Pendekar Pemburu Yang Diburu

Pendekar Pemburu Yang Diburu
Bab 181. Juan Jiali Ngambek


__ADS_3

Ma Guang tiba di kediaman Su Tian untuk membuat gurunya itu bisa memiliki energi unsur api didalam dirinya.


Agar supaya gurunya tersebut, bisa membuat sebuah pil dengan kualitas tingkat tinggi.


"Guang'er...!!! Apa ada hal baru yang kamu temukan?". Tanya Su Tian dengan wajah yang ceria saat melihat kedatangan muridnya itu.


Su Tian tidak perna berbasa basi jika dirinya bertemu dengan Ma Guang, apa lagi jika pemuda itu mendatanginya.


Sudah pasti ada hal baru yang akan dia tunjukkan kepada gurunya itu, dan semua itu pasti berhubungan dengan ramuan obat - obatan untuk membuat suatu pil.


"Iya guru...!!! Aku menemukan jamur api yang berusia ribuan tahun". Ujar Ma Guang.


"Apa? Jamur api yang berusia ribuan tahun? Apakah aku tidak sedang bermimpi? Apakah di tempat itu kamu menemukan juga sosok makhluk spiritual?".


Beberapa pertanyaan yang langsung di lontarkan oleh Su Tian secara beruntun karena merasa terkejut dengan apa yang di katakan oleh Ma Guang.


"Iya guru! Memang tempat dimana aku menemukan jamur api ini, di diami oleh seekor makhluk surgawi dengan wujud seekor singa berkepala tiga".


Ucap Ma Guang sambil mengeluarkan beberapa tanaman sumber daya yang lain yang dia temukan di dunia dewa surgawi.


Mata Su Tian langsung terbelalak saat melihat sumber daya yang di keluarkan oleh Ma Guang tersebut.


Namun keterkejutannya itu bukan hanya karena melihat sumber daya yang di keluarkan oleh Ma Guang, tetapi dari mana semua itu di ambil oleh pemuda itu.


Karena semua ramuan tersebut muncul begitu saja dari udara.


"Guang'er...!!! Apakah cincin di jariMu itu adalah cincin ruang?". Tanya Su Tian dengan perasaan tidak percaya.


"Iya guru! Aku menemukan cincin ini di goa yang sama dimana aku menemukan jamur api ini". Jawab Ma Guang.


"Ternyata cincin ini benar - benar ada, aku pikir cincin ini hanya sebuah mitos yang tidak bisa di buktikan kebenarannya".


Su Tian tidak henti - hentinya di buat terkagum - kagum oleh muridnya itu, sehingga pria paruh baya itu tidak bisa bernapas selama beberapa detik karena merasa tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"Guang'er! Semua aku pikir hanya jamur api yang berusia ribuan tahunyang kamu temukan, ternyata semua sumber daya yang lain juga sudah berusia ribuan tahun".


"Kita bisa membuat pil dengan khasiat yang sangat tinggi, dan jika pil yang di hasilkan dari semua sumber daya ini kita jual, harganya bisa mencapai ribuan koin emas". Ujar Su Tian.


"Guru! Aku akan memberikan inti jiwa api dari makhluk spiritual yang aku temukan kepada guru, agar supaya guru bisa memiliki unsur energi api".


Su Tian langsung kembali di buat terkejut dengan perkataan muridnya itu.


Pria tua itu hanya bisa menganggukkan kepalanya setelah mendengar apa yang Ma Guang katakan.


Ma Guang pun langsung mengajak gurunya untuk pergi bermeditasi di tempat yang tepat saat menyatukan inti jiwa dari semut api yang akan diberikannya kepada Su Tian.

__ADS_1


Keduanya langsung mengambil sikap bermeditasi, Ma Guang langsung mengeluarkan inti jiwa dari semut api dan mulai menyatukannya dengan tubuh Su Tian.


Proses tersebut di kendalikan oleh energi api milik Ma Guang agar tidak menyakiti serta membunuh gurunya tersebut.


Saat inti jiwa semut api itu di salurkan dan masuk ke dalam tubuh Su Tian, tubuh pria itu langsung bergetar karena merasakan energi yang begitu kuat memasuki tubuhnya.


Ma Guang dengan berhati - hati terus menyatukan inti jiwa itu dengan tubuh Su Tian.


Setelah tubuh seluruh titik meridian Su Tian sudah bisa menerima energi inti jiwa semut api, Ma Guang langsung memasukkan inti jiwa tersebut di kedua ruang dantian milik Su Tian.


Ledakan energi langsung meledak ledak saat sudah berada di dalam ruang dantian milik Su Tian.


Ma Guang langsung menginstruksikan kepada Su Tian untuk membuka setiap gerbang miliknya sampai energi tersebut bisa di kendalikan oleh gurunya itu.


Su Tian pun langsung mengikuti apa yang di instruksikan oleh muridnya itu.


Ma Guang kemudian meninggalkan gurunya itu untuk membuka setiap gerbang pendekar suci yang masih tertutup agar konsentrasi gurunya tidak terganggu.


Pemuda itu langsung melesat menuju ke kediaman Yuan Jiali.


Setelah tiba di depan sebuah bangunan yang sederhana, Ma Guang langsung di sambut dengan penuh hormat oleh dua orang murid yang berjaga dan langsung mempersilahkannya untuk masuk.


Ma Guang langsung melangkah masuk ke bangunan sederhana itu.


Yuan Jiali langsung menyambutnya dengan senyuman, namun senyumannya tidak semanis biasanya.


"Nona Yuan! Apakah ada hal yang membuat diriMu merasa sedih?". Tanya Ma Guang penasaran.


Gadis itu hanya diam tidak menjawab atau menanggapi pertanyaan dari Ma Guang.


Pemuda itu pun kembali menanyakan hal yang sama untuk kedua kalinya.


"Iya! Memang ada hal yang membuat diriKu merasa sedih". Jawab Yuan Jiali dengan nada suara yang ketus.


"Kalau aku boleh tahu, hal apa yang membuat nona Yuan merasa sedih?". Tanya Ma Guang lagi yang masih penasaran.


"Tanyakan saja pada diriMu sendiri". Ucap Yuan Jiali.


"Kenapa harus bertanya kepada diriKu sendiri? Apakah aku telah mengganggu waktu dari nona Yuan?". Ucap Ma Guang dengan bingung.


"Bukan kehadiranMu disini yang membuat aku sedih, tetapi hal yang kamu lakukan sebelum ke kediaman guru Su Tian yang membuatKu sedih". Ujar Yuan Jiali dengan nada suara yang meninggi dan terdengar parau.


Pikiran Ma Guang kembali langsung mengingat hal yang di lakukannya sebelum kerumah Su Tian.


Akhirnya dia mengingat bahwa Yuan Jiali kini sudah menjadi seorang pendekar suci tingkat puncak, sehingga dirinya bisa mengawasi wilayah sekte dengan kekuatan mata ketiga miliknya.

__ADS_1


Jadi, apa yang di lakukan olehnya di kediaman putri Zhou Lu Yun sudah tentu dapat di ketahui oleh Yuan Jiali.


Pemuda itu langsung tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kenapa kamu tersenyum? Apakah kamu mengejekKu?". Ujar Yuan Jiali dengan raut wajah yang tidak bersahabat.


"Aku ini adalah seorang pelindung sekte, kenapa dalam sehari diriKu menjadi bulan - bulanan oleh dua orang gadis? Seakan - akan tidak ada rasa hormatnya sama sekali". Gumam Ma Guang yang dengan sengaja menaikkan volume suaranya agar di dengar oleh Yuan Jiali.


Perkataannya itu bertujuan untuk membuat gadis yang sedang mengocehnya menjadi tertawa.


Yuan Jiali yang mendengar tutur kata dari Ma Guang langsung menahan senyumnya dan langsung mencari alasan yang lain untuk memarahi pemuda itu.


"Jadi, karena kamu adalah seorang pelindung sekte, kamu bisa seenaknya untuk mempermainkan hati seorang wanita? Begitu?". Ujar Yuan Jiali lagi.


Ma Guang tetap tidak menanggapi perkataan Yuan Jiali, pemuda itu terus bergumam.


"Padahal, maksud kedatanganKu untuk memberikan sesuatu yang istimewa kepadanya, tetapi mungkin waktunya belum tepat, sehingga kedatanganKu hanya untuk mendengar ocehannya".


"Sangat sial nasibKu hari ini". Gumam Ma Guang.


"Sial kataMu...!? Terus hubunganMu dengan tuan putri itu adalah hal yang sial bagiMu!? Baiklah, kalau begitu aku akan memberitahukan kepada tuan putri apa yang kamu katakan itu". Ujar Yuan Jiali yang langsung berjalan untuk pergi dari kediamannya.


"Iya...iya...iya...aku merasa bersalah jadi tolong maafkan aku dan jangan memberitahukan hal itu kepada tuan putri, sebab kalian semua adalah wanita yang sangat aku sukai dan yang sangat aku sayangi, jadi aku tidak ingin membuat kalian merasa bersedih". Ucap Ma Guang sambil memengang salah satu tangan Yuan Jiali.


"Apa kamu bilang? Kamu tidak ingin membuatKu bersedih? Buktinya, kamu baru saja membuatKu bersedih". Ucap Yuan Jiali menimpali perkataan Ma Guang.


"Iya! Anggap saja seperti itu! Tetapi aku! sebagai pendekar Ma, datang kesini untuk membuatkan sesuatu, untuk membuat nona Yuan menjadi senang".


"Jadi maafkanlah pendekar Ma ini yang sudah menjadi 'kamu' seperti yang nona Yuan sebutkan".


Ma Guang mengatakan hal itu sebagai candaan untuk kembali membuat Yuan Jiali tersenyum.


Mendengar apa yang di katakan pemuda itu, Yuan Jiali langsung tersenyum sambil wajahnya dibuat terlihat semakin imut.


Setelah terdiam beberapa saat kemudian, akhirnya gadis itu kembali bersuara.


"Baiklah! Aku memaafkan diriMu, tetapi kamu harus juga berjanji kepadaku untuk membuat posisiku menjadi seperti tuan putri". Ucap Yuan Jiali dengan nada suara yang manja.


"Iya! Aku berjanji untuk memberikan posisiMu seperti tuan putri".


"Padahal, menurutKu sebelum berjanji saja, posisi nona Yuan sudah seperti posisi dari tuan putri". Ujar Ma Guang sambil tersenyum.


"Tidak! Aku merasa tidak seperti itu, sebab sebutan untukku masih tetap seperti yang dulu". Ucap Yuan Jiali sambil memanyunkan bibirnya.


"Baiklah! Kalau begitu aku akan memanggilMu dengan sebutan 'Li'er' saja...bagaimana!?". Ujar Ma Guang.

__ADS_1


~Bersambung~


__ADS_2