
Setelah ketiganya bertemu dengan Hao Dong, Jiangjun segera melaporkan hasil dari apa yang mereka lakukan serta mengutarakan maksud kedatangan serta rencananya untuk menjebak para perampok yang sering membuat resah kota Quwo.
Mendengar rencana yang diutarakan oleh Jiangjun, Hao Dong tidak lagi banyak berkomentar.
Penguasa kota Quwo itu segera menyetujuinya.
Akan tetapi ketiganya akan berangkat dan di antarkan oleh Hao Dong serta para jenderal kecil di kota itu besok hari saat pagi menjelang.
Dan malam itu akan diadakan jamuan makan untuk ketiganya sebelum mereka meninggalkan kota itu.
Rencana itu hanya di ketahui oleh mereka berempat, tidak ada lagi orang lain yang mengetahui rencana itu.
Malam itu, Hao Dong segera mengundang para bangsawan serta para jenderal di kota itu untuk makan dan minum bersama di aula utama kota.
Setiap undangan disampaikan kepada para bangsawan serta para jenderal, komandan yang mengantarkan undangan itu selalu di hujani dengan pertanyaan.
Sang komandan yang mengantarkan undangan itu pun menjawab setiap pertanyaan sesuai dengan apa yang di sampaikan kepadanya oleh Hao Dong.
Para bangsawan dan juga para jenderal langsung merasa sedih setelah mendengar maksud dari undangan itu.
"Mengapa mereka ingin meninggalkan kota ini disaat para perampok belum di berantas?".
"Para perampok itu pasti sudah mengetahui keberadaan Dewa Jiangjun dan juga keberadaan tuan Muda Ma serta nona Hong, sehingga mereka tidak berani untuk bertindak, namun jika mereka meninggalkan kota ini, para perampok itu pasti akan beraksi lagi".
"Mengapa mereka tidak sedikit menunggu sampai para perampok itu tertangkap?".
"Apakah mereka benar - benar sudah tidak mau lagi ikut campur tangan dengan masalah manusia di saat sudah menjadi seorang Dewa?".
"Sepertinya para perampok itu akan merayakan juga kepergian mereka bertiga dari kota ini".
Kata - kata yang keluar dari mulut para bangsawan dan juga para jenderal menanggapi rencana kepergian Jiangjun, Ma Tian Shen dan Hong Yilan.
Disaat sang komandan selesai mengantarkan undangan dan kembali menghadap Hao Dong, sang komandan pun segera melaporkan setiap pertanyaan serta tanggapan yang di lontarkan oleh para bangsawan dan juga oleh para jenderal
Setelah mendengar laporan dari sang komandan, Hao Dong langsung menanggapinya.
"Aku juga tidak bisa bersih kukuh untuk menahan mereka, sehingga hanya jamuan makan inilah yang bisa aku lakukan sebagai rasa hormat serta rasa terima kasihKu".
"Sebab, meskipun hanya satu malam dan juga satu hari, tetapi mereka juga sudah bersedia untuk membantu kita".
"Cepat siapkan semuanya untuk menjamu mereka!". Perintah Hao Dong.
"Baik". Jawab sang komandan dan dengan cepat meninggalkan ruangan tersebut.
Kini Jiangjun, Hong Yilan dan juga Ma Tian Shen sedang mempersiapkan strategi disaat jamuan makan nanti.
Jiangjun yang tidak ingin rencananya terbongkar, segera mengingatkan Ma Tian Shen agar tidak sembarang berkata saat berbicara dengan seseorang.
"Paman! Aku akan mengingat setiap pesan yang baru saja Paman sampaikan itu".
"Paman tidak perlu khawatir lagi kepadaKu, sebab aku tidak ingin lagi mendatangkan kesulitan bagi kita".
Kata - kata yang keluar dari mulut Ma Tian Shen dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
Perkataan serta sikapnya terlihat sangat meyakinkan.
Hong Yilan hanya bisa tersenyum mendengar perkataan ponakannya itu.
Sedangkan Jiangjun hanya bisa mengangguk seakan mempercayai apa yang baru saja remaja itu katakan.
Disaat remaja itu melihat Hong Yilan sedang tersenyum, dia pun berkata.
"Bibi! Apakah bibi tidak percaya dengan perkataanKu barusan!?". Tanya Ma Tian Shen.
"Shen'er, Bibi sangat mempercayaiMu, mana mungkin ponakanKu yang tampan ini tidak akan menepati setiap perkataan yang keluar dari mulutnya!?". Ucap Hong Yilan meyakinkan remaja itu.
"Aku tahu, Bibi pasti sangat mempercayaiKu". Sambung Ma Tian Shen sambil tersenyum membalas senyuman Hong Yilan.
"Ayo! Saatnya kita pergi ke aula utama balai kota untuk menghadiri jamuan yang disiapkan oleh Hao Dong". Ujar Jiangjun mengajak keduanya.
"Baiklah Paman". Jawab Ma Tian Shen yang langsung berdiri dan berjalan mengikuti Jiangjun dari belakang serta di temani Hong Yilan yang berjalan disampingnya.
Disaat ketiganya memasuki ruangan aula utama balai kota, semua yang hadir segera bersujud memberi hormat kepada mereka.
"Hormat kepada Dewa Jiangjun!".
"Hormat kepada Penguasa Muda!".
"Hormat kepada Penguasa Putri!".
"Silakan berdiri". Ucap Jiangjun.
"Dewa Jiangjun! Penguasa Muda! Penguasa Putri! Mari... silahkan".
Ucap Hao Dong menyambut kedatangan ketiganya dan segera mengantarkan mereka sampai ketempat yang telah di sediakan serta mempersilahkan mereka bertiga untuk duduk.
Setelah mereka bertiga duduk, semua yang hadir di dalam ruangan itu pun duduk juga.
Saat ketiganya memasuki ruangan aula utama sekte, sepasang mata yang melihat sosok mereka bertiga langsung terdiam seakan tubuh dan jiwanya tidak lagi menyatu.
"Ja...jadi...wanita itu adalah...!? Tidak! Itu tidak mungkin!". Pikir sosok yang merasa sangat terkejut disaat mengetahui identitas wanita cantik yang dia kejar sehari sebelumnya.
Sosok itu tidak lain adalah Feng Qi.
Melihat perubahan sikap putranya, kepala keluarga Bangsawan Feng Liu pun segera menepuk pundak pemuda itu.
"Apa yang terjadi dengan diriMu!?". Feng Liu langsung melontarkan pertanyaan setelah menepuk pundak putranya itu.
Feng Qi yang terkejut dengan apa yang ayahnya perbuat tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut.
Pemuda itu hanya bisa terdiam dan menatap ayahnya.
"Qi'er, apa yang terjadi pada diriMu!?". Feng Liu mengulangi pertanyaannya.
"Ayah! Sepertinya aku telah menyinggung orang yang salah". Jawab Feng Qi dengan nada suara seperti sedang berbisik.
"Kenapa...!? Apa yang telah kamu lakukan?". Tanya Feng Liu dengan tatapan yang sangat serius.
__ADS_1
"Kemarin karena aku tidak mengetahui identitas mereka bertiga, aku telah berusaha untuk menggoda wanita yang disebut sebagai Penguasa Putri itu". Feng Qi dengan perlahan menjelaskan.
Feng Liu bagaikan di sambar petir setelah mendengar penjelasan putranya.
Pria tua itu langsung merasakan tubuhnya seakan tidak memiliki tulang dan otot.
Sedangkan Feng Qi masih tetap terdiam dan seakan menginginkan agar jamuan makan tersebut segera berakhir.
Setelah beberapa saat kemudian, Feng Liu pun berkata.
"Bagaimana bisa sampai kamu tidak menggunakan mataMu itu untuk melihat!?".
"Apa yang akan mereka lakukan jika melihatMu?".
"Saat ini kamu benar - benar telah mendatangkan bencana bagi keluarga kita".
"Jika mereka melihat dan ingin menghukumMu, ayah tidak bisa berbuat apa - apa lagi".
Perkataan Feng Liu membuat Feng Qi pun merasa sangat ketakutan.
Keringat dingin pun mulai mengucur dan membasahi tubuhnya saat itu.
Hal itu pun segera di ketahui oleh mereka bertiga.
"Bibi Hong! Bagaimana jika kita mengerjai pemuda itu?". Usul Ma Tian Shen kepada Hong Yilan melalui kekuatan spiritualnya.
"Boleh juga ideMu itu...apa yang akan kamu lakukan?". Tanya Hong Yilan sambil tersenyum.
Saat Ma Tian Shen hendak berniat untuk mengejai Feng Qi, para penari sudah memasuki ruangan tersebut dan melakukan tarian mereka untuk menghibur para tamu yang ada di ruangan itu.
Remaja itu tidak bisa melanjutkan rencananya.
"Bagus...bagus!". Ucap Jiangjun sambil bertepuk tangan.
Hal itu di lakukan oleh Jiangjun agar fokus keduanya beralih untuk melihat tarian yang di suguhkan oleh para penari kota Quwo.
Ma Tian Shen yang melihat sikap Jiangjun merasa bingung dengan apa yang dilakukan oleh jenderal naga itu.
"Apa hebatnya tarian mereka itu?".
"MenurutKu gerakan tarian mereka biasa saja".
Gerutu Ma Guang yang bisa di dengar oleh Jiangjun.
Remaja itu tetap terus memberikan komentar miring untuk setiap gerakan yang di peragakan oleh para penari.
Hal yang sama juga yang dipikirkan oleh Hong Yilan.
Wanita itu merasa gerakan para penari itu biasa saja.
"Hentikan tarian itu...!!!". Teriak Ma Tian Shen.
~Bersambung~
__ADS_1