
Setelah Ma Guang tiba di sekte Bambu Kuning, dirinya langsung turun tepat di depan kediamannya.
Pemuda itu langsung melangkahkan kakinya untuk memasuki kediaman miliknya itu.
Setelah berada di dalam kamarnya, pemuda itu tidak henti - hentinya melihat semua harta yang berada di dalam cincin ruang miliknya.
Pemuda itu mulai berpikir untuk memindahkan sekte Bambu Kuning ke hutan yang baru saja dia tinggalkan itu.
Hal itu menurutnya akan membuat para murid di sekte tersebut akan bertambah kuat dengan cepat.
"Apakah patriak dan juga para leluhur akan menyetujui usulanKu ini?". Gumam pemuda itu.
"Lebih baik aku mencoba untuk memberitahukannya terlebih dahulu agar aku bisa mengetahui bagaimana tanggapan dari patriak dan juga para leluhur". Lanjutnya lagi sambil melangkah keluar meninggalkan kediamannya.
Saat dirinya baru saja keluar dari kediamannya, Ma Guang langsung berpas - pasan dengan putri Zhou Lu Yun.
"Ternyata ada benarnya juga apa yang selalu di katakan oleh nona Xia dan nona Yuan, ternyata aku terlalu memikirkan peningkatan kultivasiKu sehingga selalu melupakan hal - hal yang lain". Gumam Ma Guang sambil menepuk jidatnya.
Putri Zhou Lu Yun yang melihat apa yang di lakukan oleh Ma Guang, langsung tertawa geli, karena melihat tingkah konyol pemuda itu.
"Seorang pelindung sekte ternyata masih juga bisa bertingkah konyol seperti itu? Memang pemandangan yang sangat langka untuk di lihat". Ujar putri Zhou Lu Yun sambil tertawa.
Mendengar perkataan sang putri, wajah Ma Guang langsung memerah.
"He...he...he...he...pelindung sekte juga kan masih manusia, jadi masih wajar jika bisa bertingkah aneh". Balas Ma Guang menanggapi perkataan sang putri.
"Oh iya, beberapa minggu yang baru saja lewat, kenapa aku sama sekali tidak melihat keberadaan pendekar Ma?". Tanya sang putri.
"Aku pergi untuk mencari ramuan untuk membuat pil, dan aku sebenarnya baru saja kembali". Jawab Ma Guang.
"Oh, begitu rupanya". Ucap Putri Zhou Lu Yun singkat.
"Pendekar Ma! Para petinggi sekte kini sedang melakukan pertemuan di aula utama sekte untuk membahas keikut sertaan dalam kompetisi di ibu kota kekaisaran, apakah pendekar Ma tidak pergi juga kesana?". Ucap sang putri.
"Sesungguhnya saat ini aku akan pergi kesana, tetapi karena aku telah melihat tuan putri, sehingga aku ingin menanyakan tentang perjalanan kita untuk kembali ke ibu kota kekaisaran". Ucap Ma Guang.
"Kalau mengenai hal itu, aku menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada pendekar Ma saja". Jawab tuan putri.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi ke pertemuan di aula dahulu, dan setelah sudah selesai, aku akan datang untuk menemui tuan putri ". Ucap Ma Guang.
Tuan putri yang mendengar perkataan pemuda itu langsung mengiyahkannya dan kembali berjalan ke kediaman yang dia tempati.
__ADS_1
Sedangkan Ma Guang sendiri langsung melesat dengan cepat untuk menuju ke aula utama sekte.
Saat dirinya turun dan menginjakkan kakinya di tanah, pemuda itu langsung di sambut dengan penuh hormat oleh seorang murid sekte yang berjaga di pintu masuk aula utama serta langsung mempersilahkannya untuk masuk.
Pembicaraan semua orang di dalam ruangan iti langsung terhenti saat Ma Guang memasuki ruangan aula tersebut.
Semua mata menatap kearah Ma Guang dengan penuh tanda tanya, sebab pemuda itu baru terlihat lagi setelah sudah beberapa minggu berlalu.
Setelah beberapa saat mereka terdiam, akhirnya secara serentak mereka memberikan hormat kepada Ma Guang sambil berdiri.
Pemuda itu langsung menyuruh mereka semua untuk kembali duduk.
Setelah Ma Guang duduk di kursi yang telah di siapkan bagi dirinya, pemuda itu langsung menanyakan tentang hasil kompetisi yang di adakan oleh sekte dan juga siapa yang akan mewakili sekte untuk mengikuti kompetisi di ibu kota.
Patriak pun langsung menjelaskan apa yang Ma Guang tanyakan itu.
Setelah mendengar penjelasan dari patriak, Ma Guang pun mulai mengalihkan pembicaraan tentang rencananya untuk memindahkan sekte itu.
Menurut pemuda itu, hal tersebut akan membuat sekte mereka tidak bisa lagi di serang oleh sekte aliran hitam. Karena mereka sudah memindahkan sekte itu secara diam - diam sehingga tidak ada orang luar yang bisa mengetahui letak sekte tersebut.
Patriak dan juga para tetua langsung menyetujui usulan dari Ma Guang, karena mereka berpikir, pasti itu adalah tempat yang menguntungkan bagi mereka.
Para leluhur juga langsung menyetujui usulan Ma Guang tersebut, sebab tidak ada juga hal yang istimewa di wilayah sekte saat ini.
Setelah semuanya menyetujui usulan Ma Guang itu, akhirnya pemuda itu memberitahukan kepada patriak dan juga kepada leluhur agung Yao Han untuk memerintahkan kepada para tetua dan juga para murid untuk membereskan barang - barang mereka, agar beberapa hari kemudian Ma Guang akan membawa mereka ke tempat yang dia maksudkan.
Setelah selesai dengan hal itu, Ma Guang pun langsung pergi meninggalkan aula itu dan pergi untuk bertemu dengan tuan putri.
Ma Guang pun langsung memberitahukan kapan keduanya akan melakukan perjalanan untuk menuju ke ibu kota kekaisaran.
Ma Guang langsung terdiam setelah memberitahukan maksud kedatangannya itu kepada tuan putri.
Disaat dirinya mulai mengingat setiap perkataan yang di lontarkan oleh Xia Jiao dan juga Yuan Jiali.
Akhirnya pandangan matanya tertuju ke arah tuan putri.
"Ternyata tuan putri juga sangat cantik dan terlihat seperti seorang dewi yang turun dari kayangan". Gumam Ma Guang secara spontan.
Tanpa dia sadari, perkataannya itu di dengar oleh putri Zhou Lu Yun.
Wajah gadis itu langsung berubah menjadi merah merona karena tersipu malu saat mendengar perkataan Ma Guang.
__ADS_1
"Siapa pria yang begitu beruntung untuk bisa menjadi pendamping dirinya?".
"Pria itu pasti akan sangat merasa bersyukur serta berbahagia jika memiliki seorang istri secantik tuan putri".
Kata - kata yang keluar dari mulut Ma Guang yang di dengar oleh tuan putri tanpa pemuda itu sadari.
Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya pemuda itu tersadar dengan apa yang dia ucapkan.
"Apakah tuan putri mendengar ucapaKu barusan?". Tanya Ma Guang dengan perasaan yang bercampur aduk tidak menentu.
Putri Zhou Lu Yun hanya menganggukkan kepalanya dengan malu - malu menanggapi pertanyaan pemuda di depannya.
"Oh...eehhh...tolong maafkan aku, sebab tadi aku berpikir ucapanKu itu hanya di dalam hatiKu saja". Ujar Ma Guang dengan gelagapan.
Sambil menebarkan senyumannya yang manis sang putri pun menjawab perkataan dari Ma Guang.
"MenurutKu hal itu tidak menjadi masalah, asalkan perkataan pendekar Ma memang tulus keluar dari dalam hati".
"I...iya...memang semua ucapanKu itu tulus keluar dari dalam hatiKu". Tutur Ma Guang.
"Terus, bagaimana jika pria beruntung itu adalah pendekar Ma? Apa pendapat pendekar Ma?". Tanya putri yang juga menyukai Ma Guang namun tetap bisa untuk menutupinya sehingga tidak di ketahui oleh orang lain.
Mendengar ucapan tuan putri, pemuda itu langsung terdiam sejenak dan tiga sosok gadis langsung hadir di dalam benaknya.
"Apakah diriKu ini termasuk seorang pria yang serakah? Bagaimana mungkin aku bisa melakukan hal ini kepada empat orang gadis sekaligus. Aku tidak boleh egois, aku harus memilih salah satu di antara mereka". Gumam pemuda itu di dalam hatinya.
Putri Zhou Lu Yun langsung mengerti dengan tingkah laku pemuda yang berada di depannya itu.
"Kenapa pendekar Ma tidak bisa menjawabnya? Apakah itu karena pendekar Ma sedang memikirkan nona Xia, nona Yuan dan juga nona Meng?". Tutur sang putri.
Pemuda itu juga tidak bisa mengeluarkan sepata kata pun setelah kembali mendengar ucapan gadis di depannya.
Zhou Lu Yun langsung memahami hal itu, gadis itu langsung mengetahui bahwa pemuda di depannya itu sedang merasa dilema dengan pilihannya tersebut.
Putri Zhou Lu Yun sendiri sangat pintar dan juga terdidik, walau pun dirinya sangat menyukai Ma Guang, tetapi dia masih bisa menjaga wibawanya sebagai seorang putri.
Jika dirinya hanyalah orang biasa seperti ketiga gadis saingannya itu, pasti dirinya juga terus mengejar cinta dari Ma Guang.
"Tuan putri! Sebenarnya aku....".
~Bersambung~
__ADS_1