
Karena merasa bahwa dirinya terancam oleh perubahan sikap sosok yang berkomunikasi dengannya, prajurit itu pun segera berkata.
"Jangan pernah berpikir untuk melakukan hal yang bisa merugikan bagi kalian semua".
"Sebab, jika kalian beranggapan bahwa hal itu bisa kalian lakukan tanpa sepengetahuan atasanKu, pemikiran itu sangat keliru".
"Sebab jika aku tidak melaporkan kepada atasanKu apa yang sedang kalian lakukan saat ini, mereka pasti akan mencurigai hal itu".
"Dan jika atasanKu merasa ada kejanggalan, pasti dia akan melakukan suatu tindakan yang bisa merugikan kalian". Tutur sang prajurit untuk mengingatkan pasukan Api Angin.
"Terus, apa peduli kami dengan hal itu?".
"Apakah menurut penglihatanMu, kami akan merasa takut dengan siapa pun yang ada di kota ini?".
"Kami sudah bersikap seperti ini, akan tetapi bukan berarti kalian bisa seenaknya menunjukkan rasa tidak percaya sehingga melakukan pengawasan kepada kami".
"TindakanMu ini secara langsung tentunya telah menyinggung kami". Tanggapan yang di berikan oleh sang pemimpin.
"Jadi menurutMu, apakah perkataan yang baru saja kamu ucapkan itu bisa menakuti kami untuk melakukan tindakan yang berlebihan kepadaMu?". Tutup sang pemimpin menjelaskan yang diakhiri dengan suatu pertanyaan.
"Sepertinya kamu menganggap kekuatan kota kami ini bisa dengan mudahnya kalian taklukkan?".
"MenurutKu kalian ini sangat naif sehingga berpikir seperti itu".
"Apakah dengan tingkat kultivasiMu sebagai seorang pendekar dewa bumi itu bisa seenaknya untuk bertingkah di kota kami ini?".
"TingkahMu itu membuat diriKu merasa geli untuk memikirkannya". Tutup sang prajurit yang pada akhirnya mulai menyatakan tingkat kultivasinya.
Setelah melihat tingkat kultivasi yang dimiliki oleh prajurit itu sudah berada di tingkat pendekar dewa, sang pemimpin pun segera mengurungkan niatnya untuk bertindak gegabah.
"Sialan, aku hampir saja melakukan kesalahan untuk menyerang prajurit itu".
"Ternyata tingkat kultivasinya telah di tekan agar kami tidak bisa melihatnya".
"Sepertinya wilayah kerajaan Tamra ini memiliki para pendekar yang tidak bisa dipandang sebelah mata".
"Seorang prajurit saja memiliki kultivasi seperti itu, apa lagi atasan atau komandannya, pasti memiliki kultivasi yang lebih tinggi dari parajurit ini". Pikir sang pemimpin dengan sikapnya yang telah berubah seratus delapan puluh derajat.
"Ternyata tuan memiliki kultivasi sebagai seorang Pendekar Dewa Bumi juga".
"Aku tidak menyangka jika di kota ini seorang prajurit saja memiliki tingkat kultivasi seperti itu".
"Baiklah, saat ini aku akan jujur saja kepada tuan, tentang maksud kedatangan kami di kota ini".
"Sebenarnya kami memang akan menuju ke wilayah kekaisaran Gokenin, akan tetapi, disaat kami melihat ada daratan, kami pun segera mampir kesini dengan maksud agar bisa bertemu beberapa pendekar Dewa tingkat tinggi di pulau ini untuk kami tawarkan pekerjaan".
"Menawarkan pekerjaan? Pekerjaan seperti apa itu?". Tanya prajurit penasaran.
"Mohon maaf tuan! Karena tuan sudah memiliki pekerjaan, sepertinya hal tersebut tidak lagi penting untuk tuan". Tutur sang pemimpin.
__ADS_1
"Sepertinya tuan pendekar belum terbiasa melakukan pekerjaan yang diemban saat ini". Prajurit menanggapi.
"Apa yang tuan maksudkan?". Tanya sang pemimpin penasaran.
"Maksud saya, jika tuan telah terbiasa dengan tugas yang tuan jalankan ini, sudah barang tentu tuan akan mendekati seorang pendekar juga untuk mendapatkan petunjuk agar bisa mendapatkan apa yang tuan inginkan". Prajurit menjelaskan.
"Ternyata tuan memiliki wawasan yang luas...maafkan aku yang telah menilai terlalu rendah terhadap tuan". Tutur sang pemimpin sambil menangkupkan tangannya.
"Ha...ha...ha...ha...ha...tuan tidak perlu begitu sungkan seperti itu kepadaKu, sebab aku ini hanyalah seorang prajurit rendahan, sehingga tidak pantas untuk menerimanya". Balas prajurit menanggapi sikap dan perkataan dari pemimpin kelompok pasukan Api Angin.
"Terima kasih atas kemurahan hati tuan".
"Apakah tuan bisa membantu kami untuk bertemu dengan para pendekar bebas yang ada di wilayah kerajaan ini?". Tutup pemimpin itu sambil meminta bantuan dari sang prajurit.
"Sebelumnya saya minta maaf tuan! Bukannya aku tidak bisa membantu kalian, akan tetapi aku hanya bisa membantu kalian hanya untuk di kota ini saja".
"Jika sudah berada di luar kota ini, aku sudah tidak bisa membantu kalian lagi". Jawab sang prajurit.
"Maafkan aku yang telah meminta terlalu berlebihan kepada tuan". Ucap sang pemimpin.
"Baiklah! Ayo kita pergi untuk menemui beberapa pendekar bebas yang ada di kota ini yang sudah memiliki kultivasi yang jauh berada diatasKu". Ajak sang prajurit.
"Bagaimana denganKu?". Tanya sang pemandu penasaran.
"Oh, iya! Maaf karena telah melupakan keberadaan tuan".
"Sepertinya kami sudah tidak membutuhkan lagi jasa dari tuan, sebab kami sudah mendapatkan orang yang tepat untuk mendapatkan tujuan kami di kota ini".
"Terima kasih tuan! Terima kasih tuan! Bayaran ini tentunya sudah lebih dari cukup! Sekali lagi terima kasih atas kebaikan tuan". Tutur sang pemandu.
Kini mereka pun mengikuti sang prajurit untuk mengantarkan mereka ketempat dimana beberapa pendekar bebas berada.
Mereka pun di pertemukan dengan beberapa pendekar bebas sesuai dengan apa yang dijanjikan oleh prajurit itu.
Dari puluhan orang pendekar bebas, hanya dua orang pendekar bebas yang mau menerima tawaran yang diberikan oleh pemimpin pasukan Api Angin itu.
Dan keduanya memiliki tingkat kultivasi sebagai seorang pendekar raja dewa awal dan menengah.
Adapun pendekar lainnya yang menolak tawaran itu di karenakan mereka tidak ingin ikut campur dalam dunia politik yang bisa merenggut nyawa banyak orang.
Sedangkan dua orang pendekar yang menerima tawaran itu, karena keduanya ingin juga merasakan tantangan baru di wilayah daratan besar tersebut.
Dengan tingkat kultivasi dari semua pendekar yang mereka temui di kota itu, sang pemimpin pasukan Api Angin merasa terkagum - kagum dengan tingkat kultivasi yang dimiliki oleh para pendekar di kota itu.
Sehingga, setelah mereka meninggalkan kota itu dan hendak melanjutkan pencarian mereka ke kota yang lain, sang pemimpin pun bertanya kepada kedua pendekar yang saat ini telah mengikuti mereka.
"Tuan! Apakah aku boleh bertanya?". Ucap sang pemimpin.
"Iya! Apa yang ingin anda tanyakan?". Pendekar itu mengiyahkan.
__ADS_1
"Tuan! Mengapa tingkat kultivasi para pendekar yang kami temui semuanya memiliki kultivasi yang tinggi?".
"Bukankah hanya di Benua Tengah saja yang bisa memiliki kultivasi setinggi itu!?". Tutur sang pemimpin bertanya dengan penasaran.
"Ada banyak hal yang tidak di ketahui oleh para pendekar dari wilayah lain, dan salah satunya mengenai tingkat kultivasi para pendekar yang ada di wilayah kekaisaran kami".
"Memang jika seseorang bukanlah keturunan asli bangsa kami, mereka tidak bisa memiliki kultivasi seperti kita saat ini".
"Mengapa bisa begitu? Serta apa alasannya?". Tanya sang pemimpin penasaran.
"Hal itu karena kami adalah keturunan dari 3000 pasukan yang berasal dari kota Dewa".
"Apa? Kota Dewa?". sang pemimpin merasa terkejut mendengar penjelasan seorang pendekar raja dewa.
"Apakah kota itu di huni oleh para dewa?". Lanjutnya lagi bertanya.
"Iya! Di kota itu semuanya adalah para dewa".
"Mereka semua berasal dari dunia atas yang dipimpin oleh dewa Tian Hanung".
"Apakah tuan pendekar mengetahui letak kota Dewa itu?". Tanya sang pemimpin lagi.
"Tidak! Kami tidak mengetahui letak kota Dewa itu".
"Hal itu karena kami bukan keturunan asli para Dewa".
"Tuan! Semakin anda menjelaskan, semakin aku merasa tidak mengerti". Tutur pemimpin menanggapi.
"Kami memang keturunan para dewa, akan tetapi leluhur kami itu adalah manusia dan dewa".
"Sehingga bisa dikatakan kami ini adalah manusia setengah dewa". Tutur pendekar itu menjelaskan.
"Oh...jadi seperti itu yah!?".
"Baiklah! Sekarang ini aku sudah mengerti mengapa kalian bisa memiliki kultivasi yang tinggi seperti ini".
"Jadi tingkat tertinggi para pendekar yang adalah manusia biasa seperti apa?". Tutur sang pemimpin bertanya lagi.
"Tingkat kultivasi tertinggi mereka hanya berada di tingkat Pendekar Langit awal". Jawab salah satu pendekar.
"Mengapa hanya bisa seperti itu?". Tanya pemimpin.
"Karena untuk menyerap energi Qi di dunia ini saat berkultivasi, kualitas mereka tidak sama dengan kami".
"Bisa di katakan, kami sepuluh kali lebih banyak untuk menyerap energi Qi yang ada didunia ini".
"Sehingga meski pun kami telah memberikan petunjuk kepada mereka bagaimana caranya menyerap energi Qi, namun hal itu tidak bisa membuat mereka meningkatkan tingkat kultivasi mereka dengan cepat".
Pendekar raja dewa itu terus memberikan penjelasan kepada sang pemimpin untuk menjawab rasa penasarannya.
__ADS_1
~Bersambung~