guang.


Memang ketampanan wajah Ma Guang hanya biasa - biasa saja, namun sifat serta tingkah lakunya saat berada di atas panggung kompetisi, yang selalu membantu lawannya saat sudah terluka, sangat menarik perhatian serta membuat putri Kaisar sangat ingin untuk lebih mengenal pendekar jenius muda tersebut.


Gadis itu membisikan sesuatu kepada ayahnya.


Kaisar yang mendengar apa yang di sampaikan oleh putrinya itu langsung terdiam dan berpikir sejenak.


Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya Kaisar pun tersenyum menatap putrinya sambil menganggukan kepala.


Setelah beberapa saat kemudian, Kaisar beserta dengan ketiga orang lainnya meninggalkan perjamuan itu.


Tidak lama kemudian, seorang pelayan mengantarkan sebuah surat untuk Patriak Yao Han.


Patriak Yao Han langsung membuka dan membaca isi surat tersebut. Dan tidak lama kemudian Patriak Yao Han langsung mengajak Ma Guang untuk pamit undur diri.


Setelah berjalan keluar dari aula tempat pesta tersebut di adakan, akhirnya seorang prajurit langsung menyambut kedua orang tersebut dan mengantarkannya untuk menuju ke suatu tempat.

__ADS_1


~Bersambung~


__ADS_2