
Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka tiba di depan suatu bangunan yang terlihat sangat megah.
" Silakan tuan - tuan." Ucap prajurit itu
Patriak Yao Han dan Ma Guang langsung memasuki bangunan tersebut.
Setibanya di dalam, Kaisar Zhou Muwang dan juga putrinya telah menunggu kedatangan kedua orang tersebut.
" Hamba memberi hormat kepada yang mulia." Ucap Patriak dan Ma Guang.
" Silakan duduk." Ucap Kaisar.
Mendengar apa yang di katakan oleh Kaisar, akhirnya kedua orang tersebut langsung duduk.
" Ada hal penting apa sehingga Yang Mulia mengundang hamba secara pribadi seperti ini?." Tanya patriak.
" Begini, putri Ku Zhou Lu Yun ingin menjadi murid di sekte Mu." Ucap Kaisar.
Patriak Yao Han langsung terkejut mendengar hal itu, dan berpikir keras jika putri Kaisar berada di sektenya.
Apa lagi politik negara saat itu sedang tidak baik.
" Hamba mohon ampun Yang Mulia, tetapi sekte hamba tidak terlalu kuat untuk menerima tuan putri Zhou Lu Yun, jika hal itu di ketahui oleh pihak yang tidak sejalan dengan Yang Mulia, pasti mereka akan mengutus banyak orang untuk mendapatkan tuan putri." Ucap patriak.
" Patriak Yao! Hal itu sudah aku pikirkan sejak awal, putri Ku akan pergi bersama dengan rombongan Mu tanpa sepengetahuan siapa pun selain kita yang ada saat ini." Ucap Kaisar.
" Oleh karena itu, saya memberikan tanggung jawab untuk menjaga dan merahasiakan status putri Ku kepada Patriak dan juga kepada Guang'er." Ucap Kaisar lagi.
" Hamba bersedia untuk melakukannya." Ucap Patriak dan Ma Guang secara serentak.
" Baiklah, kalau begitu, malam ini putri Ku akan menuju ke kediaman sekte Bambu Kuning, agar di saat besok pagi, rombongan kalian akan kembali ke sekte, putri Ku sudah bersama - sama dengan rombongan kalian." Ucap Kaisar lagi.
" Yun'er! Persiapkan dirimu untuk pergi bersama Patriak Yao dan Guang'er." Ucap Kaisar kepada putrinya.
Akhirnya gadis cantik itu beranjak dan berjalan menuju ke dalam kamar untuk mempersiapkan dirinya.
Setelah beberapa saat kemudian, terlihat tiga orang berjalan keluar dari bangunan megah tersebut dan berjalan menuju ke kediaman sekte Bambu Kuning.
Salah satu di antara ketiga orang tersebut menggunakan tudung dan cadar.
Setibanya di kediaman sekte Bambu Kuning, Patriak langsung mengarahkan gadis tersebut ke salah satu kamar untuk di tempatinya.
" Tuan Putri! Mohon maaf jika anda harus tidur di tempat ini." Ucap Patriak.
" Patriak! Saya mohon untuk memperlakukan saya seperti murid - murid sekte pada umumnya, agar tidak menarik perhatian orang lain." Ucap sang Putri.
" Baik, kalau begitu hamba akan memanggil tuan putri dengan Yun'er saja." Ucap patriak.
" Iya, panggil aku dengan nama Ku saja."
__ADS_1
Keesokan harinya, rombongan dari Pangeran serta nona Tjia, sudah berada di depan kediaman sekte Bambu Kuning.
Akhirnya setelah rombongan dari sekte Bambu Kuning telah siap, mereka langsung melakukan perjalanan.
Di dalam rombongan tersebut terlihat ada dua kereta kuda. Di dalam kedua kereta kuda tersebut, tidak lain adalah Pangeran dan nona Tjia.
Patriak Yao Han sedang berada di dalam kereta kuda milik Pangeran untuk mendampingi pemuda tersebut.
Hal itu di mintakan langsung oleh Pangeran.
Sedangkan untuk nona Tjia, hanya dirinya dan juga pelayan perempuannya yang berada di dalam kereta kuda tersebut.
Namun Ma Guang, Duan Jun, tetua Ying Zhao dan juga putri Kaisar berjalan dengan menunggangi kuda mereka masing - masing di samping kereta milik nona Tjia.
Tuan putri sendiri selalu berada di dekat Ma Guang.
Akhirnya rombongan tersebut meninggalkan kota Louyang yang adalah ibu kota Kekaisaran.
Awalnya tetua Ying Zhao dan Duan Jun memang menanyakan tentang kehadiran sang putri.
Tetapi Patriak dan juga Ma Guang menjelaskan, bahwa gadis tersebut adalah putri dari salah satu prajurit senior di Kekaisaran yang tertarik untuk menjadi murid di sekte mereka.
Mendengar penjelasan dari Patriak dan juga dari Ma Guang, kedua orang tersebut akhirnya percayah.
Ma Guang di percayahkan oleh Patriak untuk menjaga putri Kaisar.
Setelah sehari perjalanan, akhirnya mereka beristirahat dan membuat dua tenda untuk pangeran dan putri Tjia.
Malam itu menjadi malam pertama buat putri Kaisar dalam merasakan hidup yang berbalik 180 derajat dari kehidupannya selama ini.
Gadis cantik itu tidur di hutan hanya dengan mengunakan batang pohon sebagai sandarannya.
Seorang pengawal nona Tjia datang untuk memanggil Ma Guang.
" Pendekar Ma! Nona meminta anda untuk pergi ke tendanya." Ucap pengawal tersebut.
" Baiklah." Ucap Ma Guang.
Ma Guang lalu berdiri sambil tangannya meraih tangan putri Kaisar agar mengikutinya.
Putri Kaisar pun langsung mengikuti Ma Guang dari belakang.
Setelah tiba di tenda milik nona Tjia, akhirnya Ma Guang di persilahkan untuk masuk.
Saat putri ingin mengikuti Ma Guang untuk masuk, seorang pengawal mencegahnya.
" Maaf! Anda tidak bisa masuk." Ucap pengawal tersebut.
Ma Guang yang melihat serta mendengar apa yang di katakan oleh pengawal tersebut, akhirnya mengurungkan niatnya untuk masuk dan berbalik untuk kembali ke tempat sebelumnya.
__ADS_1
Setelah pengawal keluarga Tjia melihat Ma Guang tidak jadi masuk ke tenda dan langsung berbalik. Pengawal tersebut langsung mencoba untuk mencegahnya.
" Pendekar Ma! Kenapa anda tidak jadi untuk masuk?." Ucap pengawal tersebut.
" Itu karena kamu melarang gadis ini untuk masuk bersama Ku." Ucap Ma Guang sambil berjalan dan di ikuti oleh putri yang berada di sampingnya.
" Mohon maaf pendekar Ma! Tetapi sesuai dengan perintah yang nona Tjia berikan, hanya pendekar Ma yang di ijinkan untuk masuk." Ucap pengawal itu lagi.
" Kalau begitu, aku juga punya hak untuk menolak panggilan nona Tjia tersebut, dan saya meminta kepada anda, untuk tidak mengganggu diri Ku lagi...kamu mengerti? Sampaikan juga kepada nona Tjia apa yang aku sampaikan tadi." Ucap Ma Guang dengan nada suara yang tegas.
Mendengar hal itu, pengawal tersebut langsung menghentikan langkahnya dan kembali ke tenda nona Tjia untuk memberitahukan apa yang terjadi.
Setelah pengawal itu menjelaskan apa yang terjadi, nona Tjia langsung memarahi pengawal tersebut.
" Mengapa kamu melakukan hal itu? Kamu sudah menyinggung hati dari pendekar Ma." Ucap nona Tjia dengan nada suara yang marah kepada pengawal itu.
" Biar aku saja yang pergi untuk menemuinya." Ucap nona Tjia sambil berdiri dan melangkahkan kakinya untuk menuju ke tempat Ma Guang berada.
Saat tiba di hadapan Ma Guang, nona Tjia langsung menyapa lelaki tersebut.
" Maafkan atas kelancangan dari pengawalku yang telah menyinggung hati pendekar Ma." Ucap gadis tersebut.
Melihat apa yang di lakukan oleh nona Tjia, putri Kaisar langsung mengerti kenapa hal itu di lakukan oleh nona Tjia.
" Ternyata gadis ini menyukai Ma Guang juga." Gumam putri Kaisar di dalam hatinya.
Sedangkan Ma Guang tidak menyangka dengan kehadiran nona Tjia sehingga bisa datang ketempatnya berada.
" Nona Tjia, maafkan juga jika aku sudah menolak undangan Mu tadi." Ucap Ma Guang sambil menangkupkan tangannya.
Mendengar apa yang di sampaikan oleh Ma Guang, nona Tjia langsung tersenyum dan berkata.
" Pendekar Ma! Apakah aku boleh duduk juga disini?." Tanya Tjia Annchi.
Silakan, jika itu yang nona Tjia inginkan." Jawab Ma Guang.
Akhirnya gadis itu pun duduk di samping Ma Guang.
Gadis itu seakan tidak menganggap akan keberadaan dari putri Kaisar disitu.
Duan Juan juga tersentak saat melihat apa yang di lakukan oleh nona Tjia.
Pemuda tersebut merasa dirinya juga di abaikan oleh ketiga orang tersebut.
Sedangkan tetua Ying Zhao, kini lagi berada di dalam tenda pangeran bersama patriak dan juga Jenderal yang mengawal pangeran.
Malam itu pun berlalu.
Keesokan hariya, rombongan tersebut kembali melanjutkan perjalanan mereka.
__ADS_1
~Bersambung~