
Setelah tidak mendapatkan informasi yang penting dari beberapa anggota sekte tersebut. Akhirnya tetua Sim Lan langsung menghabisi semua anggota kelompok dari sekte Seribu Racun yang ada di depannya.
Orang - orang yang berada di kedai tersebut langsung membersihkan mayat dari para anggota sekte Seribu Racun yang tergeletak di lantai kedai tersebut.
"Tuan! Nona! Untuk biaya makanan dan minumannya tidak perlu dibayar!." Ucap pria tua pemilik kedai tersebut.
"Kenapa harus seperti itu? Tidak! Kami akan tetap membayarnya!." Ucap Xia Jiao dengan penuh ketegasan.
"Nona! Dengan mengusir mereka dari desa kami ini, itu sudah sangat membantu kami sebagai penduduk desa ini." Ucap pria tua itu lagi.
Untuk beberapa anggota yang telah melihat kematian wakil ketua dan juga ketua kelompok mereka yang berada di desa tersebut, langsung melarikan diri dan berencana untuk melaporkan kepada pimpinan mereka yang lebih tinggi lagi.
Sedangkan untuk sebagian anggota yang tidak menyadari hal itu, semuanya di musnahkan oleh kelompok Ma Guang.
Karena hari sudah mulai gelap, akhirnya kelima orang itu menginap di penginapan yang ada di desa itu, sambil di layani oleh warga masyarakat yang berada di desa tersebut.
Setelah keesokan harinya, akhirnya rombongan kelompok Ma Guang langsung berpamitan dan meninggalkan desa itu dengan menggunakan seekor kuda dan juga sebuah kereta kuda yang di berikan oleh penduduk desa.
Ma Guang menunggangi kuda, sedangkan Yuan Gao menjadi kusir kereta kuda yang di dalamnya ketiga wanita itu berada.
Perjalanan mereka masih menuju kearah barat sambil mengikuti jalan umum yang berada tidak terlalu jauh dari sungai besar di sebelah kiri mereka.
Setelah melakukan perjalanan selama beberapa jam. Akhirnya mereka juga mulai mendapati sebuah desa yang lebih besar dari desa sebelumnya.
Namun yang berbeda dengan desa yang baru mereka jumpai ini, di depan pintu masuk desa tersebut terlihat berdiri beberapa prajurit yang menggunakan baju sirah dari kerajaan Qi.
Setelah tiba di pintu masuk desa, seorang prajurit langsung menghentikan Ma Guang dan juga kereta kuda yang dibawah oleh Yuan Gao.
"Maaf tuan - tuan karena sudah mengganggu perjalanan kalian, tetapi seperti biasa, kami selalu melakukan pemeriksaan kepada siapa pun yang hendak memasuki desa ini." Ucap prajurit tersebut.
"Baiklah! Silakan tuan periksa saja." Ucap Ma Guang.
"Tuan - tuan berasal dari mana dan hendak pergi kemana?." Tanya prajurit itu.
Ma Guang langsung menunjukkan lencana Sekte Bambu Kuning.
"NamaKu adalah Ma Guang dari sekte Bambu Kuning." Ucap Ma Guang.
"Apa! Ma Guang!? Apakah orang ini yang selalu menjadi bahan pembicaraan orang - orang dunia persilatan saat ini?." Gumam prajurit tersebut.
"Baiklah kalau begitu! Silahkan tuan muda melanjutkan perjalanannya." Ucap prajurit itu lagi.
__ADS_1
"Kenapa tidak melakukan pemeriksaan?." Tanya Ma Guang.
"Tidak perlu tuan muda, sebab tanda pengenal dari sekte Bambu Kuning sudah cukup membuat Ku percayah dari mana tuan muda berasal." Ucap prajurit itu lagi.
Mendengar apa yang di katakan oleh prajurit tersebut, akhirnya Ma Guang melanjutkan perjalanan mereka dan memasuki wilayah desa tersebut.
Setelah berjalan masuk beberapa saat, Xia Jiao sudah bisa mengenali sebuah penginapan yang berada di tengah - tengah desa tersebut.
"Ma Guang! Ini penginapan yang aku singgahi dahulu." Ucap Xia Jiao.
"Apakah nona Xia merasa yakin?." Tanya Ma Guang.
"Iya! Aku sangat yakin." Ucap Xia Jiao.
"Kalau begitu, berarti nona Xia sudah mengingat jalan untuk kembali ke desa tempat kita diserang dahulu!?." Tanya Ma Guang.
"Iya! Aku sudah mengingat jalannya sekarang." Ucap Xia Jiao.
Akhirnya mereka melanjutkan kembali perjalanan mereka, setelah mendapati pertigaan jalan yang salah satunya mengarah kearah utara. Xia Jiao langsung bersuara untuk mengarahkan mereka mengambil jalan yang menuju kearah utara.
Ma Guang dan juga Yuan Gao langsung mengikuti perintah Xia Jiao.
Desa itu terlihat ada begitu banyak prajurit yang sedang berjaga untuk melindunginya. Hal itu disebabkan karena, desa itu adalah jalur utama dari kerajaan Qi untuk menuju ke wilayah kerajaan Zhao atau pun kerajaan Yan jika melalui dari darat.
Pemandangan itu terasa aneh, sebab yang mengawal kereta kuda tersebut hanyalah seorang pemuda.
Dan untuk situasi yang tidak menentu karena telah terjadi pergolakan di berbagai daerah wilayah kerajaan di kekaisaran Zhou sehingga menjadi hal yang tidak mungkin, ada kereta kuda yang hanya di kawal oleh seorang pendekar saja dan bisa dengan tenang melakukan perjalanan.
Seorang komandan yang melihat juga hal itu, langsung mendekati Ma Guang dengan kuda yang di tungganginya.
"Salam kepada pendekar muda!." Ucap komandan tersebut saat sudah berada di dekat Ma Guang.
"Salam juga untuk tuan komandan!." Balas Ma Guang sambil menangkupkan tangannya karena bisa mengenal baju sirah yang di gunakan oleh pria di depannya.
"Jika aku boleh tahu, aku sedang berbicara dengan siapa dan berasal dari sekte mana!?." Tanya sang komandan.
"Nama saya Ma Guang dan saya berasal dari sekte Bambu Kuning!." Ucap Ma Guang sambil menunujkan tanda pengenal dari sektenya.
"Apa!? Ma Guang!? Ternyata pemuda ini adalah orang yang selalu menjadi bahan perbincangan dunia persilatan! Patasen mereka terlalu santai menikmati perjalanan mereka." Gumam komandan tersebut di dalam hatinya.
"Ternyata pendekar muda adalah pendekar Ma yang sangat menggemparkan dunia persilatan itu! Perkenalkan Aku komandan pasukan seratus Xin Jung!." Ucap pria itu sambil menangkupkan tangannya.
__ADS_1
Ma Guang langsung menanggapi juga dengan menangkupkan tangannya.
"Kemana tujuan pendekar Ma saat ini?." Tanya komandan.
"Aku ingin berkunjung kepada guruKu yang tinggal di wilayah utara kerajaan kita ini." Ucap Ma Guang.
"Oh, seperti itu yah!?." Ucap sang komandan sambil memikirkan sekte apa yang berada di utara kerajaan mereka.
Setelah lama berpikir, akhirnya komandan itu tidak bisa menemukan jika ada sebuah sekte di wilayah utara dari tempat itu.
"GuruKu adalah seorang pendekar bebas, sehingga tidak memiliki sekte." Ucap Ma Guang mencairkan situasi yang canggung tersebut.
Akhirnya komandan itu pun mengerti tentang situasi itu.
Setelah tiba di pintu desa tersebut, akhirnya komandan itu berhenti dan membiarkan Ma Guang dan juga sebuah kereta kuda melanjutkan perjalanan mereka.
"Semoga sampai di tempat tujuan dengan selamat, dan kiranya pendekar Ma untuk selalu berhati - hati saat di tengah perjalanan nanti." Ucap sang komandan.
Mendengar apa yang di katakan oleh komandan Xin Jung, Ma Guang hanya tersenyum dan menangkupkan tangannya.
Xia Jiao langsung membuka tirai penutup kereta kuda tersebut. Gadis itu mulai melihat suasana daerah yang pernah dia lalui sebelumnya.
Setelah beberapa jam kemudian, mereka akhirnya menjumpai sebuah desa lagi, dan didesa ini persis juga seperti desa sebelumnya, yaitu terlihat ada beberapa prajurit yang sedang berjaga di pintu masuk desa tersebut.
Mereka pun mendapatkan pemeriksaan, namun hal yang sama juga terjadi di saat Ma Guang memberitahukan namanya dan juga menunjukan tanda pengenal dari sektenya.
Akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka, hingga mereka tiba di sebuah penginapan yang sudah di kenal oleh Ma Guang.
Pemuda itu langsung menghentikan kudanya dan segera turun serta langsung menambatkan kudanya ketempat yang sudah di sediakan.
Yuan Gao juga menghentikan kereta kudanya.
Ma Guang langsung mengajak mereka bertiga untuk turun dan juga menyuruh Yuan Gao untuk memberikan kereta kuda tersebut kepada salah seorang di tempat itu yang di khususkan untuk mengurus setiap kuda pengunjung di tempat itu.
Mereka berlima langsung memasuki penginapan tersebut yang juga menyiapkan makanan serta minuman bagi pengunjung di tempat itu.
Tatapan mata Ma Guang langsung tertuju kearah meja kasir dan langsung melihat wajah kasir tersebut.
Ma Guang langsung mengingat wajah pria tersebut.
"Oh, rupanya orang tua ini masih berada di tempat ini juga yah!?." Gumam Ma Guang.
__ADS_1
"Nona Xia, tetua Sim Lan, paman Yuan Gao dan juga nona Yuan. Kalian semua harus berhati - hati, sebab kasir yang dahulu pernah menjebak kami di penginapan ini adalah pria tua yang berada di meja kasir saat ini." Ucap Ma Guang sambil berbisik.
~Bersambung~