Pendekar Pemburu Yang Diburu

Pendekar Pemburu Yang Diburu
Bab 125. Menyewa Pembunuh Bayaran


__ADS_3

Pangeran menanyakan kebenaran informasi yang jenderal Wang sampaikan kepadaNya, tentang kemampuan aneh yang di miliki oleh pendekar di depannya.


"Iya pangeran! Apa yang jenderal Wang sampaikan itu adalah benar". Jawab pendekar tersebut.


"Oh...jadi seperti itu yah! Siapa namaMu? Dan dari mana asalMu?". Tanya sang pangeran lagi.


Pendekar itu pun memperkenalkan namanya, yaitu Ki Kebo Pengging dan berasal dari sebuah wilayah daratan yang berada jauh di sebelah tenggara kerajaan Qi.


Setelah mendengar penjelasan dari sang pendekar, pangeran kini memahami bahwa pendekar tersebut berasal dari tempat yang jauh dan tempat tersebut adalah tempat yang belum di dengar atau pun di ketahui olehnya.


"Apakah kamu bisa mendemonstrasikan hal tersebut?". Tanya Pangeran.


"Hal yang mana yang harus di demonstrasikan?". Tanya Ki Kebo Pengging.


"Anggota tubuh yang terpisah dari tubuh bisa menyatuh kembali". Ucap pangeran penuh harap.


"Baiklah! Aku akan membuktikannya, bahwa hal itu benar adanya". Ucap sang pendekar sambil menebas lengan kirinya hingga putus dan jatuh ketanah.


Setelah selesai menebas lengan kirinya, tiba - tiba lengan kiri tersebut bereaksi seperti magnet tertarik dan kembali menyatu dengan tubuhnya.


Mata pangeran langsung melotot memandang apa yang baru saja terjadi di depan matanya.


Pangeran merasa tidak percaya, dengan apa yang baru saja dilihatnya.


"Mengapa bisa seperti itu? Apakah itu bisa di latih oleh sembarang orang?". Tanya pangeran dengan penuh harapan.


"Di wilayah kami, ini di sebut sebagai ilmu kanuragan atau juga biasa di sebut sebagai ajian, dan hal ini tidak bisa di turunkan kepada sembarang orang". Ucap sang pendekar.


"Apakah dengan kemampuanMu ini bisa mengalahkan seorang pendekar suci tingkat puncak?". Tanya pangeran.


"Tingginya gunung tidak dapat kita ketahui, jika gunung tersebut tidak kita daki". Ucap sang pendekar.


"Apa maksud dari kata - kata pendekar tersebut?". Tanya pangeran karena tidak mengerti dengan apa yang pendekar itu sampaikan.


"Sebelum aku menghadapinya, mana bisa aku mengatakan bisa atau tidak bisa mengalahkan seorang pendekar suci atau apa pun tingkatannya". Ucap sang pendekar.


"Oh, jadi seperti itu yah!?". Ucap pangeran.

__ADS_1


"Tetapi sebelumnya hamba ingin bertanya kepada pangeran. Berapa bayaran yang akan aku terima jika aku bisa menangkap atau membunuhnya?". Tanya sang pendekar.


"Aku akan memberikan lima ribu koin emas kepadaMu!". Ucap pangeran.


Mendengar jumlah bayaran yang akan di terimanya, mata Ki Kebo Pengging langsung berbinar - binar dengan senyuman yang penuh semangat untuk secepatnya ingin menyelesaikan misi yang akan di embannya.


"Siapa yang akan aku bunuh serta dimana tempat tinggalnya?". Tanya Ki Kebo Pengging.


"Namanya adalah Ma Guang! Dan tempatnya berada di sekte Bambu Kuning!". Ucap pangeran.


"Apa? Ma Guang? Bukankan itu nama seorang pemuda yang menjadi seorang jenderal di kerajaan Qi ini!? Kenapa harus membunuhnya?". Tanya Ki Kebo Pengging yang merasa tidak percaya dengan perintah sang pangeran.


"Iya! Memang dialah orangnya....aku ingin menyelesaikan permasalahan yang akhir - akhir ini sedang terjadi di wilayah kerajaan Qi ini". Jawab pangeran.


"Bukankah menurut rumor yang beredar, dia sendiri yang menyebabkan hal itu?". Gumam Ki Kebo Pengging di dalam hatinya.


"Oh...jadi seperti itu yah! Baiklah, aku menerima tawaran ini, dan aku juga membutuhkan pembayaran sepuluh persen dari bayaran keseluruhan sebagai bekal saat di tengah perjalanan". Ucap pendekar itu.


Pangeran pun langsung memerintahkan kepada jenderal Wang Xuesi untuk mengambil koin emas yang di tentukan oleh Ki Kebo Pengging.


"Karena saking bencinya sehingga pangeran ini terlihat sangat bodoh, uang sebanyak ini bisa di berikan begitu saja kapadaKu". Gumam Ki Kebo Pengging di dalam hatiya.


"Berikan uang itu kepadaNya! Dan jangan sampai kamu mengecewakan kami!". Ucap Pangeran.


"Pangeran! Jika hamba mengecewakan, itu pertanda nyawaKu sudah tidak tertolong lagi". Ucap Ki Kebo Pengging sambil tersenyum.


Jenderal Wang langsung memberikan koin emas kepada Ki Kebo Pengging, dan langsung di terima oleh pendekar tersebut.


Ki Kebo Pengging akhirnya pamit undur diri dan kembali ke tempat penginapan yang dirinya singgahi sebelumnya.


Sedangkan pangeran dan juga jenderal Wang tetap melanjutkan percakapan mereka.


Di wilayah perbatasan antara kerajaan Lu dan juga kerajaan Qi, kini mulai terlihat ada pergerakan dari para prajurit kerajaan Lu untuk memprovokasi para prajurit kerajaan Qi yang sedang melakukan patroli di perbatasan wilayah tersebut.


Walau pun kerajaan Lu lebih kecil wilayahnya dari kerajaan Qi, namun kekuatan tempur pasukan kerajaan Lu tidak bisa di pandang sebelah mata, sebab peralatan tempur pasukan kerajaan tersebut sangatlah kuat, sehingga pasukan kavaleri mereka sangat sulit untuk di taklukan.


Sedangkan pasukan kerajaan Chu sendiri, juga melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh pasukan kerajaan Lu, mereka mulai berani melakukan provokasi bagi pasukan penjaga perbatasan kerajaan Qi.

__ADS_1


Hal itu di sebabkan oleh karena permasalahan yang ada di kerajaan Qi yang sudah tersebar dengan cepat ke kerajaan - kerajaan yang berada di sekitarnya.


Berbeda halnya dengan kerajaan Lai, kerajaan tersebut tidak melakukan hal yang sama dengan kedua kerajaan yang lain, itu karena kekuatan pasukan mereka yang berkurang banyak saat terjadi pertempuran sebelumnya.


Ma Guang sendiri kini telah mempersiapkan pasukannya untuk menghadapi kemungkinan terburuk yang akan di lakukan oleh sang raja.


Sedangkan bagi para petinggi di sekte Bambu Kuning, kini mulai meningkatkan kemampuan mereka.


Ki Kebo Pengging akhirnya melakukan perjalanan dari ibu kota kerajaan Qi untuk menuju ke tempat dimana Ma Guang berada.


Di Sekte Bambu Kuning.


Ma Guang kini berada di kediaman tetua Duan.


Ada beberapa orang yang sedang duduk bersama dengannya.


Xia Jiao, Yuan Jiali, tetua Duan Dazhong, Duan Jun, Duan Meng, Zhou Lu Yun dan Tjia Annchi serta Jia Dawei.


Mereka sedang mendengarkan apa yang di sampaikan oleh Ma Guang tentang kemungkinan situasi yang akan terjadi nanti.


Mendengar apa yang di jelaskan oleh Ma Guang, Zhou Lu Yun langsung angkat bicara.


"Pendekar Ma! Bagaimana jika hal ini aku sampaikan saja kepada yang mulia kaisar? Agar supaya pendekar Ma bisa mendapatkan bantuan".


"Tuan putri! Keadaan politik di ibu kota kekaisaran saat ini sedang tidak stabil, sehingga permasalahan ini hanya akan menambah beban di pikiran Yang Mulia Kaisar". Ucap Ma Guang.


"Tuan putri bisa melihat sendiri bagaimana tanggapan dari kekaisaran saat beberapa kerajaan sering terjadi gesekan mau pun pertempuran, apakah Yang Mulia Kaisar turun tangan untuk menyelesaikannya? Hal itu tidak di lakukan oleh Yang Mulia Kaisar, sebab yang awalnya kerajaan - kerajaan yang ada di wilayah kekaisaran itu hanyalah berbentuk sebuah kadipaten yang di pimpin oleh seorang adipati yang di tunjuk sendiri oleh Kaisar, baik yang berasal dari keluarga kaisar sendiri, mau pun karena prestasi mereka. Namun kini mereka semua sudah mengukuhkan setiap wilayah yang mereka kuasai tersebut menjadi suatu kerajaan. Jadi situasi ini tidak perlu kita laporkan kepada Yang Mulia Kaisar". Lanjut Ma Guang.


"Benar Tuan Putri! Apa yang di katakan Guang'er tersebut, adalah kenyataan yang terjadi saat ini di wilayah kekaisaran kita". Ucap tetua Duan Dazhong membenarkan perkataan Ma Guang.


Mendengar apa yang di katakan oleh Ma Guang, putri Zhou Lu Yun hanya menganggukan kepalanya dengan perlahan.


"Bagaimana dengan keluargaKu yang juga sebagai salah satu pilar di kerajaan Qi ini? Apakah bisa membantu pendekar Ma?". Ucap Tjia Annchi.


"Sebenarnya keluarga nona Tjia akan sangat membantu jika kepala keluarga Tjia tidak sejalan dengan cara berpikir raja dan juga pangeran, akan tetapi hal itu belum bisa untuk di pastikan juga, sebab keluarga bangsawan Tjia pasti akan berpikir keras agar bisa membantu kita". Ucap Ma Guang.


~Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2